Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Gempa Bumi

Viral Info Gempa Bumi 8,8 SR dan Tsunami 20 Meter Berpotensi Terjadi di Pulau Jawa, Begini Faktanya

Viral info gempa bumi 8,8 SR dan tsunami 20 meter berpotensi terjadi di selatan Jawa, begini faktanya.

Editor: Edi Sumardi
KYODO NEWS
Ilustrasi gempa bumi yang memicu gelombang tsunami. Viral info gempa bumi 8,8 SR dan tsunami 20 meter berpotensi terjadi di selatan Jawa, begini faktanya. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Viral info gempa bumi 8,8 SR dan tsunami 20 meter berpotensi terjadi di selatan Jawa, begini faktanya.

Viral di media sosial kabar soal gempa bumi 8,8 SR berpotensi terjadi di selatan Jawa, pantai Cilacap, Yogyakarta, hingga Jawa Timur.

Gempa bumi tersebut bisa memicu tsunami setinggi 20 meter.

Bahkan, demi mengantisipasi terjadinya gempa bumi bermagnitudo besar itu, berbagai langkah telah dilakukan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kulon Progo, Yogyakarta telah mempersiapkan 49 desa tangguh bencana untuk mengatasi permasalahan kebencanaan di kabupaten setempat.

Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo, Ariadi mengatakan keseluruhan destana itu telah tersebar di setiap kalurahan maupun kelurahan.

Betulkah kabar potensi gempa bumi 8,8 SR yang bisa memicu tsunami setinggi 20 meter?

Berikut faktanya.

Informasi terkait dengan potensi gempa bumi 8,8 SR yang bisa memicu tsunami setinggi 20 meter juga sempat muncul pada 2019 lalu.

Pada saat itu, jadi sorotan pemberitaan di media massa Tanah Air.

Warga pun dibuat resah, utamanya yang bermukim di Pulau Jawa.

Merespon keresahan masyarakat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) menyampaikannya penjelasannya melalui siaran pers tertanggal 21 Juli 2019.

Dalam keterangannya, BMKG menyampaikan bahwa Indonesia sebagai wilayah yang aktif gempa bumi memiliki potensi gempa bumi yang dapat terjadi kapan saja dan dalam berbagai kekuatan.

Berdasarkan kajian para ahli bahwa zona megathrust Selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum 8,8 SR.

Namun, sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat dan akurat kapan, dimana, dan berapa kekuatannya, sehingga BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi.

BMKG pun menyampaikan himbauan untuk melakukan upaya mitigasi struktural dan non struktural dengan membangun bangunan aman gempa, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman tsunami, serta membangun kapasitas masyarakat terkait upaya penyelamatan saat terjadi gempa bumi dan tsunami.

BMKG masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing dengan kabar yang tak terverifikasi kebenarannya.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati pada Kamis (4/3/2021) mengatakan, ada peningkatan aktivitas gempa di kawasan selatan Jawa Timur dalam 5 tahun terakhir.

Hal ini menimbulkan potensi gempa yang lebih besar maupun tsunami.

Dia mengatakan, masyarakat harus mewaspadai potensi dan risiko terjadinya gempa besar ini dengan mempersiapkan jalur evakuasi ke daerah yang dianggap aman, terutama di ketinggian.

Dwikorita Karnawati menyampaikan itu saat bertemu dengan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Kata dia, berdasarkan analisis BMKG, kemungkinan terburuk bisa terjadi gempa berkekuatan 8,7 SR dan juga berpotensi tsunami di selatan Jawa Timur, termasuk di Banyuwangi.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono pernah mengatakan, masyarakat harus mau jujur mengakui dan menerima kenyataan bahwa wilayah Indonesia memang rawan gempa dan tsunami.

"Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat sehingga wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami," kata Daryono saat masih menjabat sebagai Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Sabtu (20/7/2019).

Sejarah mencatat tsunami selatan Jawa pernah terjadi pada 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006.

"Ini bukti bahwa informasi potensi bahaya gempa dan tsunami yang disampaikan para ahli adalah benar, bukan berita bohong," ujar Daryono.

Lalu bagaimana dengan pembentukan 49 desa tangguh bencana sebagai antisipasi menghadapi kemungkinan terburuk?

Pembentukan 49 desa tangguh bencana di Kulon Progo oleh BPBD memang benar adanya.

Sebab, Kabupaten Kulon Progo termasuk wilayah yang rawan terdapat bencana gempa bumi dan tsunami

Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo, Ariadi mengatakan keseluruhan destana itu telah tersebar di setiap kalurahan maupun kelurahan. 

"Apalagi di sepanjang pantai selatan Kabupaten Kulon Progo sudah terdapat destana. Selain itu kami persiapkan juga terkait dengan sarana dan prasarana (sarpras) ke depannya," katanya di sela acara sekolah lapang geofisika di Balai Desa Glagah, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Selasa (16/3/2021). 

Demikian dilansir Tribun Jogja.

Terlebih pada 2022 mendatang, BPBD Kulon Progo menargetkan sebanyak 75 desa tangguh bencana sudah terdapat di kabupaten setempat. 

Dikarenakan berdasarkan hasil analisis matematis yang dilakukan oleh BMKG, di pesisir pantai selatan Kabupaten Kulon Progo diprediksi terjadi gempa bumi berkekuatan 8,8 SR.

"Dari prediksi itu, kami mengajak masyarakat untuk mengikuti berbagai pelatihan agar mereka tidak kaget bila nantinya terjadi bencana alam. Sehingga dapat mencegah jumlah korban jiwa yang berjatuhan akibat dari bencana tersebut," ucapnya.(tribun-timur.com/kompas.com/tribunnews.com/tribunjogja.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved