Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Update Corona Sulsel

14 September, Pasien Terkonfirmasi Tambah 77, Gubernur NA Singgung PSBB Jakarta

Dilansir data update Covid-19 Sulsel, distribusi per kabupaten/kota dari 77 pasien Covid-19 didapatkan di delapan daerah

Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/FADLY ALI
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Informasi terbaru terkait penanggulangan Covid-19 di Sulawesi Selatan terus diperbarui Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan (Diskes Sulsel).

Dilansir data yang dikirimkan tim konsultan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sulsel, Senin (14/9/2020) malam memperlihatkan, jumlah kasus pada hari ke-179 pandemi Covid-19 hadir di Sulsel, terjadi kenaikan 77 pasien menjadi 13.339 pasien.

Sebanyak 77 pasien tersebut didapatkan dari 1.345 spesimen yang diuji di beberapa laboratorium di Sulsel.

Angka penambahan dan jumlah berbeda dengan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI. Dimana penambahannya tiga digit di angka 185 pasien dengan jumlah 13.476 pasien.

Dilansir data update Covid-19 Sulsel, distribusi per kabupaten/kota dari 77 pasien Covid-19 didapatkan di delapan daerah dari 24 kabupaten/kota yang ada.

Makassar menjadi daerah dengan pasien terkonfirmasi positif terbanyak yakni 58 pasien.

Diikuti Gowa 4 pasien, Pinrang 4 pasien, Maros 3 pasien, Pangkep 3 pasien, Barru 2 pasien, Luwu Utara 2 pasien dan Toraja Utara 1 pasien.

Sementara pasien sembuh di Sulsel naik 59 pasien menjadi 10.215 pasien.

Angka penambahannya dan jumlah berbeda dengan angka nasional. Dimana penambahannya 63 pasien dan jumlahnya 10.213 pasien.

Untuk pasien positif yang meninggal bertambah 3 pasien di angka 383 pasien. Data tersebut sama dengan data nasional.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yang ditemui di Kantor Gubernur Sulsel Jl Urip Sumoharjo Makassar menyinggung soal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mulai Senin (14/9/2020) diberlakukan di Jakarta.

Bagaimana dengan Sulsel? Khususnya Makassar dan Gowa yang sudah pernah melakukannya?

"Jadi gini, saya kira Sulsel kan sudah punya pengalaman, kenapa Jakarta dilakukan PSBB, karena RS hampir penuh, kenapa hampir penuh karena OTG (Orang Tanpa Gejala) di situ," katanya.

"Kalau Sulsel kan beda, OTG di hotel, yang sakit ke RS, sehingga okupansi RS sekarang kita itu, tidak lebih dari 20 persen," katanya.

Bagaimana dampak PSBB Jakarta bagi Sulsel?

"Yah otomatis berdampak pada penerbangan, namun sektor ekonomi saya kira tidak signifikanlah, karena mereka itu pengetatan dan memutus mata rantai penularan pada claster kantor yang menjadi pusat penularan," katanya.

"Jadi kantor ini yang mereka fokuskan, bukan libur juga, yah paling 20 sampai 50 persen yang bisa masuk. Terus restoran tetap buka, tapi take away (bungkus)," jelasnya.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved