Breaking News:

Khazanah Sejarah

Citizen Analisis: Mubalig Profesional yang Diciptakan, Seminar DPP IMMIM Akhir Desember 1980

BAnthony Joshua, pemegang rekor bayaran tinju termahal di dunia sampai sekarang, bayarannya tembus Rp552 juta per detik.

Editor: AS Kambie
TRIBUN TIMUR/DESI TRIANA ASWAN
Prof Dr Ahmad M Sewang MA 

Citizen Analisis: Mubalig Profesional yang Diciptakan

Ahmad M Sewang
Cendekiawan Muslim/Ketua Umum DPP IMMIM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Akhir Desember 1980 adalah hari yang tidak bisa dilupakan DPP IMMIM. Hari itu dilakasanakan Panel Diskusi dengan tema, "Mubalig Profesional."

Waktu itu, H Fadeli Luran masih hidup. Peristiwa itu, masih segar dalam ingatan saya, walau sudah empat dekade berlalu. Saya ingat karena sayalah diberi amanah Almarhum H Fadeli Luran sebagai ketua panitia pelaksana. Dalam arsip pribadi saya masih tersimpan rapi para tokoh masyarakat yang dilibatkan sebagai narasumber.

Diskusi itu berlangsung dua malam berturut-turut. Malam pertama, di Gedung Jiwa berhubung Aula DPP IMMIM terpakai. Malam kedua barulah di Aula DPP IMMIM sendiri.

Sebagian besar tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu sudah mendahului kita menghadap Allah SWT. Ada baiknya kita doakan mereka, semoga pemikiran dakwah yang mereka legacy-kan pada kita yang masih hidup saat ini menjadi amal jariah dan mendapat pahala dari Yang Maha Kasih, Al Faatihah …”

Tentu saja nama mereka tidak bisa disebut satu per satu mengingat keterbatasan ruang dan banyanya narasumber saat itu.

Yang dibahas dalam seminar 40 tahun lalu itu, mubalig professional, disinggung kembali, mengingat perhatian masyarakat dan harapan pada IMMIM akhir-akhir ini sebagai lembaga pengelola mubalig sangat besa.

Harapan tersebut tercermin dan dapat dibaca pada WA IMMIM terakhir ini. Mubalig profesional, didefinisikan bahwa orang yang bergerak di bidang tablig untuk mengajak ber-amar makruf nahi munkar masyarakat untuk meraih rida ilahi. Kata prfesional diartikan dalam bahasa Arab kaffa, dalam bahasa Indonesia, total.

Prefesional berasal dari bahasa Inggris profesion. Dalam dunia profesi selalu dihubungkan dengan upah, seperti petinju profesional yang diartikan, hidup dari profesinya sebagai petinju.

Antonim profesional adalah amatiran, alakadarnya, dan apa adanya tidak memerlukan bayaran, sekedar penyaluran hoby, seperti radio amatir yang tidak perlu bayaran.

Sebaliknya, beda dengan profesional yang selalu diartikan bayaran, misalnya petinju lagendaris Mohammad Ali. Sekarang muncul petinju baru kelas berat dari Inggeris, Anthony Joshua. Pemegang bayaran tertinggi ketika berhadapan Andy Ruiz. Anthony Joshua adalah petinju kelas berat pemegang rekor bayaran termahal di dunia sampai sekarang, bayarannya tembus Rp552 juta per detik. Bayaran keseluruhan $ 66 juta  (Rp1,2 triliun).

Bandingkan dengan seorang mubalig profesional. Rata-rata bayarannya Rp500 ribu setiap tampil di atas mimbar. Rp500 ribu dibagi 15 menit per tampil = Rp33,333 per menit atau 55 cent rupiah per detik.

Jika demikian, tidaklah mungkin menjadi mubalig profesional dalam pangertian bayaran. Mubalig yang bisa hidup layak dengan keluarga hanya mengandalkan bayaran. Karena tidak mungkin, maka lebih baik menghindari yang tidak mungkin itu, maka yang dimaksud mubalig profesional adalah "Profesional dalam penampilan tetapi amatiran dalam bayaran”. Itu sebabnya kebanyakan yang terjun ke dunia tablig adalah orang yang sudah memiliki pekerjaan tertentu dan bertablig adalah profesi tambahan sebagai panggilan agama.

Itulah salah satu keputusan diskusi panel ketika itu.

Ada seorang mubalig, ingin menjadikan tugas tablig sebagai profesi dengan menetapkan tarif, sehingga setiap naik mimbar jika amplopnya sebagai honor selalu diperhitungkan, jika dianggap kurang, ia tak segan menelepon panitia masjid agar ditambah honornya itu.

Mubalig yang mengaku mubalig profesional itu tidak mau tahu bahwa tugas tablig adalah bahagian dari tugas suci keagamaan.

Kami yang bergerak di lembaga mubalig mengetahui persis bahwa setiap panitia masjid sudah menyiapkan uang transfort sesuai kemampuan panitia sendiri, sebab mereka juga mengerti bahwa para mubalig yang datang menjalankan tugas tablignya juga memakai jasa transfort, karena itu, sudah jadi kesepakatan umum bahwa tidak ada satu pun panitia masjid di Makassar tanpa memberi penghargaan pada setiap mubalig yang naik di atas mimbar.

Insya Allah mubalig IMMIM tidak akan mengeluh berapa pun jumlah penghargaanya? sesuai kemampuan panita. DPP IMMIM pun, sejak masa almarhun Fuad Rumi sebagai ketua majlis dakwah telah membuat etika mubalig sebagai panduan. Satu di antaranya, mubalig sebagai orang yang bergerak di jalan Allah perlu mensucikan niat dan tidak boleh bersikap materialisme.

Ada seorang mubalig melanggar etika tersebut dengan memasan tarif, sehingga banyak keluhan masuk ke DPP IMMIM yang kemudian ditindaklanjuti. Kemudian kami memanggil yang bersangkutan.

Karena lama dia tidak memenuhi panggilan itu, akhirnya pengurus DPP IMMIM menyidangkannya secara in-absensia dan menutuskan pemberhentian sementara yang bersangkutan sampai ada klaripikasi dan jika keluhan itu benar, maka ia harus membuat pernyataan tertulis untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Agar penampilan mubalig tetap professiolal dalam melayani masyarakat, maka DPP IMMIM juga telah membuat kualifikasi mubalig dan klasifikasi masjid, masing-masing A, B, dan C. Mubalig yang berkualifikasi C tidak diperkenankan naik ke masjid yang berkelasifikasi A. Walaupun demikian, kualifikasi dan klasifikasi tersebut sangat dinamis dan setiap tahun dievaluasi berdasarkan isian form dari panitia masjid.

Seorang mubalig adalah manusia pilihan yang telah mewakafkan dirinya ke jalan Allah swt. Walau demikian, seorang mubalig harus memiliki kompetensi, baik yang  substantif atau pun metodologis.

Berhubung kompetensi yang disampaikan di sini adalah kompetensi maksimal, bukan berarti jika ada sedikit kekurangan seorang mubalig tidak boleh naik mimbar.

Kompetensi ini adalah kompetensi ideal yang sedapat mungkin bisa dipenuhi, yaitu:
1. Kompetensi substantif, meliputi:
a. Menguasi sumber primer dakwah berupa al Quan dan hadis,
b. Berwawasan luas.
c. Mengetahui dan fasih berbahasa Arab dan bahasa setempat di mana ia bertablig
d. Memiliki ketrampilan ITC,
e. Memiliki integritas pribadi.
2. Kompetensi Metodologois, sebuah metode penyajian materi tablig yang penuh hikmah. Ia harus sadar bahwa masyarakat yang dihadapi adalah masyarakat hetorogen dengan variasi penahaman keagamaan yang berbeda-beda dan tingkat pengetahuan yang beraneka.

Dengan kata lain, bagaimana memformulasi materi tablignya yang bisa diterima semua jamaah dan materi tersebut setelah tiba tiba di telinga jamaah terasa enak kedengaran.(*)
Wassalam,
Makassar, Akhir Desember 2020

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved