Klakson
Gus Dur
SATU di antara sekian banyak yang patut direplikasi dari seorang Gus Dur adalah cara ia menyiapkan diri muncul sebagai seorang politisi kebangsaan.
Abdul Karim
Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora (MDH) Sulsel
SATU di antara sekian banyak yang patut direplikasi dari seorang Gus Dur adalah cara ia menyiapkan diri muncul sebagai seorang politisi kebangsaan.
Ia tak hadir begitu saja di kancah politik.
Ia tak terjun bebas dilapangan politik yang begitu lempang tak berbatas.
Gus Dur membekali diri sebelum menuju politik.
Ibarat perantau yang hendak mengadu nasib ditanah seberang, ia mencukupi dirinya pelabur tebal.
Bagai seorang awak perang, ia membaluti dirinya dengan ransum yang rimbun.
Dan semua itu tak memerlukan waktu ringkas.
Butuh tempo panjang nan menjulang.
Apa bekal Gus Dur yang ia siapkan?
Bukan uang, bukan harta.
Tetapi kapasitas SDM nya ia siapkan dan tempa sepanjang waktu.
Di usia 22 tahun, Gus Dur menaruh minat pada masalah identitas umat Islam.
Karya-karya intelektual muslim modern –misal Sayyid Quthub, Sayyid Ramadhan, Hasan al-Banna, dan Ali Abdul Raziq dari Al-Azhar, Mesir– ia lahap.
Lalu ia mulai bergulat dengan tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles, serta pemikir-pemikir penting dari cendekiawan Islam abad pertengahan.
Gus Dur juga akrab dengan buku-buku para pemikir modern Barat.
Sebut saja mahakarya Karl Marx, Das Kapital; novel-novel William Faulkner; filsafat Plato, Thalles; Little Red Book karya Mao Zedong; dan What Is To Be Done nya Valdmir Lenin.
Gus Dur gemar pula membaca biografi tokoh-tokoh besar Amerika, utamanya Abraham Lincoln, Harry S Turman, dan Franklin D Roosevelt.
Dengan itu semua, kentara bila Gus Dur menyiapkan diri dengan matang sebelum ke politik.
Pasca itu, ia lalu menempa dirinya sebagai intektual publik.
Pertengahan 1970-an tulisan-tulisannya mulai terbit secara teratur di majalah Tempo.
Di sini Gus Dur adalah penulis produktif sebelum berpolitik.
Gus Dur lalu masuk dalam lingkaran intelekual muda yang disegani saat itu, yakni, Lembaga Pengkajian Pengetahuan, Pendidikan, Ekonomi, dan Sosial (LP3ES).
Di sana ia berjumpa sejumah intelektual tersohor, antara lain; Adi Sasono, Dawam Rahardjo, dan Aswab Mahasin.
Gus Dur lantas jadi salah satu kontributor tetap bagi jurnal Prisma terbitan LP3ES.
Prisma adalah sebuah jurnal intelektual-aktivis yang cukup populer saat itu.
Di situ pulalah Gus Dur semakin massif membangun hubungan dengan pesantren, khususnya di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Ia bekerja di LP3ES dalam program pengembangan pesantren.
Di sini, Gus Dur melatih diri melayani ummat.
Gus Dur intens roadshow dari pesantren ke pesantren lainnya.
Ia menemui para kiai, ustad muda, dan para santri.
Dawam Rahardjo, mantan Direktur LP3ES menyebut momentum roadshow pesantren itu adalah kesempatan Gus Dur dalam membangun kekuatan sosial berbasis pesantren.
Ia memperoleh simpati dan dukungan dilapis bawah.
Dalam politik, tentu ini adalah bekal pokok.
Singkat cerita, Gus Dur melengkapi dirinya dengan beragam pengetahuan, pengalaman melayani kaum bawah--terutama pesantren, dan pengalaman berinteraksi dengan kaum plural.
Perlengkapan diri itulah menjadi bekal Gus Dur terjun di politik.
Lantas bagaimana dengan politisi kita hari ini?
Bekal apa yang ia siapkan sebelum menceburkan diri di politik?
Bekal uang kah, atau bekal popularitas yang dikarbit?
Berapa banyak buku yang dilahap politisi kita sebelum berpolitik?
Berapa banyak tulisan yang diproduksi sebelum berpolitik?
Keterampilan apa yang diasah politisi kita sebelum terjun di politik?
Keterampilan bersilat lidahkah atau keterampilan mengurus ummat?
Karena itu, kepada para politisi tirulah Gus Dur menyiapkan ransumnya sebelum berpolitik.
Hari ini, tepat 11 tahun Gus Dur wafat.
Alfatihah.(*)
Tulisan ini juga dapat dibaca di harian Tribun Timur edisi, Rabu, 30 Desember 2020.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim-lapar-1-31102020.jpg)