Breaking News:

Khazanah Sejarah

Sisi Lain di Balik Gempa Sulbar 1967, Sebuah Pengalaman Pribadi

Gempa Tinambung terjadi tahun 1967,58 meninggal dunia.Setelah gempa Tinambung datang 3 tokoh membantu pemulihan akibat gempa dan mendirikan pesantren

Editor: AS Kambie
TRIBUN TIMUR/DESI TRIANA ASWAN
Prof Dr Ahmad M Sewang MA 

Sedang orang yang tidak ingin mengungsi juga punya argumen teologis kuat, yaitu teologi Jabariah dengan dasar al Quran, ke mana pun pergi di belahan bumi ini, jika ajal sudah tiba pasti maut akan menjemput, seperti dijelaskan Allah QS al Nisa: 78, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, ...”

Kampung ini, Tinambung, memang kelebihan stok ulama, sedang penyalurannya terbatas. Akhirnya apa saja bisa didiskusikan yang mungkin bagi orang lain menganggapnya tak perlu, apalagi dalam suasana duka.

Walau demikian, saya berusaha menikmati suasana itu. Bahkan dalam biografi yang kutulis sendiri. Saya menyatakan bangga lahir di sini dan berterima kasih pada Sang Pencipta sebab ditakdirkan lahir di kampung bersahaja ini. Alasannya bisa dibaca pada buku biografi saya.

Dalam kondisi keprihatinan akibat gempa, banyak perantau yang sudah lama bermukim di negeri orang. Mereka turun gunung berdatangan di kampung menyatakan rasa solidaritasnya.

Di antara mereka ada pengusaha sukses yang sudah lama tinggal di Makassar, seperti  Haji Andana. Ada juga ilmuwan, seperti Dr KH Mochtar Husein, dan Haji Muhammad Mu'thi, seorang yang kaya ide dan penuh inisiatif. Mereka ini, saya sebut "tiga sejoli" yang merehabilitasi kambali puin-puin reruntuhan kampung akibat gempah.

Haji Andana rela menyumbangkan tanahnya untuk pembangunan Pesantren Nuhiyah, Dr KH Mochtar Husein telah mencurahkan pikirannya dalam mencarikan dana pembangunan gedung pesantren sampai ke Arab Saudi, dan Haji Muhammad Mu'thi yang menghabiskan seluruh tenaganya dalam merehabilitasi Masjid Jami dan mewujudkan bangunan Pesantren Nuhiyah seperti yang bisa disaksikan sekarang. 

Mereka juga menginisiasi mendirikan madrasah Sanawiyah Nuhiyah. Madrasah ini telah menyelamatkan banyak generasi muda di kampung. Di madrasah inilah saya menjadi siswa angkatan pertama dalam menimbah pengetahuan.

Guru yang mengajar direkrut dari para ulama di atas. Semua guru dan "tiga sejoli" tersebut di atas, telah berjasa besar dan semuanya sudah dipanggil Allah swt ke kehadirat-Nya, kecuali satu-satunya yang masih hidup, yaitu KH Syauqaddin, Ketua BAZDA, kabupaten Mjene sekarang.

Beliau masih sehat waafiat yang baru saja saya berkomunikasi dengannya lewat handphone dan beliau menjadi nara sumber dalam menulis pengalaman ini. Para guru yang mengajar di madrasah tersebut sudah sampai ke derajat al-Allamah dan sudah dipanggil Yang Maha Pemilik, karena itu sebaiknya kita doakan mereka dengan mengirimkan surah al- fatihah.

Hari Kamis dan Jumat lalu, daerah ini lagi-lagi kembali dirundung malang berupa gempa 6,2 skala richter.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved