Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

HASIL Survei Iwan Fals di Twitter, Gibran Anak Jokowi Kalah Telak Lawan Kotak Kosong & Otak Kosong

HEBOH! Hasil Survei Iwan Fals di Twitter, Gibran Anak Jokowi Kalah Telak Lawan Kotak Kosong & Otak Kosong

Editor: Ilham Arsyam
TribunSolo.com/Istimewa
Gibran saat sambutan didampingi Ketua DPC PDIP Solo, FX Hadi Rudyatmo di Panti Marhaen Kantor DPD PDIP Jateng di Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jumat (17/7/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM - Baru-baru ini, musisi Iwan Fals mengadakan survei elektabilitas Gibran Rakabuming Raka dalam Pilkada 2020.

Seperti yang diketahui, putra sulung presiden Jokowi tersebut akan maju di ajang Pilihan Wali Kota Solo 2020.

Sejumlah partai pun telah merapat ke poros PDI Perjuangan dan menyatakan dukungan untuk pasangan calon kepala daerah, Gibran Rakabuming Raka - Teguh Prakosa.

Selain PDI Perjuangan yang menguasai 30 dari 45 kursi, Partai Golkar, Gerindra, Partai Amanat Nasional yang masing-masing memiliki tiga kursi juga sudah mendukung Gibran.

Melalui akun Twitternya, Iwan Fals pun mengadakan survei antara Gibran Rakabuming dengan kotak kosong.

"Heheh jadi pengen tau, kotak kosong VS Gibran menang mana ya?" cuit Iwan Fals.

Survei yang diadakan pada tanggal 7 Agustus tersebut dimenangkan oleh Kotak Kosong dengan perolehan 72,5 persen dari 3.177 peserta.

Gibran sendiri hanya memperoleh suara 27,5 %.

Tidak berhenti sampai di situ, pada 10 Agustus, Iwan Fals juga kembali mengadakan survei antara Gibran Rakabuming dengan Otak Kosong.

"Wuih Gibran Kalah jauh sama kotak kosong.

Coba kalau sama otak kosong gimana ya," cuit Iwan Fals.

Lagi-lagi, Gibran Rakabuming kalah dari Otak kosong.

Dari 4.879 peserta, 76,6 persen dimenangkan oleh Otak Kosong sedangkan Gibran memperoleh 23,4 %.

                         

Sindiran menohok Rocky Gerung

Pengamat Politik Rocky Gerung ikut memberikan komentar terkait ramainya Pilkada Solo 2020.

Alasan ramainya Pilkada Solo 2020 tidak lain karena majunya putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka yang diusung oleh PDI Perjuangan (PDIP).

Dilansir TribunWow.com, Rocky Gerung menggambarkan kondisi tersebut bagaikan anak dan busur panah.

PDI Perjuangan resmi mengusung Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa sebagai pasangan bakal calon wali kota dan wakil wali kota Solo pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.
PDI Perjuangan resmi mengusung Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa sebagai pasangan bakal calon wali kota dan wakil wali kota Solo pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. (Instagram @fx.rudyatmo)

Jokowi disebutnya sebagai busur panah, sedangkan Gibran sendiri sebagai anak panahnya.

Hal ini disampaikan dalam tayangan Youtube Rocky Gerung Official, Selasa (21/7/2020).

Namun menurut Rocky Gerung, anak panah yang dimaksudkan bisa menjadi anak panah kehidupan, tetapi juga bisa menjadi anak panah kekuasaan.

Dikatakannya hal itu tergantung bagaimana busur panah memfungsikannya.

"Saya enggak tahu Gibran yang hari ini dipercakapkan orang, apakah ayahnya juga memaksudkan dia sebagai anak panah kehidupan atau anak panah kekuasaan," ujar Rocky Gerung.

Jika melihat kondisi yang terjadi dengan merujuk majunya Gibran di Pilkada Solo 2020, maka Rocky Gerung menilai Jokowi menggunakan anak panahnya untuk itu menjadi anak panah kekuasaan.

Dengan begitu tidak lain adalah sebagai bentuk nepotisme.

"Kalau dia anak panah kehidupan, maka ada wisdom, yaitu sang ayah pasti mengarahkan anak panahnya kedati bukan berasal, bukan keinginan dia tapi dia menjadi busur supaya anak panahnya menjadi contoh di masa depan, menjadi contoh dari berhentinya nepotisme," jelas Rocky Gerung.

"Tetapi justru sang ayah menjadikan anak panahnya itu contoh buruk dari nepotisme," sambungnya.

Rocky Gerung menyebutnya sebagai contoh nepotisme yang paling buruk atau bisa dikatakan lebih dari sekadar nepotisme.

Karena seperti yang diketahui, nepotisme adalah masih dalam batas keponakan.

Sedangkan Gibran sendiri sudah merupakan anak kandung dari Jokowi.

"Karena kalau kita sebut nepotisme itu dari kata nepos artinya ponakan, ini bukan lagi ponakannya, ini anaknya," terangnya.

"Jadi bukan nepos lagi, ini sudah sonsisme, putraisme, dan itu bagian paling buruk dari demokrasi."

Bahkan Rocky Gerung menyebut Jokowi lebih buruk dari rezim Soeharto.

“Dulu Pak Harto angkat Mbak Tutut, kita semua protes waktu itu. Tapi akhirnya kita mengerti karena saat itu sistemnya otoriter. Pak harto kita nilai lebih fair untuk kuasai infrastruktur politik tak ada oposisi, maka Mbak Tutut. ,Kalau dibandingkan, ya lebih otoriter Jokowi sebenarnya. Dalam sistem demokrasi terang benderang, Jokowi bermain di air keruh, mencari keuntungan dari jabatan politik. Sebut saja lebih totaliter dari sistem Orde Baru,” ungkap Rocky.

Lebih lanjut, Rocky Gerung membenarkan bahwa majunya Gibran ke Pilkada Solo 2020 merupakan hak otonom setiap individu.

Namun menurutnya, hak tersebut berlaku jika seseorang benar-benar tidak memiliki hubungan atau pengaruh dengan pihak lain di perpolitikan, terlebih orang nomor satu di Indonesia.

"Tentu orang bisa bilang ya itu otonom untuk mencalonkan atau tidak mencalonkan," kata Rocky Gerung.

"Dia menjadi otonom kalau tidak di dalam spire of influence dari ayahnya yang adalah presiden," jelasnya.

"Kan problem kita spire of influence presiden akan bekerja mendahului netralitas Pilkada," tutupnya.

Ia bahkan menyarankan Jokowi langsung saja melantik Gibran lewat Peppres ketimbang bertarung lewat Pilkada.

Rocky gerung menyebut kini beredar nyinyiran yang menyebut terkait Gibran yang melawan kotak kosong.

"Jadi meme sekarang kalau kotak kosong yang kalah di solo yang menang siapa?  Jadi kotak kosong versus otak kosong," katanya.

Simak videonya mulai menit ke- 12.05:

Refly Harun: Siapapun yang Lawan Klan Jokowi akan Kalah

Pakar hukum tata negara Refly Harun menyoroti majunya putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Solo 2020.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam kanal YouTube Refly Harun, diunggah Selasa (21/7/2020).

Diketahui DPP PDIP mengusung Gibran berpasangan dengan Teguh Prakosa, serta didukung Golkar, PAN, Gerindra, dan PSI.

Pasangan tersebut berpotensi menjadi calon tunggal di Kota Solo karena satu-satunya oposisi, PKS, tidak cukup memiliki kursi di DPRD untuk mengusung calon.

Menanggapi hal itu, Refly menyoroti kemungkinan Gibran bersaing melawan 'kotak kosong'.

Ia menilai kini sulit bagi PKS untuk mengajukan calon wali kota.

"Kalau semua partai mendukung Gibran, PKS ya mendukung GIbran juga. Kalau pengertian suara umat adalah suara rakyat, maka semuanya mencalonkan Gibran," komentar Refly Harun.

Ia menyebutnya sebagai paradoks kontes pemilihan umum di Indonesia.

"Bagaimana mungkin ada pemilihan langsung tapi calonnya cuma satu?" tanya Refly.

Refly kemudian menyamakan kondisi tersebut dengan pemilihan umum selama masa pemerintahan Soeharto.

Seperti diketahui, selama bertahun-tahun Soeharto terpilih sebagai calon tunggal dalam Sidang Umum MPR.

"Seperti pemilihan Presiden Soeharto di setiap Sidang Umum MPR saja. Mulai MPR tahun 1973, 1978, 1988, kemudian 1993, 1998, akhirnya mengundurkan diri selalu dengan mekanisme calon tunggal," katanya.

"Bahkan ketika menggantikan Presiden Soekarno tahun 1967 dalam Sidang Istimewa, juga calon tunggal," lanjut Refly.

Ia menilai fenomena itu terjadi karena citra Jokowi di mata masyarakat Solo masih tinggi.

Menurut Refly, masyarakat Solo menilai Jokowi adalah mantan wali kota yang berhasil.

Efek tersebut menimbulkan dampak positif terhadap elektabilitas Gibran sebagai putra sulung Jokowi.

Selain itu, dampaknya adalah calon kepala daerah lainnya enggan melawan sosok yang erat berkaitan dengan Jokowi.

"Saya sudah menduga siapa pun yang akan melawan klan Jokowi di Solo, pasti akan kalah," ungkap Refly.

Refly menyinggung faktor lain, yakni Kota Solo menjadi lumbung suara PDIP.

"Karena faktor Jokowi, tadi dibilang Jokowi effect, dan faktor PDIP, di situ disebut 'kandang banteng'," paparnya.

Ia menambahkan, sikap partai-partai lain tampak seperti langsung mendukung begitu PDIP mengajukan calon.

"Yang menarik adalah partai-partai lain seperti malas, tidak mau lagi berkontestasi, menyerah," komentar Refly.

Lihat videonya mulai menit 8:00

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Iwan Fals Bikin Survei, Gibran Kalah dari Otak Kosong dan Kotak Kosong, https://jateng.tribunnews.com/2020/08/13/iwan-fals-bikin-survei-gibran-kalah-dari-otak-kosong-dan-kotak-kosong?page=all.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved