Darmawan Denassa Raih Penghargaan Kalpataru 2021
Ini kampung berjarak sekitar 19,2 km selatan Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Penulis: Sayyid Zulfadli Saleh Wahab | Editor: Saldy Irawan
Pada tahun 2007, ia mulai menggagas Rumah Hijau Denassa. Alasannya karena mulai berkurangnya beberapa jenis tanaman atau tumbuhan.
"Mulai 2007 saya tinggalkan kampus dan memilih pulang ke kampung halaman di Gowa, karena dibutuhkan. Karena dulu waktu kecil sering menemukan jenis tumbuhan, mulai dari kuliah tapi mulai hilang sehingga butuh orang yang menyelamatkan tanaman tersebut," jelasnya.
Saat itu, ia mulai menanam membenih sebanyak 100 batang tektona grandis jati, tanam mahoni.
"Dulu banyak orang yang tidak mau tanam pohon karena lama panen. Tapi saya memberikan pemahaman ini bisa menjadi infestasi atau ekowisata dan menjadi habitat beberapa jenis hewan," jelasnya
Ada juga 170 pohon mahoni yang ditanam di RHD.
Sembari aktif di RHD, ia mengaku juga aktif di injio dan bermitra dengan beberapa pihak lainya.
"2014-2015 fokus untuk mengelola Rumah Hijau Denassa," ujarnya.
Dikatakan, penghargaan tersebut diusulkan dari tingkat kabupaten, porvinsi dan diusulkan ke pemerintah pusat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
"Menurut mereka kami layak menerima penghargaan dan Alhamdulillah saya terpilih peraih Kalpataru tahun ini dan satu dari sepuluh orang terpilih Kalpataru tahun ini," ucapnya.
Kedepannya dia berencana melakukan kegiatan dengan kondisi di tengah pandemi Covid-19 seperti virtual trip.
"Jadi orang-orang di luar Sulawesi bahkan di luar negeri bisa ikut virtual tripnya Rumah Hijau Denassa," pungkasnya
"Sekarang hampir 4-5 tahun ini kami mengembangkan Rumah Hijau Denassa, dengan membuat Denassa Botanikal Garden. Untuk kawasan baru karena populasi atau jumlah tumbuhan yang ada dI RHD sudah padat dan menjadi hutan," sambung dia.
Selain itu pihaknya juga akan membuka area baru dengan bermitra dengan beberapa pihak. Pihaknya telah bermitra dengan konservasi sumber daya alam Sulsel dan Sulbar untuk membuat area konservasi di Malino.
"Sekarang di RHD sudah ada 500 jenis tumbuhan, sedangkan di Denasa Botanikal Garden ada lebih 100 tumbuhan dan area satunya lagi ada 50 jenis tumbuhan," bebernya.
Dia mengajak agar masyarakat menjaga dan menyelamakan keberagaman hayati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/warga-bontonompo-gowa-meraih-kalpataru-bidang-perintis-lingkungan.jpg)