Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Citizen Reporter

Rindu Belum Terobati Calon Jamaah Haji Asal Jeneponto dan Pengantarnya

HEBOH, meriah, padat, macet merupakan kesan pertama yang muncul di benak warga Sulawesi Selatan (Sulsel) ketika mendengar kata "jamaah haji Jeneponto"

Penulis: CitizenReporter | Editor: Edi Sumardi
CITIZEN REPORTER/MAWARDI
Peserta acara Sosialisasi Keputusan Menteri Agama RI Nomor 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji Tahun 2021 di Gedung Sipitangari, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Selasa (12/10/2021). 

Wakil Bupati Jeneponto dalam kata sambutannya sebelum membuka secara resmi kegiatan di atas sangat berharap penyelenggaraan ibadah haji tahun 2022 sudah bisa normal kembali dan kuota haji Indonesia bisa bertambah.

Imbasnya, kuota Kabupaten Jeneponto juga bisa bertambah.

Wabup Jeneponto juga berpesan kepada seluruh jamaah haji agar tidak usah gusar dan percaya kabar bohong dan fitnah seputar haji yang beredar di luar.

"Jangan-maki percaya sama berita berita hoax di luar terkait penundaan keberangkatan haji selama 2 tahun berturut-turut. Kebijakan tersebut semata-mata diambil untuk keselamatan dan kemaslahatan kita semua," kata Paris Yasir.

"Bersabar-maki. Jaga kesehatan-ta semu. Jangan-ki lupa berdoa semoga pandemi bisa berakhir dan penyelenggaraan haji tahun depan bisa terlaksana normal kembali."

Usai mendengar penjelasan dari semua narasumber, salah seorang calon jamaah haji asal Kecamatan Bontoramba bernama Jumania binti H Mansa (52), tak henti-hentinya mengucap syukur.

Perempuan yang bekerja sebagai petani dan ibu rumah tangga ini tak menampik sempat ada rasa kecewa dan sedih dalam dirinya karena dua tahun Pemerintah Indonesia mengambil keputusan memberangkatkan calon jamaah.

Wajar saja karena ia merupakan salah satu calon jemaah haji yang sudah mendaftar haji sejak tahun 2010.

Dengan penundaan ini, maka dua tahun sudah bagi Jumania yang rencananya berangkat bersama saudari dan iparnya mengurungkan hajatnya menunaikan haji.

Namun, ia tak membiarkan rasa kecewa menguasai hatinya.

Sebaliknya, ia memperbersar rasa syukur kepada Sang Rabb.

“Alhamdulillah karena Allah masih melindungi jiwa dan kesehatan kami dengan penundaan ini. Kami sepenuhnya bisa memahami keputusan pemerintah. Dalam situasi yang masih mengkhawatirkan ini sangat tidak mungkin bagi pemerintah untuk memberangkatkan jamaah,” kata ibu dari empat anak ini.

“Kami sama sekali tidak keberatan. Walaupun usia kami menjelang lansia, kami menerima dengan lapang dada keputusan pemerintah."

Ia pun yakin jika Allah memiliki rencana terbaik atas penundaan ini. 

Pada masa pandemi, Jumania sadar kesehatan menjadi hal utama yang harus dijaga.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved