Catatan Bola Willy Kumurur
Catatan Bola: Panggung Sastera Bola
Di bawah asuhan Tuchel, Chelsea tampil trengginas dan “indah”. Dengan “sastera sepakbola” nya, Tuchel mempecundangi Manchester City 1-0 di semifinal
Panggung Sastera Bola
Oleh: Willy Kumurur
Penikmat bola
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - SANG WAKTU adalah sekuens linier yang didefinisikan oleh masa kini; dalam pemahaman linier ini, masa depan belum terjadi, sedangkan masa lalu bukan lagi bagian dari masa kini. Jika waktu dipecah-pecah menjadi beberapa satuan regular -detik, menit, jam- maka inilah pemahaman fundamental dari waktu.
Demikian ujar filsuf Inggeris, Simon Critchley, tatkala memulai uraiannya tentang apakah sepakbola dapat memicu perjalanan waktu.
Lanjut Simon Critchley, tatkala kita menonton permainan sepakbola, waktu dapat terasa bertambah cepat atau malah berjalan lambat, seakan-akan intensitas waktu dapat bergeser.
Kita tak mengalami waktu sebagai sebuah kontinum, melainkan rangkaian intensitas yang berubah-ubah bentuk dan berkembang.
Terkadang ada periode penuh kebosanan total, namun terkadang ada momen waktu seolah berjalan lebih cepat.
Anehnya, di dalam sepakbola, waktu menunjukkan bentuknya yang berbeda, yaitu: cair.
Keluarga Simon Critchley semuanya berasal dari Liverpool dan karena itu ia adalah penggemar berat klub Liverpool.
Yang menarik adalah sebagai filsuf, ia menulis buku tentang bola, yang terbit akhir 2017 berjudul: What We Think About When We Think About Football.
Dalam bukunya itu, ia berusaha menjabarkan sebuah "puisi baru sepakbola", yaitu cara membincangkan sepakbola yang tidak lebay atau elitis, namun keluar dari perangkap bahasa klise dan retorikal.
“Sastra bola” itu pernah hadir di Camp Nou, markas besar FC Barcelona, di era Pep Guardiola.
Ketika itu, menyaksikan permainan Barcelona laksana menikmati keindahan konser musik klasik Antonio Lucio Vivaldi pada komposisi Serenade La Sena Festeggiante (festival di Sungai Seine).
Alur serangan yang dibangun dari lapangan tengah mengalir bagai gesekan biola maestro Vivaldi.
Namun seiring dengan kian tingginya tempo permainan, musik klasik berubah menjadi musik rap mengiringi irama tiki-taka ciptaan Pep Guardiola.
“Lihatlah, jika Anda memiliki satu tembakan, atau satu kesempatan ‘tuk merebut segala sesuatu yang Anda pernah ingin pada satu saat. Apakah Anda menangkap itu atau hanya membiarkannya tergelincir?”
Itulah sepenggal lirik lagu Marshall Bruce Mathers III (Eminem), lagu favorit Lionel Messi.
Musik sanggup mengiaskan dan menganalogikan segala sesuatu.
Tak ada yang eksis tanpa musik, alam semesta telah dibingkai oleh harmoni suara, dan surga pun berdendang dalam nada-nada harmoni, ujar pepatah Perancis.
Keindahan kemudian identik dengan Barcelona kala itu, dan ketika Pep Guardiola pindah ke Bayern Muenchen dan kini Manchester City, keindahan itupun “pindah”.
Dalam bukunya The Meaning of Art, Herbert Read, merumuskan keindahan sebagai sebuah unifikasi arti relasi-relasi bentuk yang terdapat di antara pencerapan-pencerapan inderawi kita; dan filsuf Thomas Aquinas merumuskan keindahan itu sebagai suatu yang menyenangkan bila dilihat.
Ciri keindahan adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance) dan perlawanan (contrast); yang kesemuanya dimiliki The Citizens.
Liga Champions Eropa, telah “memanggil” dua finalis, yaitu Manchester City dan Chelsea. Sang takdir mempertemukan mereka di Estadio do Dragao, Portugal, Minggu (30/5/2021) dini hari nanti.
Laga yang akan kembali menghadirkan duel adu taktik antara pelatih The Citizens, Pep Guardiola, dengan pelatih Chelsea, Thomas Tuchel.
Di bawah asuhan Tuchel, Chelsea tampil trengginas dan “indah”. Dengan “sastera sepakbola” nya, Tuchel mempecundangi Manchester City 1-0 di semifinal Piala FA, serta mampu mengalahkan pasukan Pep Guardiola 1-2 di Etihad Stadium pada laga pekan ke-35 Liga Inggris.
Karena itulah, Tuchel yakin pasukannya akan kembali membenamkan City di final Liga Champions.
"Manchester City adalah patokan di Eropa dan Premier League. Kami tantang mereka dan itulah yang akan kami lakukan selama 90 menit penuh di Porto."
Namun, Pep Guardiola menegaskan bahwa hasil dalam laga sebelumnya tak akan berpengaruh di final Liga Champions.
Pep yakin pasukannya bakal sanggup membalas dua kekalahan sebelumnya di laga final nanti. Apalagi, di final Piala FA, Chelsea ditumbangkan oleh Leicester City, dan di Liga Primer, Aston Villa menghabisi Chelsea.
Ternyata, Chelsea bisa dikalahkan. “Kubu kami mempersiapkan duel final ini dengan sangat baik. Kami bertekad menghadirkan trofi Champions ke lemari klub untuk pertama kalinya dalam sejarah,” ujar Pep Guardiola.
Kolumnis koran Irlandia, Irish Examiner, Tommy Martin menulis bahwa City dan Chelsea dimiliki oleh orang-orang kaya yang mengerikan.
Namun Martin melanjutkan tulisannya, “Bukankah orang kaya yang mengerikan telah mensponsori seni yang hebat selama berabad-abad. Tanpa Borgia yang haus darah di Renaissance Italia, tidak akan ada Monalisa…….”
Byzantium atau Istanbul, Turki gagal menjadi tuan rumah final Liga Champions. Padahal, riak air di Selat Bosporus yang membelah Istambul menjadi dua, akan menari kegirangan menyambut kemenangan sang juara, sekaligus berlinang air mata meratapi kekalahan sang pecundang.
Final Liga Champions dipindahkan ke Porto – Portugal. Ke sanalah dua pelatih jenius, Pep Guardiola dan Tuchel, membawa “mesin-mesin perang”nya yang akan saling “menggilas” dalam perang bintang di medan pertempuran yang bernama Estadio do Dragao.****
Penulis adalah penikmat bola, tinggal di Bogor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/willy-kumurur_20180213_064430.jpg)