Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Kolong

Dalam konteks pemukiman orang-orang Sulawesi Selatan, dulu dan kini rumah panggung menjadi karakter tersendiri dalam pranata sosialnya.

Editor: Muh Hasim Arfah
dok Bawaslu Gowa
Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum atau Bawaslu Gowa, Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga, Juanto. 

Oleh Juanto Avol

Komisioner Bawaslu Gowa

KOLONG rumah panggung selalu jadi tempat nyaman bagi warga dari generasi ke generasi di desa.

Hunian kayu multi fungsi itu sebagai tempat berlindung, istirahat, bermain bahkan tak jarang sebagai gudang gabah dan kandang ayam di bawahnya.

Dalam konteks pemukiman orang-orang Sulawesi, dulu dan kini rumah panggung menjadi karakter tersendiri dalam pranata sosialnya.

Ada banyak ragam pandangan budaya melekat sebagai ciri kearifan lokal.

Rumah kayu yang berkolong menjulang kokoh memiliki fungsinya masing-masing, bentuk, jenis dan simbol, merupakan petanda strata sosio-demokrasi dalam kebudayaan lokal.

Tentang kolong, sebut saja di bawah rumah panggung kampung halamanku.

Ada kebahagiaan akan engkau temukan yang tak kau dapatkan di kota.

Ruang seperti itu menjadi saksi perwarisan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan warga.

Ketika orang-orang kota disana berkata "kampungan" sebagai sentilan ketertinggalan, sungguh itu bukanlah pengakuan bahwa orang di desa tak tau hiruk-pikuk perkotaan, tak mengerti liku dan laku modernitas.

Malah sebenarnya dia yang jauh dari kota tak ingin ketinggalan informasi dan teknologi.

Bukankah di negeri ini pernah heboh oleh ulah seorang pemuda desa yang membobol bank ternama, sistem kemanan satekit negara lain? Ya, konon dia warga dari Sidrap dan Lampung, mampu mengendalikan teknologi di tengah sawah.

Bahkan kini sentilan tadi, penduduk desa memaknainya.., mereka orang kota, mungkin saja cemburu, sebab tak memiliki "kolong" kehidupan sosial yang damai di kampung. Bisa jadi, orang kota justeru merindu kehidupan ala kampung orang pelosok. Maka konotasi "kampungan" bukanlah hal yang miris.

Bileh dinyana, kita yang dari kampung sering lupa asal-usul, kemudian ber-laku kota?

Namun selalu rindu pulang kampung. Olehnya bersukurlah sebagai orang kampung.

Sebab disana kita memiliki kebahagiaan yang tak dipunyai orang kota.

Ketiak Kekuasaan

Di pelosok desa nun jauh disana, akhir-akhir ini terjadi pergeseran nilai oleh cengkraman zaman, media sosial dan pertarungan politik terbuka.

Selain itu, tak jarang para aktor, elit, politisi dan jejaringnya mulai bergeliat menelusuri ruang-ruang sosial warga.

Mereka tau betul, disana ada pundi harapan dan kepolosan warga dalam menentukan hak pilihnya yang suci.

Sikapnya bersahaja, sederhana, lagi ramah.

Dan orang kampung kadang memahaminya sebagai gejala alam, petanda "hujan politik" mulai mengguyur dimusim kering.

Hal demikian, semoga saja bukanlah gempuran praktek politik lancung nan culas yang menelanjangi pilar-pilar kolong sosial.

Sebab bila itu terjadi, maka kehadiran aktor-aktor itu justeru mencederai demokratisasi dilevel bawah.

Kekhawatiran tersebut muncul, karena ruang sosial warga sering menjadi objek empuk jualan politik, janji kampanye, politik uang, bahkan politik akal bulus yang akhir-akhir ini mulai kambuh bak "asam lambung", merajalela menggerogoti nalar sehat warga.

Padahal jika ditelisik lebih dalam, kolong itu tempat berlindung keluarga sederhana nun ramah, yang penuh harap pada keseriusan para wakil di parlemen sana untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bagi orang kampung.

Muncul tanya, lantas bagaimana dengan warga di kota?

Pun, tak ayal ruang sosial mereka juga ada.

Bahkan kadang lebih tragis, misalnya sering dijumpai kolong jembatan tol dan gedung-gedung tinggi, termasuk "kolong kekuasaan" di perkantoran sebagai ruang interaksi.

Cilakanya, hal itu malah jadi rebutan sebagai ruang berteduh dari ketiak penguasa, berlindung dari sanksi hukum dan teriknya kritik, pedihnya hujan kesenjangan sosial dari kejamnya ibu kota.

Konon, mereka yang berkolong di jembatan kekuasaan tak segan menindas yang lemah. Mereka tega pada kaum urban pinggiran dan miskin kota.

Dua gambaran kolong sosial diatas sama-sama ruang sosio-demokrasi.

Ia selalu digandrungi dengan porsinya masing-masing, entah dengan suara yang suci atau kotor. Namun yang pasti laku politik tetap menilainya sebagai lumbung perebutan (jalan) kekuasaan.

Hanya saja pembeda keduanya, satu diaktori oleh "makelar politik" lancung, lainnya dilakoni "rentenir politik" paceklik, mencekik dimusim gersang.

Semoga proses demokratisasi dimasa mendatang, rakyat penuh harap, lahirnya praktek politik sehat.

Sehingga para aktor tidak disorientasi ditampuk kekuasaan. Ia musti sadar asal-usulnya dan berperan objektif memberi ruang-ruang kesejahteraan, rasa aman, laku adil sebagai kolong sosial bersama mendorong peningkatkan harkat dan martabat rakyat.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved