Kilas Tokyo
Kita Juga Bisa
Setiap saya bercerita bagaimana cara sukses Jepang melaksanakan sebuah program, selalu saja ada rekan di grup WhatsApp ragu nan pesimis.
Banyak lagi aturan tidak tertulis, lebih semacam norma dan etika. Ketika saya naik kereta pagi hari ke tempat kerja, kereta sangat penuh sesak tapi suasana sangat hening tanpa suara.
Penumpang memilih membaca buku, tidur, mendengarkan musik melalui headset.
Tiba-tiba terdengar dering keras nan membahana handphone, ternyata istri menelpon dan saya lupa mengeclkan volume telepon. Serentak banyak penumpang menatap tajam ke saya.
Tidak terlihat marah, seakan ingin memberi tahu agar tidak berisik dan segera mengecilkan suara handphone.
Lalu mengapa norma pun mereka taati secara teguh? Pertama, Saya merasakan betapa homogenitas masyarakat sangat kental.
Masyarakatnya berkembang lebih sebagai satu komunitas dibanding sebagai individu.
Seakan kewajaran untuk bertindak seirama segaris dan tidak menciptakan perbedaan dengan anggota komunitas lain. Semangat ini mulai terbina di pendidikan dasar.
Ketika dewasa terjun ke perusahaan dan masyarakat, semangat ini makin terpupuk dalam disiplin sistem kerja dan lingkungan. Jika anggota lain mentaati, tidaklah elok jika melanggar.
Jika seenaknya membuang sampah bukan jadwal harinya, sampah rumah anda ditempeli sticker menyolok ‘Sampah salah, tidak bisa diambil’.
Akan ketahuan tetangga bahwa anda adalah keluarga suka nyeleneh keluar dari aturan seenaknya.
Kedua, budaya menghargai kepentingan orang lain terasa sangat kental. Ini juga saya rasakan betapa berusaha distimulasi sejak pendidikan usia dini.
Dalam artian, pelanggaran norma diyakini mereka akan membuat kepentingan orang lain terganggu.
Ini salah satu alasan mengapa sekitar 70 hingga 80 persen kartu ID, ponsel atau dompet hilang di Tokyo bisa kembali kepada pemiliknya. Sifat selalu mengedepankan orang lain dibanding diri sendiri.
Mereka yang menemukan barang hilang umumnya segera membawa ke kantor polisi terdekat, karena mereka berusaha memahami posisi betapa paniknya orang kehilangan barang penting.
Bisakah kedua hal ini diwujudkan di negara kita? Bisa saja, why not? Tentunya jika dipupuk dari pendidikan dasar, plus pembarengan desain keteraturan sistem yang apik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muh-zulkifli-mochtar-1-2632022.jpg)