Opini Tribun Timur
Cukong
Dinamika kehidupan yang begitu kompleks telah melahirkan berbagai perilaku spekulasi.
Kalau itu menyangkut posisi ketua, maka struktur orang di bawahnya dapat ‘diatur’ oleh sang cukong.
Keberadaan, keberdayaan dan keperkasaan cukong tidak dapat diragukan. Mereka leluasa masuk-ke luar sebuah institusi karena si Bosnya sudah ‘diikat’ dengan dukungan dana yang lumayan besar.
Mereka-para cukong-mendapat kedudukan terhormat karena sudah banyak memberikan kontribusi bagi seseorang, kelompok, bahkan institusi.
Kewenangan berada dalam genggaman kekuasaannya. Pernah muncul dalam sebuah video seorang warga sipil yang dikenal banyak uang didukung di pundak beramai-ramai oleh sejumlah anggota yang berpakaian seragam.
Lalu muncul komentar dari netizen, “betapa terlecehkannya institusi tersebut”. Dalam proses pembuatan perundang-undangan, terkadang muncul sikap sinis dari masyarakat.
Konon, dalam penentuan pasal-demi pasal dapat ‘dinilai’ dengan uang. Ketika menemui pembahasan pasal yang berat, maka peran cukong mulai tampak permainannya.
Memasukkan atau menghilangkan pasal-pasal tertentu mengandung risiko keuangan yang besar.
Terlihat seolah-olah keberpihakan kepada rakyat, padahal untuk kepentingan ‘pengorder’. Ada barter-barteran.Tragis ya !
Cukong biasanya terlihat dari postur dan penampilannya yang ‘wah’. Mereka memiliki banyak hal yang berkaitan dengan posisinya.
Biasanya terlihat gendut alias gempal, badannya beraroma harum dengan farfum kelas tinggi.
Sebaliknya mereka yang tidak memiliki banyak hal konon digelari ‘ceking’, kurus kering penampakannya tidak menarik.
Tetapi ini tidak semua yang berpostur ceking, masuk kategori tidak berduit. Penulis pernah kenal seorang pedagang yang posturnya ceking di tahun 70-an.
Bersepeda tua, dengan tas butut. Tetapi siapa sangka, jika setiap malamnya ketika pulang jualan, di tas bututnya berisi uang hingga jutaan rupiah.
Tapi dia, bukan cukong, hanya ceking. Kabar teranyar, tulisan dari Yarifai Mappeaty, alumni Unhas yang termuat di Fajar.co.id Rabu 15/12 “Ada Cukong di Pilrek Unhas”.
Wah, kembali peran cukong bermain di sini. Pertanyaan kita, apakah betul ada cukong dalam proses seleksi calon Rektor Unhas
periode 2022-2026 ? Seharusnya tulisan tersebut perlu diusut kebenarannya, agar tidak terjadi fitnah yang merugikan banyak pihak. Ayo, dengarkan suaramu, tunjukkan tajimu !
Tulisan ini juga diterbitkan pada harian Tribun Timur edisi, Senin (20/12/2021).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-gafar-1-11102021.jpg)