Tribun Opini
Topan di Pucuk Beringin
Namun apa daya, titah pada Topan lakasana titah di atas titah. Titah yang membuat pupus asa Supriansa
Oleh
Yarifai Mappeaty
Pengamat Sosial Politik/Sehari-sehari Menjual Seblak di Daya, Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di Makassar dan Sulsel pada umumnya dalam beberapa hari terakhir, “Topan” adalah kata paling sering disebut. Bukan karena terjadi bencana alam yang disebabkan oleh angin topan melanda. Bukan. Kalaupun ada nelangsa yang disebabkan Topan, itu terjadi hanya pada sekelompok kecil orang saja yang masih kesulitan move on untuk menerima realitas.
Topan yang dimaksud adalah hasil simplikasi lisan dari kata Taufan. Sedangkan Taufan sendiri adalah nama depan dari seseorang yang punya nama belakang, Pawe. Dr. H. Taufan Pawe, S.H, M.H, lengkapnya. Tiba-tiba menjadi buah bibir pasca Musda X Golkar Sulsel yang dihela di Hotel The Sultan, Jakarta, akhir pekan lalu. Meski pada awalnya kurang direkeng, tetapi berkat campur tangan yang menuntunnya, membuat dirinya terpilih secara mufakat untuk menakhodai Golkar Sulsel.
Beragam cerita berhamburan di seputar itu. Antara lain, cerita tentang pertarungan para dewa-dewa beringin asal Sulsel yang semayam di arasy Golkar. Namun, pertarungan mereka akhirnya sampai pada satu titik kompromi. Dan, kompromi itulah tampaknya yang membuat Ketua Dewan Tertinggi para dewa beringin, kemudian menurunkan titah pamungkasnya kepada seorang Topan. Sebuah titah keramat yang membuat Topan agar tetap bertahan pada jalur kompetisi menuju Golkar satu Sulsel.
Titah yang turun pada Topan itu, sekaligus mejandi isyarat kalau Musda Golkas Sulsel yang ke-10 bukan lagi milik Supriansa semenjak itu. Hal ini membuat publik Sulsel sontak tersentak. Bukan apa. Supri, begitu ia disapa, jauh hari sebelumnya sudah mengantongi titah yang sama, oleh publik di media sosial, dinilai lebih cemerlang. Bahkan ia disebut oleh para pengagumnya sebagai the rising star di Golkar. Tidak berlebihan kalau ia juga dianggap memiliki potensi besar sebagai energi baru yang dapat membawa partai itu kembali berjaya di Sulsel.
Namun apa daya, titah pada Topan lakasana titah di atas titah. Titah yang membuat pupus asa Supri yang juga mendamba menjadi pemuncak di pucuk beringin Sulsel. Yah, begitulah para dewa membimbing titahnya kepada siapa yang dikehendaki. Dan, Topan-lah yang beruntung mendapatkan anugerah kehendak dewa-dewa beringin itu.
Cerita Topan mendapat titah, sampai detik ini, masih menyisakan sejumlah tanya yang tak henti-henti mengundang berahi ingin tahu publik. Terutama yang menyangkut behind the scene stories. Misalnya, konon, titah pertama yang turun pada Supri, dikreasi Erwin Aksa. Tetapi, siapa yang mengkreasi titah yang turun pada Topan, yang kemudian mengali nol titah Supri?
Menurut pengagum Erwin, begitu ia dipanggil, menyebut kalau kreatornya adalah Erwin juga. “Oh, luar biasa pengaruh sosok ini,” batinku berdecak kagum begitu mendengar itu dilontarkan. Sebagai orang luar, tentu saja saya tidak punya pengetahuan apa-apa tentang percaturan di DPP Golkar, sehingga, maklum, kalau gampang kagum.
Tetapi, saya mencoba sedikit kritis. Seperti semua orang ketahui bahwa Golkar dikenal sebagai partai yang paling tertib administrasi. Setiap keputusan yang dikeluarkan memiliki konsekuensi pertanggungjawaban menyangkut pelaksanaannya. Paling tidak, pertanggungjawaban moral. Apalagi, keputusan partai sekrusial diskresi itu, tentu saja tidak boleh terkesan dibuat main-main.
Lagi pula, pertanyaannya, apa kira-kira Erwin tidak merasa konyol jika ia melakukan itu? Lalu apa tanggapan petinggi DPP Golkar lainnya terhadap Erwin yang semula mendukung Supri lalu meninggalkannya, untuk kemudian mendukung Topan, sekaligus memintakan diskresi kepada Ketum? Dalam kasus ini, penulis tidak yakin kalau Erwin mau melakukan kekonyolan semacam itu.
Namun, justeru yang harus dipertanyakan adalah di mana peran Rizal Mallarangeng dan Nurdin Halid? Sedangkan semua orang tahu kalau Rizal sejak awal meng-endorse Topan. Ia tak pernah terdengar meninggalkannya hingga Musda berakhir. Begitu pula dengan Nurdin Halid, selaku penanggung jawab Musda, apa mungkin tidak punya peran sama sekali? Memang tidak, kalau mendengar cerita orang-orang yang beroposisi terhadapnya. Lagi-lagi mesti maklum, mungkin masih sedang “berduka”.
Jika demikian halnya, maka, argumentasi paling logis mengenai proses terjadinya musyawarah - mufakat yang mengantarkan Topan di pucuk beringin Sulsel, adalah hasil konstruksi Nurdin dan Rizal, kemudian diamini Erwin. Inilah yang dimaksud di awal tulisan ini sebagai kompromi para dewa-dewa beringin asal Sulsel. Tentu saja banyak pihak berperan dalam proses itu, tetapi cukup mereka bertiga saja disebut.
Mulawarman, sosok penghubung Nurdin Halid dengan Topan , menyebut kompromi itu sebagai “konsensus sipakatau” yang memiliki makna esensial tertinggi dalam musyawarah pada tradisi Bugis - Makassar. Hemat penulis, inilah yang membuat Musda X Golkar Sulsel di Jakarta, sehingga selalu menarik dipercakapkan. Sebab, bayangkan kalau misalnya semua tokoh-tokoh kita di Jakarta mengamalkan kompromi semacam ini untuk kepentingan membangun Sulsel, sungguh dahsyat!
Lebih jauh, melalui tulisan ini, Mul, begitu ia dipanggil, mengingatkan Topan agar selalu menjadikan konsensus sipakatau ini sebagai ruh bagi setiap kebijakan yang akan diambilnya selaku Ketua Golkar Sulsel. Ujian krusial pertama bagi Topan, menurut Mul, terletak pada bagaimana ia menyusun kabinetnya. Di sini, Topan harus berhati-hati dan bijak. Sebab, jika ia hanya mengikuti seleranya sendiri semata, maka, topan-topan tak akan berhenti menerpanya di pucuk beringin sejak dini.
Ujian berikut sekaligus tantangan besar bagi Topan, kata Mulawarman, adalah penyelenggaraan Musda Golkar kabupaten/kota. Musda tersebut harus mulai dilaksanakan pada Agustus ini, diprediksi tidak kalah dinamis dari Musda Golkar Sulsel. Di sini, Topan dituntut untuk mampu mengendalikan seluruh Musda. Tidak boleh terjadi gejolak yang mengarah kepada perpecahan. Di bawah kepemimpinan Topan, Golkar harus solid menghadapi Pilkada serentak Desember 2020. Lagi pula, ia harus memenangkan Pilkada tersebut hingga 60%, sesuai janjinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/yarifai-mappeaty_.jpg)