Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

Humor, Politik, dan Kedamain

Saat ini, orang-orang sangat mudah dilanda kecemasan. Mereka sedang resah dengan munculnya berbagai masalah sosial, politik, dan ekonomi.

Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi
Hidayah Muhallim, Konsultan Sosial Politik pada PT Penta Helix Indonesia 

Puluhan tahun yang lalu kita sudah akrab dengan cerita atau film humor seperti Mati Ketawa Ala Rusia, komedian Charlie Chaplin, Mr. Bean, Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), grup lawak Srimulat, Opera Van Java dan maraknya tayangan stand-up komedi dilayar televisi sejak beberapa tahun belakangan ini.

Sayang sekali jika humor dan komedi yang berkualitas tidak berkembang atau kurang diminati lagi lantaran munculnya berbagai masalah sosial akhir-akhir ini.

Padahal kehidupan masyarakat bisa bertahan sampai sekarang karena humor masih ikut menyertai dan menjaga kelangsungannya.

Sejarah umat manusia tidak akan setangguh sekarang ini jika humor tidak tertanam kuat di dalamnya.

Sebagaimana kita dapat saksikan sendiri bahwa semakin tinggi humor dan kegembiraan pada suatu masyarakat maka akan semakin rendah tingkat kecemasan warga masyarakatnya yang mana akan berpengaruh pula pada tingkat kepuasan hidup dan indeks kebahagiaan masyarakat itu. 

Marvin R. Koller (1988), Sosiolog dari Kent State University Amerika Serikat  pernah melakukan studi khusus tentang humor dan meyakinkan kita bahwa humor akan memunculkan ekspresi gembira.

Bahkan M.R. Koller menegaskan bahwa humor tidak hanya memunculkan rasa riang-gembira saja tetapi ia memungkinkan kita untuk dapat menemukan ide-ide baru. Malah humor itu akan dapat menekan dan mendorong seseorang agar mampu memunculkan kecerdasannya. 

Maka sungguh benarlah bahwa humor itu merupakan karunia istimewa yang diberikan kepada umat manusia sebagai bukti betapa besarnya kasih sayang Allah SWT pada umat manusia.

Bahkan seorang kartunis Argentina, Guillermo Mordillo, pernah menuliskannya dalam susunan kalimat indah bahwa

“Setelah tuhan menciptakan dunia, Dia menciptakan laki-laki dan perempuan. Kemudian untuk menjaga agar semuanya tidak runtuh, Dia mencipkan humor” (Dalam M.R. Koller, 1988).

Jadi dengan dianugerahkannya humor itu, maka umat manusia sanggup menjaga, melanjutkan, dan mewarnai sejarahnya menjadi bergelora, berkualitas, dan membahagiakan. 

Bisa dibayangkan bagaimana jalannya sejarah jika humor itu tidak pernah ada atau tiba-tiba lenyap dari kehidupan kita.

Sejarah umat manusia tentunya akan melulu diwarnai oleh kegalauan, ketegangan, tekanan, dan pertentangan.

Layaknya hidup dalam hutan rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah, sementara yang kuat akan saling beradu memperebutkan supremasi pengaruh sehingga kekacauan dan perang terus-menerus terjadi.

Untuk itulah humor itu harus selalu bisa dijaga dengan baik agar sejarah umat manusia terus bergerak maju.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved