Jenderal M Jusuf
Kisah Jenderal M Jusuf yang Lolos dari Berondongan Peluru Pasukan Andi Selle di Pinrang
Pasukan M Jusuf terlibat pertempuran hebat dengan sesama pribumi yang dipimpin oleh Andi Selle di Kabupaten Pinrang
TRIBUN-TIMUR.COM - Inilah kisah Jenderal M Jusuf yang jarang diketahui publik. Mantan Panglima TNI ini disebut-sebut kebal oleh peluru dan lemparan granat dari musuh.
Cerita bermula ketika Pasukan Kujang dari Divisi III Siliwangi yang dipimpin M Jusuf kala itu. Pasukan M Jusuf terlibat pertempuran hebat dengan sesama pribumi yang dipimpin oleh Andi Selle di Kabupaten Pinrang.
Saat itu, pasukan Kujang dikepung dan diberondong peluru oleh pasukan Andi Selle. Mereka juga dihujani dengan lemparan granat bertubi-tubi.
Hebatnya, M Jusuf yang menjadi sasaran tembakan dan lemparan granat, berhasil lolos dari maut. Bahkan, ia tak mengalami luka sedikitpun.
Peristiwa heroik ini terjadi pada 4 April 1964 silam.
Saat itu M Jusuf yang masih menjabat Pangdam XIV, mendadak muncul di Pos Komando Batalyon 330 di Enrekang.
Sang komandan batalyon dan pasukannya kontan kaget, mendapat kunjungan orang nomor satu di Kodam itu.
Jusuf terkesan dengan anak-anak (tentara) Siliwangi yang ditugaskan di Sulsel.
Untuk itu dia pun memutuskan makan siang bersama mereka.
Lauknya, nasi, lodeh, dan sambal pete. Usai makan siang, Jusuf memberitahukan maksud kedatangannya.
“Besok aku akan mengadakan pertemuan dengan Andi Selle agar ia kembali ke jalan yang benar.
Sebagai putera Sulawesi, saya ingin mengajaknya baik-baik untuk bersama-sama membangun Sulawesi ini,” kata Jusuf dalam buku ‘Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit’ tulisan Atmadji Sumarkidjo.
Andi Selle merupakan komandan batalyon Bau Masseppe di Korps Cadangan Nasional Sulsel.
Andi Selle awalnya satu barusan dengan Kahar Muzakkar.
Namun mereka akhirnya berpisah jalan.
Kahar merupakan pemimpin Tentara Islam Indonesia/Darul Islam (TII/DI) Sulsel.
Akibat kekecewaannya terhadap Pemerintah Indonesia, dia memutuskan bergabung dengan NII Kartosuwiryo.
Akan halnya Andi Selle, dia menjadi tuan tanah di Mandar.
Dia mengeruk keuntungan dengan menjadi ‘raja lokal’.
Ia juga berusaha mengendalikan perdagangan yang cara-caranya itu berseberangan dengan kebijakan pemerintah pusat.
Jusuf menoleh kepada Danyon 330 Siliwangi Himawan Susanto.
Dia meminta Himawan menyiapkan anak buahnya.
“Pertemuan ini dipersiapkan Letkol Eddy Sabara, Komandan Brigif 011, namun saya tidak tahu pasti bagaimana kelanjutan dari pertemuan ini.
Karena itu siapkan satu kompi 330 untuk pengamanan,” kata Jusuf.
Pada Minggu, 5 April 1964, Jusuf berangkat ke Pinrang dikawal satu peleton dari Kompi E/330.
Sebelum berangkat, komandan kompi telah mempersiapkan 10 prajurit terbaik untuk menjadi pengawal pribadi Panglima TNI kelahiran Kajuara, Bone tersebut.
Menurut Atmadji, lokasi perundingan itu di sebuah bangunan Bulog di Desa Leppangeng.
Ketika Kompi E/330 tiba di lokasi ada ratusan orang berseragam hijau dan bertopi baja sudah menunggu di sepanjang jalan.
Mereka ternyata tentara Andi Selle.
Pasukan Siliwangi yang hanya satu kompi ditambah sejumlah kecil pasukan Raiders dari Kodam Hasanuddin akhirnya berbaur.
Semua bersenjata lengkap.
Menurut sejarawan Anhar Gonggong, perundingan berjalan baik.
Keduanya keluar dari bangunan itu lantas naik mobil bersama.
Mobil itu, sedan Dodge 1400 merah tua, sebelumnya ditumpangi Panglima TNI Jusuf dari Makassar.
Tujuan mereka, rumah dinas Bupati Pinrang Andi Makkulau.
Anhar menyebut dalam perjalanan itu, di sebuah pertigaan, mobil yang seharusnya belok ke kanan menuju rumah bupati, tetap melaju lurus seolah-olah hendak menuju Pare-Pare.
Namun menurut Adang S dalam buku ‘Pertempuran di Jembatan Lasape’, jip Mambo yang ditumpangi pengawal Andi Selle yang mendadak menyalip mobil M Jusuf.
Pengawal Andi Selle yang bersenjata Bren lalu meloncat.
Tindakan itu akhirnya memicu perang berdarah.
Tembak-menembak jarak dekat antara pengawal Jusuf dan Andi Selle pun tak terelakkan.
Berondongan peluru menghujani Jusuf dan para pengawalnya.
Mobil yang ditumpangi itu menjadi penuh lubang.
Kolonel M Sugiri yang turut berada di mobil mengawal Jusuf gugur.
Begitu juga Praka Adang yang merupakan anggota walpri alias pengawal pribadi Jusuf.
Sementara Kombes Pol Mardjaman terluka tembak.
Tembak-menembak makin sengit tatkala pasukan Jusuf yang sebelumnya tertinggal di belakang tiba di lokasi.
Giliran mereka menghujani anak buah Andi Selle dengan berondongan timah panas dari senjata serbu.
Saat pertempuran berkecamuk, Peltu Daud melompat ke arah Jusuf untuk memberikan perlindungan dan membawanya ke mobil Gaz di depannya.
Nahas, saat itulah peluru menembus tubuhnya.
Lantas Daud gugur.
Pasukan Andi Selle tak berhenti.
Tahu Jusuf masuk mobil yang disiapkan, tembakan demi tembakan di arahkan ke orang nomor satu di Kodam Hasanuddin.
Bersyukurnya, Jusuf lolos dari maut. Dia selamat tanpa lecet sedikit pun.
Kalung Alquran Emas
Perjalanan waktu mengantar karier Jusuf ‘berakhir’ di militer.
Selepas Pangdam itu, dia ditarik Presiden Soekarno masuk kabinet sebagai menteri.
Kendati demikian dia masih berstatus tentara aktif.
Ketika Soeharto menjadi Presiden, Jusuf masih dipertahankan dalam kabinet.
Namun suatu hal tak terduga. Pada 29 Maret 1978 dia dipercaya menjadi Panglima TNI/Menhankam.
Jusuf menggantikan Jenderal Maraden Panggabean.
Dalam karier militernya sebagai Pangab, Jusuf dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan prajurit.
Dia kerap blusukan ke barak-barak dan asrama untuk menyapa para anggota ABRI.
Di luar itu, banyak ciri khas terdapat pada Jusuf.
Sebagai contoh tongkat komando Panglima ABRI.
Menurut Atmadji, tongkat komando itu tak biasa.
Bukan lurus seperti lazimnya, tapi agak bengkok karena seperti dari ranting pohon.
Ciri khas lain yang selalu dipakai Jusuf yakni dog tag (identifikasi diri yang biasanya terbuat dari baja antikarat dan dipergunakan tentara AS) yang diperoleh ketika belajar di Amerika.
“Juga sebuah kalung Alquran emas kecil yang konon pemberian dari almarhum Eddy Sabara, anak buahnya di era Pangdam Hasanuddin,” kata Atmadji.
Nah, itulah kisah lengkap mengenai seorang Panglima TNI yang memiliki kalung Alquran Emas.(*)