Tribun Maros

Angka Perceraian di Maros Meningkat Selama New Normal, Alasannya Ada Pihak Ketiga

Pada bulan Juni 2020, Pengadilan Agama (PA) Maros telah menerima 61 gugatan yang terdiri dari 59 kasus perceraian dan sisanya warisan dan gono-gini.

Ist
Humas PA Maros, Arief Ridha 

TRIBUNMAROS.COM, TURIKALE – Angka perceraian di kabupaten Maros, Sulawesi Selatan mulai meningkat tajam selama memasuki new normal.

Pada bulan Juni 2020, Pengadilan Agama (PA) Maros telah menerima 61 gugatan yang terdiri dari 59 kasus perceraian dan sisanya warisan dan gono-gini.

Jika dibandingkan pada bulan sebelumnya sejak masa pandemi, jumlah gugatan yang masuk di PA Maros terbilang sangat sedikit.

Pada April 2020, hanya ada 16 gugatan dan 1 permohonan, sementara untuk Mei 2020, PA hanya menerima gugatan sebanyak 12 dengan 5 permohonan.

“Saat pemerintah mengumumkan masa new normal ini, masyarakat memang banyak yang datang ke sini. Kalau dua bulan lalu itu hanya ada belasan kasus saja. Dari 1 Juni sampai saat ini, sudah ada sekitar 61 gugatan yang kita terima,” ujar Humas PA Maros, Arief Ridha, Senin (29/06/2020).

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kasus perceraian didominasi dengan cerai gugat yang datanya hampir 90 persen dari cerai talak.

Alasannya, juga masih didominasi oleh faktor ekonomi, selebihnya ketidak cocokan ataupun adanya pihak ketiga yang hanya sekitar 10 persen.

“Kalau mau dilihat persentasinya, memang masih didominasi dengan cerai gugat, atau dari pihak perempuan," ujarnya.

"Beberapa faktor seperti masalah ekonomi, tapi kita belum bisa simpulkan apakah ini ada hubungannya dengan efek pandemi atau tidak," jelasnya

Meski mengalami peningkatan, angka gugatan perceraian di bulan Juni 2020 ini, terbilang menurun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu yang mencapai 71 kasus dan 11 permohonan.

Halaman
12
Penulis: Andi Muhammad Ikhsan WR
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved