Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Peringatan HUT ke-75 RI di Luwu Utara Tanpa Paskibra dan Pesta Rakyat

Jumail mengatakan, upacara tetap akan digelar meski tanpa melibatkan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra).

Penulis: Chalik Mawardi | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM/SANOVRA
Pedagang bendera mulai memadati Jl Ap Pettarani, Makassar, Minggu (2/8/2020). Jelang perayaan HUT RI ke-75, sejumlah penjual bendera musiman mulai bermunculan di berbagai sudut Kota Makassar.Harga bendera mulai Rp 20.000 hingga Rp. 350 ribu per lembar. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR 

TRIBUNLUTRA.COM, MASAMBA - Pemerintah Kabupaten Luwu Utara memastikan akan tetap menggelar upacara pengibaran bendera merah putih pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 RI pada 17 Agustus 2020.

Kepastian peringatan HUT RI tingkat kabupaten dibeberkan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Luwu Utara Jumail Mapile yang juga sebagai panitia peringatan HUT RI.

Jumail mengatakan, upacara tetap akan digelar meski tanpa melibatkan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra).

Sejumlah rangkaian peringatan HUT RI juga akan dihilangkan.

Sesuai instruksi Menteri Sekretariat Negara bahwa upacara kemerdekaan dilakukan dengan pola minimalis mengikuti protokol kesehatan menyusul adanya pandemi Covid-19.

"Upacara HUT RI tetap dilakukan. Hanya perayaannya berbeda dari tahun sebelumnya, kalau dulu melibatkan banyak unsur, tahun ini dirayakan dengan pola minimalis karena adanya pandemi sehingga mengikuti aturan protokol," kata Jumail, Jumat (14/8/2020).

"Di Luwu Utara tetap ada pengibaran namun petugasnya bukan dari Paskibra tetapi unsur TNI-Polri. Ringkasan rangkaian upacara hanya renungan suci dan upacara bendera (bukan upacara detik-detik proklamasi) dan tidak ada siarah makam," tambahnya.

Setelah upacara, dilanjutkan dengan peringatan detik-detik proklamasi langsung dari istana secara virtual.

Begitupun sore harinya akan dilaksanakan upacara penurunan bendera lalu kembali disaksikan secara virtual.

"Sementara lokasi yang biasanya kita gunakan di Taman Siswa akan dipindah ke kantor bupati," kata Jumail.

Meski hanya digelar untuk tingkat kabupaten, pemerintah membuka ruang bagi relawan yang ingin ikut merayakan kemerdekaan di camp pengungsian.

Bersama para penyintas dengan tetap menerapkan standar protokol kesehatan.

"Untuk sementara tidak ada pesta rakyat. Tapi walaupun tidak lagi melakukan kegiatan yang sifatnya perayaan, tapi ada kegiatan upacara di pengungsian yang tujuannya untuk menghibur mereka yang ada disana," katanya.

"Sudah ada beberapa pihak yang menyampaikan itu dan tentu kita buka ruang, hanya saja dengan catatan penting protokol Covid-19 tetap menjadi perhatiaan," tutupnya.

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved