Opini Rifqy Tenribali Eshanasir

Kunjungan PM Anthony Albanese: Peluang Peningkatan Hubungan RI-Australia

Hari Senin (6 Juni 2022), Perdana Menteri (PM) Australia yang baru terpilih, Anthony Albanese, memulai kunjungannya ke Indonesia.

Rifqy Tenribali
Rifqy Tenribali Eshanasir, Pengamat hubungan internasional/alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Jepang 

Oleh: Rifqy Tenribali Eshanasir

Peneliti Muda di Center for Peace Conflict and Democracy, Universitas Hasanuddin, dan Alumnus Departemen Hubungan Internasional dan Studi Perdamaian di Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Hari Senin (6 Juni 2022), Perdana Menteri (PM) Australia yang baru terpilih, Anthony Albanese, memulai kunjungannya ke Indonesia.

Ia bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta, dan penguatan hubungan kedua negara bertetangga tentu menjadi agenda utama.

Kunjungan PM Albanese ini merupakan salah satu kunjungan luar negeri pertamanya sejak ia meraih kemenangan di pemilihan federal Australia bulan lalu (21 Mei).

Kunjungan pertama PM Albanese ke Indonesia secara simbolik dan riil bermakna penting dan membuka harapan serta peluang peningkatan dan pendalaman lebih lanjut hubungan antara kedua negara Pasifik ini.

Penting dicatat bahwa penguatan hubungan Australia-Indonesia seperti disebut di atas juga dipengaruhi oleh kenyaataan bahwa PM Albanese dan anggota kabinetnya adalah salah satu yang paling beragam dalam sejarah Australia.

Keberagaman tersebut, yang lebih nyata mewakili keberagaman Australia, antara lain dapat dilihat pada profil anggota kabinetnya.

Terdapat 10 perempuan, 2 orang Muslim dan 1 orang penduduk asli Australia. Ini sebuah terobosan baru di negara ini.

Tidak hanya progresif dalam keberagaman keanggotaannya, kabinet PM Albanese juga sangat maju dengan komitmen mereka yang lebih fokus ke perubahan iklim dan kesetaraan jender dan perlakuan lebih adil terhadap warga asli Australia (Aborigine and Torress Strait Islanders).

Namun bagi Indonesia, titik paling penting dari pelantikannya PM Albanese adalah komitmen kuatnya terhadap pengeratan dan pendalaman hubungan Australia dengan negara-negara di wilayah Asia-Pasifik dibandingkan dengan pemerintah sebelumnya, yaitu waktu Australia di bawah PM Scott Morrison dari Partai Liberal.

PM dari Partai Liberal cenderung lebih berorientasi dan mengutamakan hubungan dengan sekutu tradisional Australia di Amerika Utara dan Eropa.

Memang posisi Australia sangat unik karena merupakan bagian dari ‘Anglosphere’ atau negara-negara berbahasa Inggris, sama dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris, tetapi tidak seperti mereka, Australia jauh lebih dekat secara geografis dengan Asia dan Indo-Pasifik. Australia (dan Selandia Baru) bisa disebut sebagai “negara Barat di Timur”.

Namun terlepas dari itu, Australia tentu tidak bisa mengabaikan negara-negara tetangganya di Asia Tenggara dan Pasifik serta perkembangan ekonomis, politik dan militer di wilayah ini, dan sepertinya PM Albanese sangat sadar atas kenyataan ini.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved