Breaking News:

Tribun Opini

Maros Menuju Kabupaten Surga Buku di Sulawesi Selatan

Jika saja buku mengandung racun, jika buku dipalsukan akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.

Editor: Imam Wahyudi
sayyid/tribun-timur.com
Bachtiar Adnan Kusuma 

Benarlah, Bupati dan Wakil Bupati Maros, H.A.S.Chaidir Syam dan Hj. Suhartina Bohari, menempatkan literasi sebagai sesuatu yang sangat penting dalam membangun karakter masyarakat Maros sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi sebuah peradaban. Penulis, menggagas dan memprakarsai Sekolah Menulis Buku Keren pertama di Sulawesi Selatan yang dilaksanakan Ikatan Pustakawan Indonesia Kab. Maros. Launching dan dibuka Bupati Maros H.A.S. Chaidir Syam, Minggu 11 April 2021 di SMP Negeri 2 Maros dihadiri Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel H.Moh.Hasan, S.H.M.H., Anggota Komisi E DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Ir.Andi Muhammad Irfan AB, M.Si., Kadis Pendidikan Kab. Maros, Asisten II Pemerintah Kab. Maros dan diikuti 25 orang peserta putra-putri Maros dan juga peserta dari Kab. Pangkep, Takalar, Makassar, Gowa.

Menurut Chaidir Syam, Sekolah Menulis Buku Keren, diharapkan menjadi pemicu berkembangnya semangat literasi di Kab. Maros yang selama ini telah tumbuh dan berkembang dengan berbagai kegiatan yang telah dilakukan para pegiat literasi di Kab. Maros.Karenanya, Chaidir Syam, berharap dengan hadirnya Sekolah Menulis Buku Maros Keren ini, bisa menghasilkan karya-karya yang bisa menjadi catatan dan warisan kita semua. Untuk menunjukkan kalau Kab. Maros akan menjadi kabupaten Literasi pertama di Sulawesi Selatan, para kolega mantan Ketua DPRD Maros yang saat ini menjabat anggota DPRD Maros Periode 2019-2024 telah memprakarsai hadirnya Ranperda Literasi Kab. Maros sebagai hak inisiatif DPRD Maros tahun 2019-2024.

Hemat penulis, Kab. Maros layak menjadi kabupaten literasi pertama di Sulawesi Selatan. Selain menyandang predikat nasional sebagai kabupaten penerima penghargaan nasional sebagai pengelola terbaik nasional Perpustakaan Desa di Sulawesi Selatan, 2017, Kab. Maros memiliki 80 desa dan 23 kelurahan nyaris total telah memiliki perpustakaan desa dan ruang baca yang menarik ( 79 Perpustakaan Desa/Kelurahan).Selain itu, Kab. Maros telah memiliki 100 unit perpustakaan masjid, perpustakaan SD 156 unit, perpustakaan SMP 35, perpustakaan daerah 1 unit, perpustakaan keliling 1 unit,  perpustakaan jeruji 1 unit, perpustakaan mini Kantor Bupati Maros 1 unit dan perpustakaan bandara 1 unit. Karena itu, Maros punya prospek besar menjadi kabupaten literasi pertama di Sulawesi Selatan.

Karakter, Buku dan  dan Masa Depan Kita

Karakter atau watak adalah sifat bathin yang dimiliki setiap manusia dan memengaruhi pikiran, budi pekerti dan tabiat yang dimiliki manusia atau mahluk lainnya. Karakter manusia terhadap buku dan budaya membaca tentu berbeda-beda setiap orang. Makanya, dalam buku pendidikan Karakter Perspektif Islam disebutkan bahwa karakter berasal dari bahasa latin “ kharakter, “ kharessein” “kharax, sementara dalam bahasa Inggris “character dan bahasa Indonesia “ karakter”. Dalam perspektif ilmu psikologi, karakter adalah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan pada suatu tindakan seorang invididu. Jadi, karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagau cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, andaikan Proklamator Bung Hatta masih saja hidup, ia akan sedih dan prihatin melihat wajah pendidikan kita yang semakin hari menunjukkan ketertinggalan dari negara-negara lain  di dunia. Bung Hatta adalah Bapak pendiri Bangsa Indonesia bersama Bung Karno yang dikenal memiliki kepedulian besar bagi tumbuhnya minat baca Indonesia. Kecintaan Bung Hatta terhadap buku, membuatnya memboyong puluhan buku-bukunya ikut menyertai saat di buang di Boven Digul.

Apa perbedaan Bung Hatta dan Tan Malaka dalam menempatkan buku sebagai benda yang amat dihargainya? Kalau Bung Hatta berhasil membawa puluhan, bahkan ratusan buku-bukunya ke penjara, sementara Tan Malaka ratusan buku-bukunya tenggelam di laut saat ia membawanya ke penjara. Kedua tokoh Bapak bangsa kita, punya karakter dan memiliki perbedaan satu dengan lainnya.

Dan, Indonesia tak bisa dipungkiri bangsa yang belum gemar membaca, dan masih saja tetap di nomor urut sepatu jika kita sandingkan minat baca negara-negara Asean lainnya. Padahal membaca adalah kunci pembuka ilmu pengetahuan. Kalau malas membaca, apalagi tak bisa membaca, ini sebuah pertanda kedangkalan wawasan. Wawasan dangkal, maka pendidikan rendah. Kalau pendidikan rendah, kemiskinan mengancam. Yang terjadi adalah semacam lingkaran setan keterpurukan bangsa ini.

Kalau minat baca rendah, maka pasti ada efek domino setelahnya. Contohnya, anak-anak akan lebih gemar menonton TV. Mereka nyaris habis waktunya di depan TV sekitar empat hingga lima jam perhari atau sekitar 30 hingga 35 jam dalam sepekan. Artinya, setahun anak-anak kita menonton televisi sekitar 1.600 jam. Padahal, buku itu gudangnya ilmu pengetahuan. Dan, perpustakaan gudangnya buku. Artinya perpustakaan itu  “ maha gudangnya “ ilmu. Tapi coba kita seksamai kondisi perpustakaan sekarang betul-betul menjadi gudang ilmu. Kondisinya memang persis gudang, berantakan dan berdebu. Ironisnya, minim pengunjung dan lebih tepat dijuluki “ Museum buku”. Di dalamnya banyak barang-barang antik, usang dan tak terawat. Buku-bukunya seperti kitab-kitab dari zaman Majapahit. Kertasnya sudah menguning dan berlapis debu tebal.

Sekali lagi, Mari kampanyekan Maros Menuju Kota “Surga” Buku

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved