Opini Tribun Timur
Refleksi Dua Tahun Pasca-Lockdown
Sebuah kosa kata yang terdengar asing ditengah kepanikan masyarakat, yang luar biasa!
Oleh : Djusdil Akrim
Doktor Lingkungan, Praktisi Industri dan Dosen Teknik Lingkungan Universitas Bosowa
Tanggal 18 Maret, 2022. Tepat dua tahun berlalu hingar-bingar lockdown!
Sebuah kosa kata yang terdengar asing ditengah kepanikan masyarakat, yang luar biasa!
Ketika itu berkali-kali wajah Presiden muncul di layar kaca memberi pesan, “Bekerja dari rumah, Belajar dari rumah dan Beribadah dari rumah” Rupanya.
Ini terkait dengan fenomena wabah atau istilah krennya, global pandemic.
Akibat penyebaran varian virus yang terkenal dengan kode Covid-19.
Dimana tak satu pun negara di permukaan bumi ini yang siap menghadapi wabah mengerikan itu.
Lock down, menjadi akronim paling populer dalam satu tahun terakhir.
Strategi menghadapi penanganan pandemi menjadi pilihan terbaik di Indonesia saat ini.
Mulai dari penerapan PSBB, PSBK, physical distancing dan termasuk pula pendekatan dari aspek socio economic, untuk menjaga stabilitas masyarakat berupa PPKM atau pembatasan kegiatan masyarakat berskala mikro. (Sekar, 2021)
Dua tahun berlalu begitu cepat. Kasus Covid-19 secara global yang bisa diakses secara on line.
Menunjukkan data total jumlah kasus sebanyak 460 juta dan yang meninggal sejumlah 6.05 juta Jiwa.
Sementara di Indonesia up date terakhir, jumlah kasus 5.9 juta dan yang meninggal sejumlah 152 ribu Jiwa.
Menempatkan Indonesia pada urutan 17 secara keseluruhan.
Tetapi jumlah korban meninggal berada diurutan 8, setelah Amerika Serikat, Brasil, India, Rusia, Meksiko, Britania Raya dan Italia atau mencapai 2,51
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/djusdil-akrim.jpg)