Opini Tribun Timur
Pendidikan yang Berberkah
Beberapa hari yang lalu. Seorang teman mengirimkan video singkat (dapat diakses di youtube), berjudul Barakka’na SikolaE (keberkahan sekolah).
Yang pasti, sejatinya secara normatif dan konsepsional, sistem pendidikan kita pada tingkat pertama, juga sangat mengakui dimensi spiritual keagamaan sebagai basis mencari keberkahan pendidikan kita yang berpusat pada tiga sentra (sekolah, keluarga dan masyarakat).
Tetapi kenyataan empiris dan nada kritis tentang kondisi kekinian pendidikan, sungguh mencerminkan fenomena ketertinggalan implementasi (implementation leg) terhadap cita-cita ideal yang diharapkan tadi.
Mencerdaskan Sulsel
Agar tercurah rahmat, maka tugas utama pendidikan adalah melahirkan insaniah yang cendikia (Ulil Albab), yaitu sosok yang mampu mengintegrasikan kualitas fikir dan zikir, sebagai upaya memantaskan manusia sebagai representasi Tuhan di muka bumi ini.
Cendikia yang tidak hanya belajar dan mengajarkan ilmu amaliyah, tetapi juga mampu beramal ilmiah sebagai indikasi kesalehannya (saleh individual, terlebih saleh sosial).
Untuk ini, pendidikan ditempuh sebagai upaya mencerdaskan semua pelaku pendidikan, terutama guru dan siswanya.
Cerdas hatinya, cerdas rasionya, cerdas rasanya dan cerdas raganya.
Hal ini dapat terwujud karena pendidikan memampukan mereka berpetualang mengolah hati, rasio, rasa dan raga dalam setiap aktivitas pembelajaran/pendidikan secara menarik dan bermakna.
Ketika mengupayakan keberkahan tersebut, banyak hal yang bisa dilakukan. Merujuk pendapat para pakar pendidikan, setidaknya ada tiga hal yang harus diupayakan.
Pertama, kemanfaatan. Keberkahan akan hanya terjadi, jika dipastikan pendidikan diorientasikan bagi terciptanya kemanfaatan yang sebesar-besarnya.
Tidak hanya bagi sekolah, khususnya siswa, akan tetapi dirasakan oleh lingkungan sekolah.
Dalam perspektif ini, penting untuk mempertimbangkan proses pembelajaran kontekstual yang memerdekaan sekolah, siswa dan guru dari kerangkeng eksklusitivas, membatasi konektivitas dan relevansinya dengan realitas lingkungan masyarakat sebagai ciri kemerdekaan pedagogi.
Dengan cara ini sekolah terhubung dengan masyarakat dengan segala dinamika persoalannya dan diharapkan bisa berkontribusi dalam pemecahannya.
Kedua, keberkahan itu terjadi manakala disandarkan pada keyakinan akan kebesaran Tuhan, keterbatasan dan penerimaan diri manusia akan eksistensi dan alasan penciptaannya.
Singkatnya harus ada sentuhan keimanan dalam proses pendidikan/pembelajaran.
Karenanya penting, misalnya bagi seorang pendidik muslim, untuk menyandingkan bacaan terhadap ayat-ayat qauliyah (tadabbur tekstual Al-quran) dan ayat-ayat kauniyah (tafakkur kontekstual semesta).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/setiawan-aswad-widyaiswara-bpsdm-prov-sulsel-712020.jpg)