PSM Makassar
Hamka Hamzah Pemimpin di Lapangan Hijau
Hebatnya lagi, 30 kali bermain, Hamka tak pernah digantikan atau masuk sebagai pemain pengganti. Dia selalu turun sejak menit awal
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Benteng Rotterdam, begitulah Hamka Hamzah dijuluki oleh suporter saat dirinya masih membela PSM 2017 lalu.
Julukan itu rasanya tepat disematkan ke Hamka melihat performanya bersama PSM selama musim 2017.
• Mantan Kapten PSM Kenang Awali Karier dari Anak Gawang, Hamka Hamzah Pernah Dimarahi Bapaknya Asnawi
• Duel Liga 1 2020 Persita vs PSM - Bojan Puji Hamka Hamzah, Ferdinand Sebut Tak Bahaya? Widodo Balas?
Hamka bukan lagi pemain PSM, dan kini membela Persita Tanggerang, namun namanya tentu akan diingat sebagai satu bek lokal tangguh yang pernah bermain untuk Juku Eja.
Lihat saja statistiknya, pemain yang identik dengan nomor punggung 23 ini bemain sebanyak 30 kali untuk PSM di tahun 2017. Artinya, dia hanya absen dalam empat pertandingan sepanjang Liga 1 2017.
Hebatnya lagi, 30 kali bermain, Hamka tak pernah digantikan atau masuk sebagai pemain pengganti. Dia selalu turun sejak menit awal pertandingan hingga full time.
Catatan cemerlang pemain kelahiran Makassar 29 Januari 1984 ini, juga dipekuat dengan produktivitasnya sebagai seorang bek tengah.
Hamka mampu menyumbang lima gol dan dua asist untuk PSM. Jumlah yang cukup tinggi untuk pemain belakang.
Statistik Hamkah tersebut menjadikannya idola suporter PSM, namun sayangnya sang pemain hanya bertahan semusim berkostum PSM.
Hamka memang merupakan putra daerah yang sudah lama dirindukan suporter untuk membela PSM.
• Pernah Ditolak PSM Saat Seleksi Tahun 2012, Nama Riko Simanjuntak Melejit, Juara Bersama Persija
• Bursa Pemain Liga 1 - Andik Vermansyah ke PSM? Spaso Out dari Bali United? Arema FC Lepas 10 Pemain
Meski memulai karir di PSM, namun Hamka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain di klub luar Sulsel seperti Persik Kediri dan Arema Malang.
Baru pada tahun 2017, PSM mampu memulangkan ‘si anak hilang’, setelah direkrut dari Arema Malang.
Namun pada 2018, Hamka memilih melanjutkan petualangannya ke klub lain.
Alasan Tinggalkan PSM?
Setelah sempat menjadi buruan sejumlah klub, Sriwijaya FC akhirnya memenangkan perekrutan Hamka Hamzah. Hingga kini, Hamka pun enggan membeberkan alasan di balik kepergiannya.
Saat akan hengkang, melalui akun Istagram pribadinya, Hamka menyampaikan rasa terima kasihnya kepada CEO PSM Munafri Arifuddin, seluruh manajemen, tim, berikut para suporter setia PSM Makassar.
Hamka pun sekaligus meminta maaf kepada manajemen, berikut tim dan suporter, serta masyarakat yang selama ini telah mendukung tim kebanggaan Makassar dan Sulawesi Selatan itu.
"Terima kasih atas tawaran dan penghargaan yang Pak Appi berikan kepada saya agar tetap bertahan di PSM.
"Tetapi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, saya harus pamit dengan alasan yang tidak bisa saya ungkapkan, dan saya sudah memikiran dengan matang-matang," tulis Hamka.
Hamka juga mengunggah beberapa potongan gambar yang disatukan. Postingan itu pun dilengkapinya dengan backsound lagu "Kenanglah Aku" yang dipopulerkan oleh Naff.
• 2 Kali Perkuat PSM, Kedua Gagal Cemerlang, Kisah Bek Kwon Jun Lamaran di Stadion & Kondisi Sekarang
• CEO PSM Usul Liga 1 2020 Stop, Diganti dengan Apa? Begini Pendapat Zulkifli Syukur dan Abdul Rahman
"Saya Hamka Hamzah pamit dan memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila banyak kesalahan atau mengecewakan selama satu musim. Saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan," tulisnya.
"Terima kasih banyak saya bagi tim kebanggaan dan tanah kelahiran saya PSM Makassar, dengan berat hati saya pamit.
"Terima kasih satu musim yang saya tidak akan pernah saya lupakan yakni bernyanyi/berjoget bersama di tengah lapangan bareng para suporter-suporter fanatik," sambungnya lagi.
Apapun Timnya, Hamka Kaptennya
Menjadi seorang kapten atau pemimpin dalam tim sepak bola bukanlah suatu hal yang mudah.
Kapten harus mampu mengontrol sekaligus mengatur emosi dirinya dan rekan satu timnya jika terjadi permasalahan ketika laga berjalan.
Selain itu, pemain yang memakai ban kapten di lengannya juga harus bisa memutuskan secara cepat dalam permasalahan teknis maupun non-teknis yang ada di atas rumput hijau.
Hamka Hamzah membeberkan betapa beratnya menjadi seorang pemimpin dalam sebuah tim sepak bola.
Hamka mengaku beberapa kali pernah menolak dijadikan kapten tim karena tahu menjadi kapten adalah bukan tugas mudah.
"Disematkan kapten pertama itu waktu di Persija Jakarta tahun 2007, cuma nggak kuat waktu itu, karena masih bengal. Akhirnya saya minta ganti," kata Hamka dilansir dari kompas.com.
• Cerita Kebun Sayur di Stadion Mattoanging, PSM dan Liga 1 2020 Stop? Dampak Corona, Siapa yang Tanam
• Pahlawan PSM Ligina 2000, Juara 3 Kali dan Ingin Kembali ke Makassar, Sosok Kurniawan Dwi Yulianto
Sejak kepercayaan saat itu, Hamka terus belajar menjadi seorang kapten yang diterima oleh rekan-rekannya.
Tahun berikutnya, tepatnya ketika Hamka pindah ke Persik Kediri, dirinya kerap mengemban ban kapten di lengannya.
"Banyak yang bilang, 'apa ada (menjadi kapten) itu dikontrak?' Nggak ada," jelas dia.
"Emang kita kapten ada duitnya? Nggak ada," ungkapnya sembari tersenyum.
"Yang ada susahnya aja kita (menjadi kapten). Yang ada, kita selalu menjadi bahan tempat curhat atau bahan omel-omelan dari suporter atau dari manajemen," terangnya.
Jadi, lanjut dia, seorang kapten harus kuat mental dan bisa berkomunikasi dengan siapa pun.
Karier Hamka mengemban ban kapten memang sudah tinggi dalam penilaian dari jam terbang.
Semasa di Borneo FC, Arema FC, Persik Kediri, PSM Makassar, Sriwijaya FC, hingga Persita Tangerang, Hamka menjadi kapten. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hamka-hamzah-saat-bermain-untuk-psm-di-liga-1-musim-2017.jpg)