Opini Tribun Timur
Reuni
Kemenangan sebenarnya tak pernah terhenti usai Lebaran. Kemenangan itu bukan hanya sehari.
Abdul Karim
Majelis Demokrasi & Humaniora
Kemenangan sebenarnya tak pernah terhenti usai Lebaran. Kemenangan itu bukan hanya sehari.
Kemenangan berlanjut usai hari yang fitri, setidaknya kemenangan berkerumun dalam moment yang disepakati; “reuni”.
Kita alami itu, dan kita lihat itu merebak di Nusantara.
Mekarnya reuni sebagai rutinitas pasca lebaran menandakan banyak hal.
Paling umum, bahwa reuni memahamkan kita bagaimana perantauan tak pernah unggul dari kenangan.
Entah itu di perantauan sukses, entah itu di perantauan yang berlumur derita.
Di reuni, orang-orang berjumpa. Di reuni, orang berbagi kisah; mulai dari kisah di sekolah hingga kisah senang-getir di perantauan sana.
Di reuni orang-orang berpesta. Di reuni, orang-orang berjumpa dengan mantannya dan lawannya.
Di reuni semua saling bertanya; Kerja di mana? Berapa anak/cucu? Mengapa perutnya gendut? atau sebaliknya mengapa perutnya slim fit?
Serta pada reunipun orang-orang berkerumun bersolidaritas bersedekah untuk membantu sekolah masing-masing, terutama sekolah pelat hitam.
Semua itu menunjukkan bagaimana reuni tak sekedar sebagai perjumpaan kembali bekas teman, bekas rekan sependidikan.
Tetapi melampaui itu, reuni menjadi moment menegaskan bahwa sekolah punya makna humanitas yang berkualitas.
Reuni pula melambangkan bagaimana sekolah di negeri ini punya magnet sosial yang senantiasa merekatkan mereka yang pernah bersekolah dari TK hingga perguruan tinggi.
Di negeri-negeri modern luar sana, reuni barangkali tak pernah digelar.
Di Indonesia, reuni selalu menjadi urusan kelar di mana-mana.
Reuni pun sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dinegeri ini kian berkembang dari waktu ke tempo yang lain--kendatipun dunia sekolah kita tak kering sejumlah problem.
Kita simak, setiap tahun usai Lebaran, jumlah partisipan reuni terus bertambah.
Artinya, alumni-alumni sekolahan di segala tingkatan terus tumpah ruah setiap tahun.
Sayangnya, dinamika reuni dinegeri ini luput dari catatan kantor Badan Pusat Statistik.
Tetapi di sini kita segera tahu, bagaimana sekolah tak mampu mengajak orang-orang kembali ke kampung halamannya untuk berbakti dan mengabdi.
Sejumlah kaum terdidik dengan gelar titel mentereng menjauh dari kampung halamannya yang rudin dan miskin.
Mereka kembali ke kampung sekedar untuk berelebaran, silaturahmi dan reuni--bukan untuk membangun kampung yang terkurung kemunduran.
Sekolah memang sukses menghantarkan orang-orang menemukan pekerjaannya di luar sana.
Tetapi rupanya sekolah gagal mengajak orang ke kampung halaman untuk membangun kesejahteraan.
Di sini, sekolah terkesan mengisolasi manusia dari akar kulturalnya.
Untunglah ada reuni--setidaknya mengingatkan kita lagi tentang sekolah, tentang kultur kampung halaman.
Tetapi kadangkala, reuni menjadi pembeda kelas sosial sebenarnya.
Sebab ada yang datang dengan mobil bekas, ada yang hadir dengan kendaraan kantor, ada yang ikut dengan kendaraan rekannya.
Ada juga yang hadir dengan kendaraan mewahnya, ada yang hadir dengan mobil cicilannya. Namun, sekian banyak yang hadir tanpa kendaraan pribadi.
Tetapi ada pula pembeda lain. Pada reuni, ada yang datang dengan lipstik mahal, ada yang datang dengan lipstik kelas pasar lapak PKL.
Ada yang datang dengan glowing menyilaukan--seekor lalatpun terpeleset saat hinggap dipipinya.
Ada pula yang datang dengan kawat gigi mencolok. Belum lagi dengan alis lukis beragam; mulai gaya minimalis ala Korea, hingga gaya alis tebal setebal cicak ala Arabia.
Ada pula yang hadir dengan bulu mata palsu, namun begitu lentik bak artis Bollywood India.
Konon, bulu mata jenis ini dipasang berjam-jam disalon kecantikan jauh hari sebelum reuni digelar.
Begitulah reuni, ia membentuk utopianya sendiri, menyeret kita menuju sebuah imaji tentang masa lalu yang utuh, memukau, dan menerbitkan rindu.
Tapi reuni tak kuasa menangkap masa lalu sebagaimana adanya. Masa lalu senantiasa gagal kita ketahui kembali dengan persis.
Di situ, reuni menjadi sesuatu yang terbatas--walau digelar dilapangan luas atau hotel berkelas.
Dan begitulah reuni. Ia sebenarnya bisa dikata sebagai wujud kemenangan meriah.
Ia memperjumpakan orang-orang beragam kasta dan tahta yang sekian lama terpisah tak bersua.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim-majelis-demokrasi-humaniora-45.jpg)