Omicron
Sering Digunakan di Indonesia, Mampukah Sinovac Hadapi Omicron? Ilmuwan Ungkap Hasil Penelitian
Serangkaian penelitian menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 paling sering atau umum digunakan di negara Asia Tenggara itu 'tidak cocok' melawan varian Om
Vaksin Pfizer dikembangkan dengan eknologi Messenger RNA (mRNA) baru, yang menggunakan kode genetik virus corona untuk mengelabui tubuh agar membuat protein virus sehingga kekebalan tubuh mulai menghasilkan respon defensif.
Baca juga: Syarat Pasien Omicron dan Rumah yang Bisa Dipakai Buat Isolasi Mandiri, Berapa Lama Karantina?
Baca juga: Cara Mengetahui Tubuh Terinfeksi Omicron, Jika Rasakan Gejalanya Segera Periksakan Diri
Tetapi penelitian tersebut menekankan bahwa booster Pfizer kemungkinan lebih efektif daripada dosis ketiga Sinovac.
Studi lain yang dilakukan oleh National Natural Science Foundation of China dan diterbitkan dalam jurnal Emerging Microbes & Infections pada bulan yang sama menunjukkan "pengurangan yang signifikan" dalam kemanjuran booster dengan Sinopharm, yang, seperti Sinovac, adalah vaksin tidak aktif yang menggunakan partikel virus mati untuk mengekspos sistem kekebalan tubuh terhadap COVID-19.
"Secara keseluruhan, penelitian kami menunjukkan bahwa Omicron mungkin lebih mungkin lolos dari perlindungan kekebalan yang diinduksi vaksin dibandingkan dengan prototipe dan varian lain yang menjadi perhatian," para penulis menyimpulkan.
3 jenis vaksin diklaim mampu tingkatkan antibodi penerima 2 dosis Sinovac
Diwartakan Tribunnews sebelumnya, ada tiga jenis vaksin Covid-19 diklaim mampu meningkatkan kadar antibodi secara signifikan pada penerima dua dosis vaksin CoronaVac dari Sinovac.
DilansirReuters, ketiganya adalah vaksin AstraZeneca, Pfizer-BioNTech, dan Johnson & Johnson yang dijadikan sebagai booster (penguat).
Studi tersebut dilakukan oleh peneliti dari Brasil dan Universitas Oxford.
Mereka menemukan CoronaVac menerima dorongan terkuat dari vektor virus atau suntikan RNA, termasuk terhadap varian Delta dan Omicron.
"Studi ini memberikan pilihan penting bagi pembuat kebijakan di banyak negara di mana vaksin tidak aktif telah digunakan," kata Andrew Pollard, direktur Oxford Vaccine Group dan pemimpin studi.
Namun, penelitian lain pada Desember lalu menemukan dua dosis Sinovac diikuti dengan dosis booster vaksin Pfizer-BioNTech menunjukkan respons imun yang lebih rendah terhadap varian Omicron dibandingkan dengan strain lain.
Vaksin vektor virus seperti yang dikembangkan oleh AstraZeneca-Oxford dan J&J menggunakan versi yang lebih lemah dari virus lain untuk mengirimkan instruksi genetik untuk membuat protein dari virus yang perlindungannya dicari.
Vaksin mRNA Pfizer-BioNTech mengirimkan transkrip genetik dengan instruksi untuk membuat protein virus guna mengajari tubuh cara bertahan melawan infeksi.
Baca juga: Breaking News: Wali Kota Makassar Danny Pomanto Positif Omicron
Baca juga: Dirut RSUD Daya Sebut Hasil PCR Wali Kota Makassar Tak Dicurigai Omicron
Tiga dosis CoronaVac dari Sinovac juga diklaim dapat meningkatkan antibodi, tetapi hasilnya lebih baik jika dosis booster dari vaksin jenis lain, menurut penelitian terbaru di Brasil.
Penelitian itu melibatkan 1.240 sukarelawan dari Kota Sao Paulo dan Salvador, Brasil.