Opini Tribun Timur
Isra Mi'raj Menjaga Kemuliaan Masjid Al-Aqsha
Pada bulan ini, diyakini bahwa pada tanggal 27 Rajab terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjalanan Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir
Oleh: Dr Ilham Kadir MA
Pimpinan Baznas Enrekang
Bulan Rajab bukan saja sebagai bulan mulia (syahrul-haram) tapi lebih dari itu.
Pada bulan ini, diyakini bahwa pada tanggal 27 Rajab terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjalanan Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir bagi umat manusia.
Berupa diperjalankannya pada suatu malam dari Masjid Haram di Makkah menuju Masjid Al-Aqsha di Yerussalem, dari sana, Nabi melanjutkan perjalanan hingga langit ketujuh.
Peristiwa tersebut dinamai isra dan mi'raj, diabadikan langsung oleh Allah lewat firman-Nya dalam Surah Al-Isra', [17] ayat ke-1.
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ayat di atas memberikan petunjuk baik tersirat maupun tersurat bahwa Allah sedang memperlihatkan kemuliaan Nabi Muhammad di atas para nabi dan para rasul yang lain karena beliau menjadi imam salat ditempat mereka yakni di Masjid Al-Aqsha.
Selain itu, agar beliau bisa naik ke langit dengan tegak lurus tanpa berbelok, karena menurut riwayat yang bersumber dari Ka`ab menyebutkan bahwa pintu langit yang disebut mas`adul malaikah yaitu tempat naiknya para malaikat berhadapan dengan Baitul Maqdis.
Dan masih menurut Ka`ab, Negeri Syam merupakan bagian dari bumi Allah yang istimewa sehingga menjadi bagian bumi yang paling utama sesudah dua tanah suci yaitu Makkah dan Madinah, dan kawasan pertama yang memunculkan kekuasaan Nabi Muhammad.
Mu`adz bin Jabal meriwayatkan dari Nabi Muhammad bahwa bersabda, Allah ta`ala berfirman, 'Wahai Syam, engkau pilihanku di antara negeri-negeriKu dan Aku arahkan hamba-hamba pilihanKu kepadamu'.” (HR. Abu Daud).
Keagungan Al-Aqsha
Salah satu hikmah Isra Mi'raj agar umat Islam punya tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga kemuliaan Masjid Al-Aqsha.
Sebab, saat ini, keadaan masjid yang menjadi kiblat pertama kaum muslimin dalam kondisi tidak sedang baik-baik saja.
Sebab, berada di bawah kekuasaan Bangsa Israil, sehingga untuk mengembalikan fungsi utama sebagai tempat beribadah umat Islam, sungguh tidak mudah.
Bentrokan demi bentrokan menjadi suguhan harian dunia internasional akibat kekejaman Israil terhadap pengunjung Al-Aqsha.
Pada saat yang sama, umat Islam di seluruh dunia yang jumlahnya mencapai dua miliar orang belum terlihat menyatu dalam membela Al-Aqsha.
Sebagai perbandingan, dana bantuan orang-orang Yahudi yang berdomisili di luar Israil setiap tahun mencapai 2 miliar dollar.
Padahal jumlah orang Yahudi yang domisili di luar Israil dan tersebar di seluruh dunia, khususnya di Amerika hahya berkisar 14 juta jiwa, lebih ramai penduduk Jakarta.
Sementara, orang Islam yang jumlahnya mencapai 2 miliar itu, bantuannya pertahun untuk donasi ke Palestina hanya berkisar 300 juta dollar.
Maka, wajar saja jika Masjid Al-Aqsha hingga saat ini masih tertawan oleh Israil, dan belum ada satu kuasaan manusia dan negara mana pun yang bisa menundukkan Israil.
Jumlah orang Islam terlihat memang banyak secara kuantitas, tapi tidak diiringi dengan kualitas.
Hampir semua lini dalam hidup ini, telah diikat, dikuasai, dan dipengaruhi oleh Yahudi.
Orang-orang Arab saja, yang tinggal di sekitar Israil berjumlah 24 negara dengan estimasi jumlah penduduk mencapai 330 juta.
Bahkan negara-negara Arab Islam seperti Qatar dan Dubai menjadi negara dengan kemajuan paling pesat dalam pembangunan infrastuktur, ekonomi, pariwisata, militer hingga olahraga.
Bahkan Qatar akan menjadi tuan rumah piala dunia 2023.
Para pemuda Arab, saat ini, lebih tertarik membicarakan sepak bola, penguasa klasemen liga Inggris, Manchester City dimana pemilikinya adalah Syaikh Mansour dari Uni Emirat Arab.
Atau Paris Saint-Germaint (PSG) yang dibeli oleh Nasser Al-Khelaifi.
Bahkan saat ini Newcastle United juga sudah dibeli oleh Pangeran Muhammad Bin Salman dari Arab Saudi, Khadimul Haramayn, Pelayan Dua Kota Suci: Makkah dan Madinah.
Generasi bangsa Arab masa kini sebagian besar sudah melupakan keutamaan memuliakan, menjaga, dan berdiskusi tentang Masjid Al-Aqsha.
Narasi di bawah menunjukkan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah masjid para nabi.
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, Ketika aku berada di Hijir, orang-orang Quraisy menanyaiku tentang Isra.
Mereka menanyaiku tentang berbagai hal yang berhubungan dengan Baitul Maqdis yang tidak aku ketahui. Maka aku merasakan kesulitan yang belum pernah kualami.
Tiba-tiba Allah Ta'ala memperlihatkan kepadaku sehingga aku dapat melihatnya.
Tidak ada satu pun yang mereka tanyakan kecuali aku dapat menjawabnya.
Aku juga teringat ketika aku berada di tengah-tengah para nabi, tetiba aku melihat Musa, a.s., sedang salat.
Dia tampak gagah perkasa seperti orang-orang Banu Syanu'ah.
Akupun melihat Isa bin Maryam a.s., sedang salat. Dia sangat mirip dengan Urwah bin Mas'ud Ats-Tsaqafi. Aku juga melihat Ibrahim a.s., sedang salat.
Dia sangat mirip dengan sahabatmu [Nabi Muhammad].
Ketika datang waktu salat aku mengimami mereka. Seusai salat ada yang berkata, Hai Muhammmad, ini adalah malaikat penjaga Jahannam ucapkan salam kepadanya.
Kemudian aku menoleh kepadanya ternyata dia mendahuluiku mengucapkan salam, (H.R. Muslim, no. 172).
Diantara keistimewaan Negara Indonesia adalah, para pendiri bangsa ini telah menjadikan Isra Mi'raj sebagai agenda nasional, sehingga setiap tahun disediakan hari khusus untuk melakukan peringatan Isra Mi'raj, yang jatuh pada tanggal 27 Rajab.
Walau Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam "Lathaiful Ma'arif Fimaa Limawaashim al-'Aam Minal Wazha'if," bahwa dalam sebuah riwayat yang lemah dari Al-Qasim bin Muhammad bahwa Isra Mi'raj Rasulullah terjadi pada tanggal 27 Rajab, tetapi Ibrahim Al-Harbi mengingkari hal tersebut.
Namun sayang, Ibnu Rajab juga tidak memaparkan dalil yang lebih kuat terkait kapan waktu Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad.
Maka, tidak salah jika sampai saat ini, kita masih berpegang pada dalil tersebut, yakni 27 Rajab adalah waktu Nabi Isra dan Mi'raj.
Di tengah gencarnya kampanye sekularisasi dan liberalisasi, memontum Isra Mi'raj adalah jawaban bahwa negara Indonesia secara dejure dan defacto bertentangan dengan paham liberalisme yang ingin menggusur agama dari ruang publik.
Hikmah paling berharga dari peringatan Isra Mi'raj selain serah terima syariat salat lima waktu kepada Nabi Muhammad dan umatnya adalah mengulang-ulang keistimewaan Masjid Al-Aqsha sebagai tempat suci dan Palestina sebagai tanah wakaf umat Islam.
Dengan itu, maka kewajiban segenap kaum muslimin untuk membela kemuliaan Masjid Al-Aqsha dan tanah Palestina.
Sejarah telah berbicara, para penguasa Palestina sesungguhnya menjadi penguasa dunia.
Semoga dengan peringatan Isra Mi'raj, umat Islam seluruh dunia bersatu membangun kekuatan untuk membebaskan Palestina dari Jajahan Zionis Israil, dan memgembalikan posisi Masjid Al-Aqsha sebagai tempat Ibadah umat Islam tanpa gangguan dari pihak Israil.
Selamat Memperingati Isra Mi'raj 1443 Hijriah!(*)