Opini Tribun Timur
Omicron, Bukan yang Terakhir ?
Terhitung sejak 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global.
Oleh : Rachmat Faisal Syamsu
Dosen Bagian IKM-IKK, Kedokteran UMI Makassar
Terhitung sejak 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global.
Keputusan WHO itu dikeluarkan ketika virus corona telah menyebar di 118 negara dan menginfeksi lebih dari 121.000 orang di Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika.
Kini sudah dua tahun waktu itu berlalu. Terhitung 11 Maret 2022 ini, dunia masih hidup bersama pandemi. Menurut data dari WHO, Selasa (8/3/2022).
Jumlah kasus infeksi COVID-19 di seluruh Dunia telah mencapai 448.421.780 orang.
Kemudian yang meninggal dunia sebanyak 6.029.404 orang, dan 59.348.022 orang masih dirawat (positif aktif), serta 383.044.354 pasien dinyatakan sembuh.
Eropa menjadi benua dengan jumlah kasus virus corona terbanyak yaitu 160.975.915 kasus.
Sedangkan Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak di seluruh Dunia yaitu 80.979.977 orang.
Dari 226 negara dan teritorial yang terdampak pandemi COVID-19, Indonesia berada di urutan ke 15 dengan 5.800.253 kasus, 150.831 orang meninggal, dan 5.226.530 orang sembuh.
Dalam kurun waktu dua tahun ini, virus corona telah mengalami sejumlah mutasi sehingga menimbulkan beragam varian baru.
Menurut data WHO, Setiap varian yang diberi nama ini juga dimasukkan ke dalam daftar tingkatan kategori yakni variant of interest (VOI), varian of concern (VOC), dan alerts for further monitoring.
Berikut contoh dari VOI adalah;
1.Eta atau B.1.525, pertama kali dideteksi di beberapa negara diantaranya Inggris dan Nigeria pada Desember 2020. 2.Theta atau P.3, dideteksi pertama kali di Filipina pada Januari 2021.
3.Iota atau B.1.526, dideteksi pertama kali di Amerika Serikat pada November 2020. 4.
Kappa atau B.1.617 dideteksi pertama kali di India pada Oktober 2020. 5.Lambda atau C.37 dideteksi pertama kali di Peru pada Desember 2020.
6.Mu atau B.1.621 dideteksi pertama kali di Kolombia pada Januari 2021.
Sedangkan contoh dari VOC adalah ; 1.Alpha atau B.1.1.7, varian ini pertama kali dideteksi menyebar secara luas di Inggris pada September 2020.
2.Beta atau B.1.31, varian ini pertama kali dideteksi di Afrika Selatan pada Mei 2020.
3.Gamma atau P.1, varian ini pertama kali dideteksi di Brasil pada November 2020.
4.Delta atau B.1.617.2, varian ini pertama kali dideteksi di India pada Oktober 2020, dan 5.Omicron atau B.1.1.529, varian ini pertama kali dideteksi di Afrika Selatan pada November 2021.
Waspada Varian Baru
Varian of concern (VOC) adalah varian dari virus penyebab COVID-19 yang perlu diwaspadai dengan ketat.
Varian ini lebih mudah menular dan mampu mempengaruhi tingkat keparahan pada seseorang, terlebih bagi mereka yang belum mendapatkan Vaksinasi.
Virus Corona termasuk ke dalam kelompok virus RNA dan menurut beberapa hasil penelitian di beberapa jurnal ilmiah menyebut bahwa kelompok virus RNA memang mudah mengalami mutasi.
Sebab, ketika virus Corona menginfeksi satu tubuh inang, maka RNA-nya akan melakukan replikasi atau berkembang biak.
Belajar dari varian Omicron, dari hasil analisis genomic kekuatan Omicron bisa dilihat dari pola Spike porteinnya.
Menurut Guru Besar Kedokteran Unair, Prof.Djoko Santoso, Omicron memiliki 50 mutasi secara keseluruhan dan 32 mutasi pada Spike proteinnya.
Dimana setiap Spike protein terdiri dari tiga bagian penting yang memiliki fungsi sendiri-sendiri, yaitu ; Receptor-binding Domain (RBD) yang berperan dalam transmisi virus.
N-terminal domain (NTD) berperan dalam pembentukan kekebalan virus, dan Furin cleavage site (FCS) berperan menentukan keparahan penyakit.
Omicron mengalami mutasi pada ketiga bagian tersebut dan terbanyak pada RBD.
Inilah yang kemungkinan mampu menyebabkan Omicron mampu menular jauh lebih cepat dan mampu menembus sistem kekebalan tubuh meskipun telah melakukan vaksinasi.
Tetapi hal yang menarik bahwa dengan vaksin mampu menekan mutasi FCS pada Omicron sehingga tingkat keparahannya menjadi minimal.
Dua tahun Dunia bersama Pandemi.
Kita semua sama berharap dan berdoa semoga Pandemi ini segera berakhir dan tidak berjumpa lagi di momen tiga tahun dunia bersama Pandemi.
Varian-varian baru selain Omicron mungkin akan tetap ada karena virus akan terus hidup.
Tetapi manusia yang diberi akal harus mampu lebih pandai menghadapinya. Tidak ada jalan lain.
Kita harus bersama-sama menyukseskan program Vaksinasi dan tetap menjaga protokol kesehatan.
Kebiasaan cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, hingga meminimalkan kumpul ditempat umum kalau tidak penting adalah masih yang terbaik.
Semoga dunia cepat pulih. Aamiin. Wallahualam.