Cerita Arinal, Pria Sinjai yang Sukses Lewat Jenjang Pendidikan
Arinal Hidayah Amsur bersama beberapa orang saudaranya harus berjuang keras untuk hidup dan menuntut pendidikan.
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Saldy Irawan
" Orang tua kami berperinsip, anak-anakku harus sekolah. Biarlah Kami sebagai orang tua berkorban semaksimal mungkin untuk membiayai pendidikan mereka. Keduanya tak henti-hentinya berusaha dan terus berdoa agar anak-anaknya supaya bisa sekolah," ungkap Arinal.
Tentu, butuh keuletan dan kesabaran untuk mewujudkan cita-citanya.
Ia lalu mewariskan keteladanan kepada anak-anaknya agar menjaga kejujuran dan semangat belajar yang tinggi sebagai bekal untuk mendapatkan Pendidikan yang diharapkan.
Di masa sekolah, anak-anaknya, ia mendidiknya agar hidup mandiri.
Ia mendorong anaknya untuk berjualan disekolah.
Beraneka macam jualan yang ia siapkan untuk dibawa oleh anak-anaknya untuk dijual.
Dimana hasil keuntungannya ia tabung untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya. Untuk mengganti buku jika tiba masanya naik semester atau mengganti pakaian sekolah yang sudah tak layak pakai.
" Kami sekeluarga makan mie instan dibagi empat orang. Ini upaya untuk menghemat seluruh kebutuhan. Jika mie instan sudah habis selanjutnya adalah makan garam dicampur minyak sebagai pengganti ikan. Bagi Kami dulu, makan ikan adalah sesuatu yang sangat langka," ungkap Arinal.
Hidup serba terbatas bukan penghalang untuk tidak mendapat kehidupan yang lebih baik.
Hidup terlahir dari orang tua yang miskin, tapi jangan sampai mati dalam keadaan miskin.
Kedua kalimat itu menjadi falsafah hidup mereka. Arinal bersama saudara-saudara yang lainnya menjadikan sebagai intrumen melejitkan diri terus berkembang, terus maju.
Atas kondisi keterbatasan, maka orang tua Arinal hanya memilih menyekolahkan anak-anaknya bersekolah di pesantren.
Memasuki kehidupan pesantren adalah membangun jati diri, kepribadian yang mandiri, menjungjung tinggi nilai-nilai adab dan norma.
Adalah nilai yang ditanamkan untuk menghadapi kehidupan lanjutan beserta tantangnnya.
Ini sesuai dengan satu ungkapan yang masyhur “Didiklah anak-anakmu sesuai masanya.” Masa terus berubah dan banyak perubahan yang tak terelakkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/amsur-857755.jpg)