Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tepat 367 Hari Tak Jadi Menteri Pertanian, Jokowi: Apa Kabar Pak Amran

Tepat di momen setahun ini, Presiden Joko Widodo (59) bertemu salah satu bekas pembantunya pada Kabinet Kerja I (2014-2019), Andi Amran Sulaiman (53).

Penulis: Saldy Irawan | Editor: Hasriyani Latif
ist
Presiden Joko Widodo (59) bersama Andi Amran Sulaiman (53) saat meninjau kebun tebu di Bombana, Sulawesi Tenggara, Kamis (22/10/2020). 

Dia menyebutkan, saat ibunda Jokowi meninggal dunia 25 Maret 2020 lalu, dia sempat melayat ke Solo.

Namun karena dia tiba dinihari, dia tak sempat menyampaikan belasungkawa langsung ke Jokowi. “Saat saya melayat, Pak Presiden sudah tidur.” ujar Amran,

Dari sekuel foto dan video yang diterima Tribun, Amran terlihat sempat berjalan berdua dengan Jokowi.
Presiden berada di kawasan pabrik itu sekitar 20 menit.

Bersama rombongan terbatas, Kepala Negara lepas landas menuju Kabupaten Konawe Selatan dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pukul 07.00 WIB, Kamis (22/10).

Setibanya di Pangkalan TNI AU Haluoleo, Kendari, pada pukul 10.38 Wita, Presiden langsung disambut Gubernur Sultra Ali Mazi dan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Bombana, sekitar 160 km dari ibukota provinsi, dengan helikopter Super Puma TNI AU.

Dari Bombana, Jokowi kembali ke Kendari untuk meresmikan Jembatan Teluk Kendari.

Di Bombana, presiden Jokowi meninjau lokasi panen tebu sekaligus meresmikan pabrik gula di kabupaten tersebut yang merupakan salah satu pabrik gula dengan jumlah produksi terbesar di Indonesia.

Presiden disambut Dr Andi Amran Sulaiman, mantan menteri pertanian di era pertama pemerintahan Jokowi.

Direktur Utama PT JBM M Arief menyebut pabrik gula berteknologi mutakhir ini berkapasitas produksi terpasang 12.000 TCD dimiliki pengusaha pribumi.

“Iya betul, ini menjadi salah satu kebanggaan karena kami merupakan pabrik gula pertama milik asli pribumi dengan kapasitas 12.000 TCD,” ujar Arief.

Menurut Arief, saat ini pabrik gula ini sudah menggunakan teknologi canggih yang didukung outomatisasi sehingga mampu menghasilkan produk dengan Incumsa di bawah 100 UI dan total Losis di bawah 1.8 pol gula.

“Dengan kapasitas produksi sebesar itu, kami berkomitmen akan bisa memenuhi kouta gula Indonesia bagian timur dengan harga di bawah HET sehingga masyarakat mampu menikmati harga gula yang wajar,” ujarnya.

Di samping itu, imbuh Arief, keberadaan JBM juga mampu mengangkat harkat dan kesejahteraan warga serta menciptakan lapangan kerja di tengah ancaman resesi ekonomi dan banyaknya PHK.

“Di tengah ancaman resesi ekonomi dan banyaknya PHK, JBM justru mampu terus memberi sumbangsih bagi ekonomi Indonesia dan mampu mempekerjakan warga lokal”, pungkasnya.

Seperti diketahui, Jokowi memang telah mencanangkan perlunya swasembada pangan, baik itu gula, beras dan lain-lain.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved