Tribun Toraja
Soekarno dan Seni
Mengusung ide Wedha’s Pop Art Potrait atau WPAP. Lukisan itu dibuat di atas kanvas ukuran 200 kali 240 meter dengan goresan cat minyak.
Penulis: Tommy Paseru | Editor: Sudirman
Soekarno mencintai negerinya, mencintai rakyatnya, mencintai perempuan dan mencintai seni.
"Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni" Soekarno dalam otobiograginya.
Soekarno bukan anak kemarin sore soal seni. Secara genetik darah Bali Ibunya mengalirkan darah seni bagi Soekarno, jadi Soekarno berdekatan dengan seni bukan secara kebetulan.
Seperti seni lukis, Soekarno punya hobi lukis, selain itu ia dikenal sebagai kolektor lukisan.
Bahkan Soekarno lah yang memulai kolektor pertama dengan jumlah lukisan terbanyak di Indonesia.
Soekarno juga sangat peduli kepada para pelukis disamping seniman-seniman dibidang lain.
Seni bagi Soekarno seperti ruh, membuat apapun karya atau hasil kerjaan terasa hidup.
Misalnya pada salah satu kuliahnya yang disiarkan RRI, dimana Soekarno bisa secara luwes menganalogikan demokrasi terpimpin dengan sebuah orkestra.
Soekarno tak hanya menikmati seni untuk dirinya sendiri. Soekarno ikut menularkan jiwa seni kepada rakyatnya.
Lebih jauh, Soekarno menggunakan seni sebagai media merancang, membangun, dan merawat bangsanya.
Patung, monumen, bangunan, lukisan, lagu dan lain sebagainya menjadi buktinya, bahkan tak jarang Soekarno harus merogoh koceknya sendiri untuk mewujudkan karya-karya seni.
Sehingga, bila memang ada klasifikasi seni untuk bangsa, "Soekarno itu disitu perannya".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/lukisan-presiden-pertama-indonesia-ir-h-soekarno-yang-dibuat-oleh-mahasiswa-toraja.jpg)