Kilas Tokyo
Menyikapi Tantangan Terkini
Ada tiga hal yang terasa makin menguat belakangan ini di Jepang. Pertama, anda makin dituntut bisa membuat, memperbaiki, melakukan sesuatu sendiri.
Oleh: Muh Zulkifli Mochtar
Doktor alumni Jepang, bermukim di Tokyo
Ada tiga hal yang terasa makin menguat belakangan ini di Jepang.
Pertama, anda makin dituntut bisa membuat, memperbaiki, melakukan sesuatu sendiri.
Jika bisa dikerjakan sendiri, tidak harus meminta orang lain.
Dalam aktivitas keseharian; makan di restoran kadang diminta membereskan piring sendiri.
Toilet umum dibuat semakin unik dan dipenuhi beragam tombol di control panel berfungsi menyiram, membersihkan, menghangatkan, mengharumkan otomatis.
Kita seakan diminta: setelah gunakan, silakan bersihkan, rapihkan sendiri dan buat harum lagi untuk pengguna berikutnya.
Makin banyak supermarket meminta pembeli meregister sendiri belanjaan, bayar sendiri di mesin, sang kasir tinggal mengarahkan.
Kecenderungan ‘do it yourself’’ makin bermunculan dimana mana.
Kedua, digitalisasi terasa makin dipacu. Sedikit berbeda dengan situasi sebelumnya. Ini diyakini guna menyikapi daya saing digital Jepang yang masih ‘rendah’ untuk ukuran negara maju teknologi.
Menurut laporan Mckinsey ‘Using digital transformation to thrive in Japan’s new normal: An urgent imperative’, disaat pandemi, peningkatan penggunaan digital mencapai 10 persen atau lebih di banyak negara, kecuali Jepang yang masih kurang dari 10 persen.
Tingkat peningkatan digital Jepang rendah bukan karena sisi permintaan konsumen yang rendah.
Tapi salah satu alasan lain, yakni pengembangan layanan digital yang belum memadai oleh banyak perusahaan Jepang.
Ternyata Report Mckinsey juga menemukan investasi Jepang di bidang digital sejak puluhan tahun belakangan memang tidak mengalami pertumbuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muh-zulkifli-mochtar-1-2632022.jpg)