Citizen Reporter
BRPBAPPP Maros Webinar Tentang Sampah di Pesisir
BRPBAPPP Maros melaksanakan webinar dengan Tema Sampah di Pesisir, Pendekatan Masyarakat dan Tantangan Program GEMARIKAN
Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
Citizen Reporter, Andi Bahtiar, Humas Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Berlokasi di Maros
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros melaksanakan webinar dengan Tema Sampah di Pesisir, Pendekatan Masyarakat dan Tantangan Program GEMARIKAN, Berbagi Informasi untuk Penyuluh Perikanan, Kamis (11/12/2020).
Turut hadir pada kesempatan tersebut Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP, Lily Aprilya Pregiwati.
Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros, A. Indra Jaya Asaad, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Adi Fajar Ramly, WWF Indonesia, Erdi Lazuardi dan Dede Gilang dari Ditjen Penguatan Daya Saing Produk KKP.
Serta partisipan sebanyak 563 orang terdiri dari Penyuluh Perikanan, Dosen, guru dan staff Dinas Perikanan Kab/Kota.
Dalam Sambutan Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP menyampaikan bahwa tema webinar ini sangat menarik diakhir tahun 2020, mengingat fenomena Sampah di pesisir berupa plastik yang terbuang ke perairan khususnya muara sungai menjadikan kerusakan ekosistem perairan dan keberlangsungan sumberdaya perairan.
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan berkomitmen untuk mengurangi dampak sampah plastik, bekerja sama dengan Pemerintah Daerah melalui berbagai Langkah-langkah antara lain daur ulang sampah plastik di muara sungai dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat.
Ia menjelaskan, Khusus terkait sampah di wilayah pesisir menjadi semakin kompleks. Aliran saluran, sungai semuanya bermuara pada wilayah pesisir kita.
Pengelolaan sampah yang kurang bagus di wilayah hulu akan terdampak pada wilayah hilir dan sampai di pesisir.
Tentu saja masyarakat perikanan yang paling menerima dampak negatif jika tidak ada penanggulangan secara kolaboratif.
Belum lagi adanya tambahan sampah domestik, sampah industri dari kawasan pemukiman di pesisir. Ini semua terdekomposit di pesisir dan lautan kita.
Lebih lanjut lagi, sampah tersebut kemudian masuk ke ekosistem pesisir yang kita ketahui fungsi ekologisnya sebagai daerah nursery beragam jenis ikan.
Kondisi alamiah daerah tersebut dapat terkontaminasi dari tumpukan sampah yang mencemari pesisir.
Dampaknya tentu berpotensi terhadap kesehatan ikan baik untuk pertumbuhannya maupun pada kualitas karkas daging ikan tersebut.
Selanjutnya ikan tersebut dikonsumsi oleh kita sendiri, oleh generasi kita sendiri, bahkan KKP menggiatkan Gerakan Makan Ikan atau GEMARIKAN.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/brpbappp-maros-melaksanakan-webinar-dengan-tema-sampah-di-pesisir.jpg)