Klakson
Senyum
HARI-HARI ini, ketika politik menjadi pasar yang tak pernah sepi walau virus masih tak menepi, ketika politik hanya melahirkan pertengkaran yang tak
Abdul Karim
Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora (MDH) Sulsel
HARI-HARI ini, ketika politik menjadi pasar yang tak pernah sepi walau virus masih tak menepi, ketika politik hanya melahirkan pertengkaran yang tak jelas ujungnya, ketika penjahat mengutuk penjahat yang tersergap--kita seolah hidup di hutan rimba yang ganas.
Sebuah dunia yang sepi optimisme akan keselamatan seluruh penghuninya.
Sebab, yang kuat di suatu waktu dimangsa oleh yang kuat lainnya.
Yang jahat, di lain masa akan dijahati oleh penjahat lainnya.
Kecemasan lantas menjadi suara-suara menyeramkan.
Di situlah kita perlu senyum.
Senyum akan mengantarkan kita pada dunia yang ramah tanpa kecemasan yang mengerikan.
Senyum membawa kita untuk mengenali liuk-liuk prikehidupan.
Senyum membenamkan kita pada dunia yang konon menyehatkan.
"Senyum itu ibadah," kata pengkhutbah agama.
Dan menurut sebagian orang--terutama penganjur kesehatan--membilangkan senyum itu menyehatkan.
Jadi, bila hendak beribadah, ingin sehat, ongkosnya tak ada, rajin sajalah tersenyum.
Tetapi Covid 19 selalu saja membuat kita murung.
Ketika Jokowi didaulat menjadi Wali Kota Solo, senyumlah menjadi grand programnya.
Di setiap kantor jawatan, ia menginstruksikan pejabat dan pegawai untuk menebar senyum.
Kadis Satpol PP ia mutasi lantaran mengajukan anggaran untuk pembelian pentungan.
Sang wali kota heran; "Siapa yang hendak engkau pukul?". Warga tak boleh dipukul. Ia harus dipikul, tentu dengan senyum."
Hasilnya, layanan pemerintahan untuk warga mengalir tanpa kebuntuan.
Padahal, sebelumnya layanan pemerintahan seringkali mengalami kebuntuan.
Di situ, senyum meretakkan kebuntuan yang menyumbat.
Di situ senyum adalah solusi. Itu dulu, saat memimpin Solo.
Tetapi sepantasnya, senyum menjadi program kampanye setiap perhelatan kontestasi politik, saat Pemilu atau saat Pilkada.
Barangkali ini penting agar politik tak berlangsung dengan ketegangan yang massif.
Kita butuh calon kepala daerah yang mengandalkan senyum sebagai program politiknya, yang mengandalkan senyum sebagai kekuatan mengelolah pemerintahan.
Tak usah menjanji rakyat dengan kalimat-kalimat ribet.
Cukup meyakinkan rakyat bahwa program senyum akan membuat seluruh lapisan masyarakat tersenyum kelak.
Di saat mereka memerlukan layanan pemerintah, senyum ceria pasti ada, sebab mutu layanan yang terberikan.
Tak ada lagi warga merintih karena kemiskinan, semua akan tersenyum lantaran program yang dilancarkan memang mengusir kemiskinan.
Rakyat pasti tersenyum.
Bukan murung.
Kita perlu wakil rakyat yang menjalankan senyum sebagai agenda politik dalam memperjuangan rakyat yang diwakili.
Kita butuh wakil rakyat yang tak senyum sesaat sahaja, yakni saat di musim kampanye.
Tetapi kepala daerah dan wakil rakyat biasanya memang hanya tersenyum saat kampanye dan saat pemilihan akan segera berlangsung.
Barangkali takdir senyum dalam politik memang sebatas itu.
Senyum hanyalah vitamin untuk menaikkan elektabilitas, walau itu kadang terbatas.
Karena itu, bila hendak terpilih sebagai wakil rakyat atau kepala daerah, perbanyaklah senyum.
Itu sebuah upaya.
Dan kini, masa senyum itu telah berlalu seiring dilantiknya sejumlah kepala daerah.
Tetapi di China senyum pernah menjadi bencana bagi seorang pejabat publik (ASN).
Pada 2012 silam, Yang Dacai dipecat dari jabatannya karena ia tersenyum lebar saat berada di sebuah lokasi kecelakaan bus pada 26 Agustus 2012 lampau.
Kecelakaan bus itu menewaskan 36 orang.
Di lokasi kecelakaan itu, Yang Dacai tanpa sengaja sedang tersenyum lebar.
Sejumlah fotonya yang sedang tersenyum lebar di lokasi kecelakaan di sebuah jalan raya di Yan'an, di bagian utara Shaanxi, muncul di internet.
Pejabat provinsi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah membebaskan Yang Dacai dari semua tugas resminya karena "kesalahan serius", yakni, senyum di lokasi kecelakaan.
Di sini, senyum membawa sepi.
Setelah dipecat, Yang Dacai kesepian.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim-1-1032021.jpg)