Update Corona Sulsel
Pasien Positif Aktif Tembus 5.362 di Sulsel, Prof Ridwan: Kemungkinan Pekan Depan Siaga Darurat
Dengan penambahan 594 pasien di Sulsel membuat angka kumulatif penambahan pasien terkonfirmasi tembus 70.295 orang.
Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Informasi terbaru terkait data update Covid-19 di Indonesia dilansir data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di akun sosial media Twitter @BNPB_Indonesia, Kamis (15/7/2021).
Dari data tersebut, khusus Sulsel, penambahan pasien Covid-19 di angka 594 orang. Angka tersebut naik dari sehari sebelumnya di angka 550 pasien
Dengan penambahan 594 pasien di Sulsel membuat angka kumulatif penambahan pasien terkonfirmasi tembus 70.295 orang.
Penambahan harian tersebut membuat pasien aktif Covid-19 di Sulsel terus bertambah, kini di angka 5.362 pasien.
Angka itu naik dibanding sehari sebelumnya di angka 5.003 pasien.
Bila bekaca pada 30 Juni 2021 lalu, pasien aktif di Sulsel di angka 1.324 kasus.
Angka tersebut naik pada 15 Juli 2021 dengan 5.362 kasus.
Peningkatannya sangat drastis melebihi 400 persen tepatnya 405 persen.
Bila pasien positif aktif tersebut di isolasi di rumah sakit, tentunya tidak mencukupi jumlah Tempat Tidur (TT) yang ada.
Ketersediaan tempat tidur yang ada di rumah sakit rujukan dan nonrujukan Sulsel hanya ada 2.156 TT.
Data Satgas Penanganan Covid-19 Sulsel, per 10 Juli 2021 jumlah RS Rujukan dan RS Nonrujukan di angka 2.555 tempat tidur (TT).
Dimana isolasi yang tersedia 2.289 TT dan TT ICU tersedia 266 TT.
Ketua Tim Konsultan Satgas Penanganan Covid-19 Sulsel, Prof Ridwan Amiruddin mengatakan, Bed Occupancy Ratio (BOR) atau angka penggunaan tempat tidur terus mengalami peningkatan.
"Sudah sekitar 50 persen. Dan sepertinya tinggal menunggu waktu, kemungkinan pekan depan sudah siaga darurat," kata Ridwan via pesan WhatsApp, Kamis (15/7/2021).
Ia memprediksikan, akan terjadi rush (diserbu) di tingkat rumah sakit.
Bagaimana solusinya?
"Hukum pengendalian yang baik. Jangan mencampur yang ringan-sedang dengan yang berat dan kritis. Karena risiko terlalu besar bagi nakes dan pasien sendiri," kata Ahli Epidemologi FKM Unhas itu.
"Sekarang mestinya setiap daerah segera merespons secara cepat, membuka tempat isolasi untuk kasus ringan-sedang," tambahnya.
Seperti diketahui, sebelumnya Pemprov Sulsel menjadi provinsi pertama yang membuka Duta Wisata Covid-19.
"Sepertinya Pak Plt tidak merespon untuk duta wisata versi II," katanya.
"Sekarang, sepertinya kendali koordinasi sangat lemah. Power Pemprov perlu diperkuat dalam mitigasi pandemi ini," tambahnya.
Sebelumnya, Plt Gubernur Andi Sudirman sudah menekankan tidak memperpanjang Duta Wisata Covid-19.
"Kalau kami di provinsi, isolasi dilakukan di rumah sakit, karena masih banyak ruang isolasi yang kami canangkan untuk yang bergejala," katanya.
"Karena lebih mudah kami amati, lebih mudah mendapat bantuan, secara komunitasnya memang juga di sana rumah sakit yang punya space untuk penanganan yang lebih intensif," tambahnya.
Lalu bagaimana dengan pasien Covid-19 tanpa gejala?
"Yah isoman, yang ringan gejalanya bisa diarahkan isolasi mandiri di rumah," katanya.
Menurutnya, kondiri di rumah itu kalau ada yang positif, itukan bagaimana menjaga jarak saja.
"Terus bagaimana aturan yang perlu diperhatikan. Seperti makannya, bagaimana membawakannya, kemudian harus menjaga (keluarga), kalau dia sudah tahu dirinya positif," kata Andi Sudirman.
"Memang ada kondisi CT (Computerized tomography) tertentu itu harus ditahu, sehingga jarak diatur sudah bisa dijadikan tempat isoman," tambahnya.(*)