Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Soekarno dan Spirit Nasionalisme

Pada 10 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang peristiwa pertempuran di Surabaya 76 tahun silam

Editor: Sudirman
naufal
Naufal Jihad Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas 

Sejarah dipahami secara utuh, tak ada yang perlu disembunyikan, biarlah konspirasi jadi konsumsi publik, biarlah yang benar katakan benar dan yang salah mengakulah karena itu semua sejarah, kita harus bersama-sama mengambil maknanya bukan menyalahkannya.

Sejarah ada untuk membimbing kita menuju masa depan. Warisan Kepahlawanan Soekarno.

Sebagai sosok proklamator bangsa dan pejuang kemerdekaan nasional, dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, beliau lebih akrab dipanggil Bung Karno.

Mungkin sampai sekarang beliau adalah tokoh yang paling banyak dikagumi orang di Indonesia. Sosok Soekarno yang lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Blitar Jawa Timur.

Ketika Soekarno kecil, ia tidak tinggal bersama dengan orang tuanya yang berada di Blitar. Ia tinggal bersama dengan kakeknya yang bernama Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

Soekarno bahkan sempat mengenyam sekolah disana walau tidak sampai selesai, karena harus ikut bersama dengan orang tuanya yang pada waktu itu pindah ke Mojokerto.

Kemudian Soekarno mengenal dunia perjuangan yang akhirnya membuatnya menjadi pejuang sejati, ketika beliau bersekolah di HBS tahun 1915, saat itu Soekarno tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau Hos Cokroaminoto yang merupakan sahabat ayahnya.

Dalam catatan sejarah, Soekarno sering dinyatakan sebagai pencipta arus utama yang membentuk karakter dasar
nasionalisme Indonesia.

Namun hal penting yang perlu diperjelas disini adalah, apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh
Soekarno sebagai nasionalisme itu?

Apakah definisi Soekarno tentang nasionalisme itu sebatas bermakna mencintai Tanah Air Indonesia, sebagaimana lazimnya dipersepsikan secara umum.

Di mata Soekarno istilah nasionalisme sebagai sebuah kosa kata politik belum memadai sebagai sebuah kerangka berpikir untuk menjelaskan sikap kebangsaan Indonesia sesungguhnya.

Cara pandang Soekarno yang menggunakan perspektif dialektika dalam merumuskan nasionalisme Indonesia merupakan unsur penting yang justru membuat konstruksi gagasannya berbeda secara signifikan dari
pemahaman konvensional yang sering mengambil bentuk ekspresi yang sebatas bermakna cinta Tanah Air.

Nasionalisme dalam pandangan Soekarno, dapat membentuk karakter percaya pada kemampuan diri sendiri serta
menumbuhkan ikatan solidaritas, bukan nasionalisme yang sempit, reaktif dan emosional.

Sejalan dengan pandangan Mahatma Gandhi tentang humanisme sebagai kandungan utama nasionalisme.

Soekarno dengan rumusannya sendiri menyatakan bahwa sikap kebangsaan Indonesia adalah sosio-nasionalisme. Artinya bahwa nasionalisme yang mencari selamatnya perikemanusiaan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved