Opini

Masa Pandemi Virus Covid-19, Saatnya Tunda Kehamilan

Selama Mei-Juni saat pandemi Covid-19 menginfeksi wilayah Indonesia, beberapa e-mail senada diterima oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia

Editor: Edi Sumardi
DOK PRIBADI
Kolumnis dan Direktur Eksekutif PKBI, Eko Maryadi 

Eko Maryadi

Kolumnis, Direktur Eksekutif PKBI

SEBUAH "surat elektronik kaleng" terkirim dari seseorang.

Isinya: mohon informasi bagaimana saya dapat melakukan konseling untuk masalah kehamilan yang tidak diinginkan. Terima kasih.

Selama Mei-Juni saat pandemi Covid-19 menginfeksi wilayah Indonesia, beberapa e-mail senada diterima oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ( PKBI ).

Dalam seminggu rata-rata 3-7 pesan melalui e-mail, WhatsApp, dan website organisasi.

Sebanyak 80 persen warga bertanya tentang akses konseling KTD alias Kehamilan yang Tidak Diinginkan, sisanya 20 persen berupa pengaduan terjadinya kekerasan berbasiskan gender (GBV) di wilayah rumah tangga dan komunitas.

Laporan dari berbagai sumber, termasuk dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ) menyebutkan, dalam tiga bulan pandemi Covid -periode April Mei Juni- tercatat lebih dari 400 ribu kasus kehamilan di Indonesia.

Penyebab tingginya angka kehamilan itu disebabkan aturan kepada warga agar tinggal di rumah ( stay at home ) selama pandemi, plus terhambatnya akses warga kepada apotek dan klinik yang menyediakan alat kontrasepsi.

Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) diterapkan secara nasional, bisa dikatakan aktivitas perdagangan dan pelayanan publik turun drastis atau terhenti sama sekali, meliputi tutupnya berbagai pusat pelayanan dan perdagangan --termasuk supply dan demand alat kontrasepsi.

Nah, selama periode itulah banyak warga yang terpaksa tinggal di rumah melakukan aktivitas seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi yang selama ini digunakan.

Bagi pasangan yang -terutama- baru menikah, kehamilan merupakan sesuatu yang didambakan. Selaras dengan tujuan menikah dan berkeluarga yaitu memiliki keturunan yang sehat jiwa raga, sehat secara sosial ekonomi dan spiritual.

Namun dalam masa pandemi Covid-19 yang serba tidak jelas kapan dan bagaimana berakhir, menjalani proses kehamilan yang berisiko bukanlah hal yang mudah.

Apalagi bagi mayoritas warga kebanyakan, mereka sangat tergantung pada fasilitas pelayanan publik mulai dari kendaraan umum, apotek, klinik atau rumah sakit yang memberikan layanan kesehatan ibu dan anak.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved