Breaking News:

OPINI

OPINI: Hari Santri Nasional

OPINI: Hari Santri Nasional oleh Mahmud Suyuti, Dosen UIM dan Pernah Nyantri Tujuh Tahun di Pondok Pesantren

DOK PRIBADI
Dosen Universitas Islam Makassar dan Ketua Matan Sulsel, Mahmud Suyuti 

OPINI: Hari Santri Nasional oleh Mahmud Suyuti, Dosen UIM dan Pernah Nyantri Tujuh Tahun di Pondok Pesantren

Hari Santri Nasional berdasarkan Kepres Nomor 22 Tahun 2015 diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Ribuan pesantren dan jutaan santri sibuk mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan ritual khusus mengisi Hari Santri tersebut.

Santri adalah pelajar yang konsen mendalami kitab suci dan ilmu agama. Untuk konsentrasi maka harus mabit, menetap di pesantren sebagai tempat mondok. Karena itu pesantren sesungguhnya berasal dari kata santri, diawali pe dan akhiran an, tertulis pesantrian kemudian dibaca pesantren untuk memudahkan penyebutannya.

Para santri harus tinggal di pondok, mereka makan bersama, mengaji, berzikir, berdoa, dan salat berjamaah, mengikuti pengajian secara rutin setelah salat magrib, isya, shubuh, di tengah malam mereka tahajjud.

Rutinitas lain di pondok pesantren yang tidak kalah pentingnya sekaligus membedakannya dengan lembaga pendidikan Islam lainnya adalah transmisi ilmu pengetahuan melalui pengajian kitab dengan sistem halaqah.

 Halaqah adalah metode pengajian dengan cara santri duduk bersilah melingkar, tudang massulekka di depan kiai, merapatkan lutut mereka dengan santri sebelahnya, duduk mepet membentuk bundaran yang kemudian disebut mangngaji tudang (Bugis) angngaji mempo (Makassar).

Halaqah lazimnya disebut metode bandongan dan sorogan atau wetonan, mengkaji kitab kuning (kutub al-shafra’/yellow book) atas bimbingan kiai yang ikhlas fulltime 24 jam dalam mengawal kegiatan kepesantrenan. Karena itulah maka di area pondok pesantren ada rumah kiai, juga sederetan rumah-rumah guru yang di antarai mesjid serta bangunan lain seperti pendopo dan ruang belajar.

Di situlah para santri dan kiai serta guru/ustaz menjalin hubungan secara erat, mengutamakan kesederhanaan, keikhlasan, tolong menolong, bahkan pengorbanan demi agama bangsa dan negera yang karena itu diakui bahwa kiai-kiai pesantren dan para santri memiliki peran penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Merebut kemerdekaan merenggut banyak nyawa para pejuang dan penjihad dari kalangan kiai dan santri yang karena itulah bertepatan 22 Oktober 1945 di Surabaya untuk mencegah kembalinya kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA, oleh K.H. Hasyim Asy’ari yang juga sebagai ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), menyerukan jihad, membela tanah air dari penjajah adalah fardhu ’ain, wajib bagi setiap individu.

Resolusi Jihad sebagai seruan untuk berjihad yang dikobarkan K.H. Hasyim membakar semangat para santri untuk menyerang markas Brigade ke-49 Mahratta dan saat itu, mulai dari 22 Oktober 1945 batas gerak penjajah yang ingin menguasai kembali NKRI terbatas, terkepung selanjutnya tiga hari berturut-turut setelahnya, pimpinan Brigade Mahratta, Jenderal Aulbertin Walter Sotheren tewas bersama kurang lebih 2000-an pasukan Inggris.

Halaman
12
Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved