Breaking News:

Khazanah Sejarah

Sisi Lain di Balik Gempa Sulbar 1967, Sebuah Pengalaman Pribadi

Gempa Tinambung terjadi tahun 1967,58 meninggal dunia.Setelah gempa Tinambung datang 3 tokoh membantu pemulihan akibat gempa dan mendirikan pesantren

Editor: AS Kambie
TRIBUN TIMUR/DESI TRIANA ASWAN
Prof Dr Ahmad M Sewang MA 

Satu lagi tokoh bersaksi atas Gempa Sulbar yang terjadi sebelum gemba Sulbar Januari 2021 ini. Prof Dr Ahmad M Sewang menceritakan pengalaman pribadi dalam tulisan ini menghadapi Gempa Sulbar tersebut, atau Gempa Tinambung, itu. Ketika itu, Prof Dr Ahmad M Sewang berusia 15 tahun. Prof Ahmad M Sewang juga hampir jadi korban dalam reruntuhan masjid. Tapi saat kejadian, tidak seperti biasanya, Ahmad M Sewang tidak ke masjid karena lagi sakit. 

Sisi Lain di Balik Gempa Sulbar 1967, Sebuah Pengalaman Pribadi

Oleh

Ahmad M Sewang
Penulis adalah Cendekiawan Muslim/Ketua DPP IMMIM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tepat 11 April 1967 sekitar pukul 13.00 wita, terjadi gempa tektonik di lepas pantai Tinambung, Sulawesi Barat (Sulbar).

Sejumlah 58 orang yang meninggal dunia ketika itu dan juga banyak bangunan hancur. Belum lagi dampak lanjut dari gempa dengan banyaknya pengunsi mencari tempat aman. Mereka mengungsi ke daerah yang jauh dari pusat gempa.

Sebaliknya, banyak juga yang tetap bertahan di rumah masing-masing, tidak mengungsi, untuk menjaga harta benda mereka dari penjarahan.

Saya merasakan betul kejadian itu, sebab saya masih di daerah. Saat itu saya terbaring karena mulas. Untung juga sakit karena biasanya rajin ke masjid salat rawatib. Saya alfa ke masjid karena sakit sehingga terhindar dari reruntuhan masjid akibat gempa.

Kampung saya sejak dahulu kala masyhur karena memiliki stok banyak ulama. Di sini lahir KH Muhamad Tahir yang dikenal dengan gelar Iman Lapeo. Sedang ulama yang masih aktif mengajar saat itu adalah KH Muhammad Saleh, Syekh Hasan Jamalullail, Habib Husain al Attas, KH Ismail, KH Hafid, KH Muhammad Said, KH Abdullah, KH Abd Rasyid, dan ulama-ulama lainnya.

Para ulama yang aktif mengajar itu juga memiliki asisten, yaitu Ustad Abdulrahman, Ustad (KH) Syauqaddin, Ustad Muh Yasin, Ustad Ismail, dan Ustad Alwi.

Di tengah pengungsian, terjadi sebuah perdebatan yang membagi ulama dalam dua pandangan, sekaligus juga  membedah umat pada dua kelompok, tentang masalah perlu-tidakknya mengungsi.

Saya yang masih berumur 15 tahun saat itu sedang dalam pencaharian jati diri, banyak mendengar dan asyik menikmati perdebatan itu.

Kelompok pengungsi beralasan seperti kisah Umar bin Khattab, ketika rombongan akan memasuki kota Syam yang sedang dilanda wabah penyakit. Umar bin Khattab mengusulkan lebih baik lari dari takdir buruk menjauhi wabah penyakit dan kembali ke Madinah menuju takdir baik.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved