Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Maros

Pupuk Subsidi Alami Kelangkaan, Petani di Maros Mengeluh

Banyak dari mereka terpaksa menunda memupuk padi, meski masa usia padi sudah lebih dari 20 hari tanam.

Tayang:
Penulis: Andi Muhammad Ikhsan WR | Editor: Sudirman
Ist
Petani di Maros yang sedang melakukan pemupukan di sawahnya 

TRIBUNMAROS.COM, TURIKALE - Sejumlah petani di kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mengeluh dikarenakan kelangkaan pupuk bersubsidi.

Banyak dari mereka terpaksa menunda memupuk padi, meski masa usia padi sudah lebih dari 20 hari tanam.

Seperti yang dialami oleh petani di Desa Mattirotasi, Kecamatan Maros Baru. Petani mengaku, kelangkaan pupuk itu terjadi hampir setiap tahun saat musim tanam.

Anehnya, pupuk bersubsidi justru banyak keluar saat mereka sudah tidak membutuhkan.

"Ini padi saya sudah lebih dari 20 hari. Tapi belum dipupuk karena tidak ada pupuk subsidi. Ini terjadi hampir tiap tahun," ujar salah seorang petani, Idris, Jumat (19/06/2020).

Pupuk subsidi yang dimaksud adalah pupuk jenis urea dan SP-36. Bagi petani, kedua jenis pupuk inilah yang kerap digunakan.

Hanya saja, banyak anggota kelompok tani yang tidak mendapatkan jatah.

"Kalau biasanya itu ada satu jenis saja. Misalnya urea, kita terpaksa campur dengan pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal. Sekarang ini memang dua-duanya tidak ada. Padahal sudah waktunya pemakaian," jelasnya

Kalaupun ada, harga pupuk subsidi itu juga sudah mahal. Untuk jenis urea yang harganya  hanya Rp 90 ribu dan SP-36 yang harganya Rp 100 ribu, naik hingga Rp 20 ribuan setiap jenisnya.

Meski begitu, petani terpaksa membeli karena mereka tidak punya pilihan lain.

"Misalnya ada kita dapat, itu harganya sudah beda dari biasanya. Terpaksa kita beli, apa lagi kalau musim tanam kedua begini, harus cepat karena air ditakutkan akan habis," ungkapnya

Petani curiga, kelangkaan pupuk subsidi itu dikarenakan adanya permainan.

Pasalnya, pupuk subsidi yang harusnya diperuntukkan untuk lahan pertanian, juga banyak digunakan oleh petambak.

"Bisa jadi. Karena kita berebut juga sama petambak. Terus pupuk itu selalu langka kalau kita butuh. Setelah lepas kebutuhan pupuk, baru banyak keluar, bisa jadi itu dilarikan ke empang semua," katanya

Kepala dinas Pertanian Maros, Alfian Amri tak menampik terkait kelangkaan pupuk itu.

Ia mengaku, kebutuhan pupuk subsidi di Maros mencapai 14 ribu untuk jenis urea, namun kuotanya hanya 7 ribu ton saja dari pusat.

Bahkan ia sudah meminta penambahan kuota, namun hingga saat ini belum terealisasi.

"Memang hampir tiap tahun bermasalah, karena kuota kita hanya 7 ribu ton. Sementara estimasi kebutuhan kita itu sebanyak 14 ribu. Jadi yang tersedia setengahnya saja, kita juga sudah bersurat meminta penambahan, tapi belum direalisasi," ungkapnya

Untuk penggunaan pupuk bersubsidi di lahan tambak, Alfian mengaku, jika hal itu tidak dilarang karena memang dalam Peraturan Menteri Pertanian juga telah diatur. 

"Di dalam Permentan nomor 10, memang penggunaan pupuk bersubsidi untuk tambak itu diperbolehkan, jadi tidak masalah. Tapi memang ini masalah kebutuhan tidak sesuai dengan kouta yang ada," bebernya

Laporan Tribunmaros.com, M Ikhsan

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved