Breaking News:

OPINI

Humor, Politik, dan Kedamain

Saat ini, orang-orang sangat mudah dilanda kecemasan. Mereka sedang resah dengan munculnya berbagai masalah sosial, politik, dan ekonomi.

Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi
Hidayah Muhallim, Konsultan Sosial Politik pada PT Penta Helix Indonesia 

Umat manusia harus bisa mengatasi hambatan dan tantangan dalam kehidupannya sehingga potensi dan kecerdasan yang dititipkan tuhan padanya bisa dimaksimalkan.

Dengan begitu sejarah umat manusia pada akhirnya akan sampai pada puncak peradabannya sekaligus untuk menangkal kekhawatiran para malaikat saat tahu bahwa Tuhan akan menciptakan umat manusia yang akan di tempatkan sebagai khalifah di bumi (Lihat, QS-2:30). 

Jika manusia sukses mengemban amanah itu maka rasa-rasanya para malaikat pun akan cemburu dan respek pada kapasitas bawaan yang melekat dalam diri manusia. 

HUMOR POLITIK 

Mudah saja jika kita ingin menghancurkan kehidupan ini. Begitu kira-kira pikiran nakal bisa muncul saat seseorang sedang dirundung duka atau lagi marah.

Atau coba hilangkan humor dari kehidupan sosial dan sisakan saja politik didalamnya. Maka sangat mungkin kita akan merasakan betapa kaku dan kerasnya kehidupan ini.

Tetapi sangatlah berbahaya membiarkan aksi-aksi politik yang tidak disertai dengan humor. Politik akan tampak berwajah buruk, bengis dan kejam. 

Tetapi syukurlah bagi M.R. Koller yang melihat kekuatan politik tampak terlalu besar untuk bisa lepas dari ruang lingkup humor. 

Menurutnya, humor politik itu bisa berfungsi untuk mengamati politik kekuasaan agar eksesnya tidak dapat ditolerir.

Fungsi kontrol sosialnya pun akan dapat memperbaiki abuse of power karena dapat menggerakkan lembaga-lembaga untuk bisa diterima oleh mereka yang terpengaruh oleh penggunaan kekuasaan politik.

Bagi M.R. Koller, humor bisa digunakan seperti pedang (sword) dan perisai (shield) dalam suatu arena politik. Sebagai pedang, humor itu bisa langsung diarahkan pada target.

Sedang sebagai perisai, humor dapat digunakan untuk menangkis serangan dari lawan politik.

Karena dalam pentas demokrasi, kontestasi politik menjadi ajang pertarungan ide, gagasan, konsep, kualitas, kapasitas dan program.

Maka para politikus dapat menggunakannya karena humor sebagai instrumen politik yang adaptif akan bisa mengikuti aturan main yang telah disepakati bersama.   

Ketiadaan humor dalam politik akan membuat tensi politik menjadi tinggi dan kadang susah dikontrol termasuk bagi pihak-pihak yang terlibat didalamnya.

Apalagi jika aksi-aksi para pendukung atau buzer mereka ikut memperkeruh situasi dan mengganggu jalannya demokrasi.

Mereka itu seringkali tampil brutal, menebar hoax dan teror sehingga dapat mencabik-cabik ketentraman, kedamaian, harmoni, dan persatuan masyarakat dan bangsa ini.

POLITIK RIANG GEMBIRA

Sekali lagi, karena politik itu adalah seni yang indah. Maka “politik harus diperankan secara riang gembira”.

Demikian biasa saya dengar dari perkataan Ni’matullah Erbe (wakil ketua DPRD Sulsel) dan Moch. Hasymi Ibrahim (seorang budayawan senior Sulsel) dalam beberapa pertemuan formal ataupun sekedar ngobrol ala warung kopi.

Dan betul, politik itu benar-benar akan terasa  “nyeni” jika lakonnya disertai dengan humor dan keceriaan.

Politik sebagai seni tindakan dan perilaku akan lebih elok lagi jika mengikuti tatakrama dan tatacara yang good manner yang selama ini eksis dalam budaya lokal kita.

Bahkan lebih dari itu, politik itu akan menempati kemuliaannya ketika ia berhasil membuat kehidupan masyarakat menjadi tentram, bahagia, dan sejahtera. 

Jadi sungguhlah miris jika para politisi, wakil rakyat, atau penguasa memiliki sense of humor yang kurang memadai.

Mereka akan menampakkan wajah politik yang datar, kaku, dan seram.

Padahal wibawa mereka tidak akan berkurang sedikitpun jika mereka bisa tampil dengan ramah. 

Asalkan jangan juga sampai dipaksa-paksakan atau penuh poles sehingga ekspresi mereka kelihatan palsu dan tidak genuine. Ingat, proporsionalitas itu tetap penting dalam humor politik sekalipun.

Maka pada galibnya para politikus itu harus selalu bisa tampil menarik, ramah, santun, dan berkarakter.

Mereka yang selalu tampil menggertak cenderung tidak disukai publik.

Atau jangan-jangan mereka itu rombongan “monster” yang sedang tersesat dalam rimba politik.

Soalnya file-file sejarah sudah sesak menyimpan dan mencatat perilaku buruk para penguasa yang zalim dan bengis seperti Fir’aun dan sejenisnya. 

Apalagi pada era posdemokrasi seperti yang disinggung oleh Colin Crouch (2004) dimana para wakil rakyat, politikus atau penguasa yang tidak bisa tampil prima akan menjadi objek kritik, gunjingan dan olok-olokan yang empuk untuk ditertawakan bahkan oleh para pemilih mereka sendiri tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

Begitulah keterbukaan panggung politik yang kini bisa diakses oleh media dan publik sehingga dapat mempelototi lakon para politisi dan penguasa dengan teliti dan siap menguliti jika mereka tampil buruk dan mengecewakan.  

Karenanya, para politisi atau penguasa harus bisa merespon situasi dengan cermat. Para pendukung, pengkritik, pesaing, penantang, kawan, ataupun lawan politik mesti diposisikan secara bijak tanpa mesti mengerutkan dahi dan melototkan mata pada mereka yang berbeda.

Sebab kalau politik diperankan secara kasar maka ia bisa menjadi horor dan teror bagi siapapun juga.  

Politik yang lentur, ramah, humanis, dan bertanggung jawab tidak berarti bahwa ia lembek dan tak bergigi.

Politik bisa jadi lunak atau keras tergantung konteksnya. Ada saatnya politik itu digunakan secara lemah lembut.

Tetapi pada keadaan tertentu politik itu bisa tegas, garang, dan mengancam. Pada karakter politik yang lentur itulah maka si pelaku dapat tampil ramah dan bisa langsung memukul kawan maupun lawan.

Karena salah satu fungsi humor politik itu ia bisa dipakai menebas dan menangkis serangan lawan jika digunakan secara tepat, terukur, dan proporsional. 

Politik yang dilakonkan secara riang gembira membuat politik akan menjadi menarik, ramah, dan membahagiakan.

Politik yang sehat itu akan digandrungi banyak orang dan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat serta akan menciptakan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dan yakinlah bahwa politik yang riang gembira itu akan mampu mewujudkan impian “Good Society” menjadi “Great Society” sehingga kedamaian, kesejahteraan, kebebasan, keadilan, dan keberlanjutan bisa dicapai sampai pada tingkat peradaban maju dan tinggi. Karena Indonesia hadir untuk itu. *  * * * *

 
 

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved