Tribun Klakson Hari Ini
Tribun Klakson: Mubazzir
Negeri ini tergolong negeri mubazzir. Pemerintahnya seringkali bertindak mubazzir. Kemubazziran itu terlihat dengan nyata nyaris disetiap tahun.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
Mubazzir, Oleh: Abdul Karim, Penulis & Pegiat Demokrasi
Negeri ini tergolong negeri mubazzir. Pemerintahnya seringkali bertindak mubazzir. Kemubazziran itu terlihat dengan nyata nyaris disetiap tahun.
Kemubazziran tanpa sengaja atau memang sengaja selalu berulang dari rezim ke rezim sejak era Pak Harto.
Kantor-kantor pemerintah nyaris setiap tahun ada yang dibongkar, ada yang direnovasi, tanpa alas pendapat yang terang.
Padahal, tak semua kantor yang dibongkar atau direnovasi itu tak memenuhi kelayakan. Malah bahkan masih sangat layak difungsikan sebagai kantor.
Tentulah ini kemubazziran nyata. Sebab kantor yang dibangun ulang itu, atau yang direnovasi itu menggunakan dana tebal. Bukan dana abal-abal.
Lalu semuanya atasnama dan untuk rakyat. Lalu benarkah selama ini kantor-kantor itu dipakai untuk melayani rakyat? Jangan-jangan hanya dipakai untuk mengakali warga, menyunat bantuan untuk mereka, atau kantor itu hanya untuk menjamu orang-orang khusus dengan segala jenisnya?
Pernah disuatu waktu, seorang rekan menceritakan sebuah pengalaman suram. Ia memasuki sebuah kantor pemerintah yang entah berapa kali direnovasi.
Di dalam kantor berpendingin itu suasana hening tapi tak bening. Tak ada hiruk-pikuk yang berarti--sebab para pegawai sedang sibuk dengan gawai masing-masing. Entah untuk bermedsos ria, entah untuk game mulia.
Di ruangan lain, ada yang sedang berbincang tentang arisan, hingga tentang kisah sinetron pilu "kumenangis" kegemaran mami-mami baper itu.
Bakhan, ada pula yang menggerayangi rambut rekannya demi seekor kutu yang dicari.
Dalam konteks ini, kantor yang direnovasi tentu sebuah kemubazziran nyata. Sebab dinamika didalamnya begitu jauh dari proses pelayanan.
Seorang pegawai honorer di sebuah kantor pemerintah pernah mengisahkan keheranannya selama beberapa tahun mengabdi di sana.
Ia heran melihat rutinnya renovasi di kantornya. Lantai yang masih layak, diganti tiba-tiba.
Pagar yang masih kokoh, dirubuhkan lalu diganti tahun depannya. Kursi dan meja yang masih pantas, diganti tahun berikutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/logo-tribun-timur-2122020.jpg)