Tribun Toraja
Soekarno dan Seni
Mengusung ide Wedha’s Pop Art Potrait atau WPAP. Lukisan itu dibuat di atas kanvas ukuran 200 kali 240 meter dengan goresan cat minyak.
Penulis: Tommy Paseru | Editor: Sudirman
TRIBUNTORAJA.COM- Lukisan itu di pajang sebuah resto salah satu hotel yang ada di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Mengusung ide Wedha’s Pop Art Potrait atau WPAP. Lukisan itu dibuat di atas kanvas ukuran 200 kali 240 meter dengan goresan cat minyak.
Sejenak memandangnya sekaligus menegur dan mengigatkan saya tentang momen pada Bulan Juni Ini. Ya, lukisan sang Presiden Indonesia yang pertama Ir. H. Soekarno.
Lukisan sang Proklamator itu dipajang di sebelah lukisan Marilyn Monroe.
Soekarno digambarkan menggunakan jas, topi peci dan dua tanda bintang yang menempel di kedua pundaknya.
Tatapan tajam serta mimik muka yang sedang serius terlihat berwibawa.
Menampakkan keteguhan hati Bung Karno dalam menghadapi rintangan yang menghalangi jalannya revolusi bangsa Indonesia.
Komposisi bidang dan warna dikerjakan dengan baik, meskipun tidak dilukis secara utuh.
Namun penyelesaian latar belakang dan figur Bung Karno tampak menjadi karya lukis yang utuh.
Lukisan sang Proklamator itu diciptakan oleh seorang mahasiswa asal Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja yang kini menempuh pendidikan di Universitas Kristen Indeonesia (UKI) Toraja bernama Chandrawan saranga'.
Oleh Candra yang juga menurut saya seniman masa depan Toraja. Lukisan itu ia ciptakan termotivasi dari jiwa seni yang melekat pada Soekarno.
Judulnya pun ia buat sejajar "Soekarno Motivasiku".
Memang, Soekarno sangat mencintai seni, itu fakta sejarah.
Seperti dalam kalimat pembuka otobiografinya "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia".
Soekarno mengakui bahwa untuk menggambarkan dirinya, cara termudah ialah dengan menyebutnya "Mahapencinta".
Soekarno mencintai negerinya, mencintai rakyatnya, mencintai perempuan dan mencintai seni.
"Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni" Soekarno dalam otobiograginya.
Soekarno bukan anak kemarin sore soal seni. Secara genetik darah Bali Ibunya mengalirkan darah seni bagi Soekarno, jadi Soekarno berdekatan dengan seni bukan secara kebetulan.
Seperti seni lukis, Soekarno punya hobi lukis, selain itu ia dikenal sebagai kolektor lukisan.
Bahkan Soekarno lah yang memulai kolektor pertama dengan jumlah lukisan terbanyak di Indonesia.
Soekarno juga sangat peduli kepada para pelukis disamping seniman-seniman dibidang lain.
Seni bagi Soekarno seperti ruh, membuat apapun karya atau hasil kerjaan terasa hidup.
Misalnya pada salah satu kuliahnya yang disiarkan RRI, dimana Soekarno bisa secara luwes menganalogikan demokrasi terpimpin dengan sebuah orkestra.
Soekarno tak hanya menikmati seni untuk dirinya sendiri. Soekarno ikut menularkan jiwa seni kepada rakyatnya.
Lebih jauh, Soekarno menggunakan seni sebagai media merancang, membangun, dan merawat bangsanya.
Patung, monumen, bangunan, lukisan, lagu dan lain sebagainya menjadi buktinya, bahkan tak jarang Soekarno harus merogoh koceknya sendiri untuk mewujudkan karya-karya seni.
Sehingga, bila memang ada klasifikasi seni untuk bangsa, "Soekarno itu disitu perannya".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/lukisan-presiden-pertama-indonesia-ir-h-soekarno-yang-dibuat-oleh-mahasiswa-toraja.jpg)