Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cak Nun

Najwa Shihab Sampai Bengong, Cak Nun Sebut Hina Jika ke Istana Penuhi Panggilan Presiden Berkuasa

Tokoh sentral Reformasi, Cak Nun mundur dari politik saat ini malah sebut Hina Jika ke Istana Penuhi Panggilan Presiden di depan Najwa Shihab

Editor: Mansur AM
Tribunnews
Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dan Najwa Shihab 

Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rakyat.

Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Bulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10 sampai15 kali per bulan bersama Gamelan Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40 sampai 50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung.

Kajian-kajian islami yang diselenggarakan oleh Cak Nun antara lain:

Jamaah Maiyah Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki.

Kenduri Cinta adalah salah satu forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender, yang diadakan di Jakarta setiap satu bulan sekali.

Penghargaan

Bulan Maret 2011, Emha memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa si penerima memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Data diri:

Nama: Emha Ainun Nadjib

Nama Lahir: Muhammad Ainun Nadjib

Lahir:Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia, 27 Mei 1953

Kebangsaan: Indonesia

Nama lain: Cak Nun

Dikenal atas: Tokoh intelektual Islam

Istri:

Neneng Suryaningsih (cerai 1985)

Novia Kolopaking (1997 – sekarang)

Anak:

Sabrang Mowo Damar Panuluh

Daftar Karya: 
Teater:

  1. Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto),
  2. Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
  3. Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern),
  4. Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
  5. Kemudian bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun),
  6. Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar),
  7. Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
  8. Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, serta Duta Dari Masa Depan.
  9. Dan yang terbaru adalah pementasan teater Tikungan Iblis yang diadakan di Yogyakarta dan Jakarta bersama Teater Dinasti
  10. Teater Nabi Darurat Rasul AdHoc bersama Teater Perdikan dan Letto yang menggambarkan betapa rusaknya manusia Indonesia sehingga hanya manusia sekelas Nabi yang bisa membenahinya (2012)

Puisi

  1. “M” Frustasi (1976),
  2. Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
  3. Sajak-Sajak Cinta (1978),
  4. Nyanyian Gelandangan (1982),
  5. 99 Untuk Tuhanku (1983),
  6. Suluk Pesisiran (1989),
  7. Lautan Jilbab (1989),
  8. Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),lalalaw
  9. Cahaya Maha Cahaya (1991),
  10. Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
  11. Abacadabra (1994),
  12. Syair-syair Asmaul Husna (1994)
  13. Essai/Buku
  14. Dari Pojok Sejarah (1985),
  15. Sastra yang Membebaskan (1985)
  16. Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
  17. Markesot Bertutur (1993),
  18. Markesot Bertutur Lagi (1994),
  19. Opini Plesetan (1996),
  20. Gerakan Punakawan (1994),
  21. Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
  22. Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
  23. Slilit Sang Kiai (1991),
  24. Sudrun Gugat (1994),
  25. Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
  26. Bola- Bola Kultural (1996),
  27. Budaya Tanding (1995),
  28. Titik Nadir Demokrasi (1995),
  29. Tuhanpun Berpuasa (1996),
  30. Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997),
  31. Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997),
  32. Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
  33. 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
  34. Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998),
  35. Kiai Kocar Kacir (1998),
  36. Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (Penerbit Zaituna, 1998),
  37. Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999),
  38. Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
  39. Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
  40. Menelusuri Titik Keimanan (2001),
  41. Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
  42. Segitiga Cinta (2001),
  43. Kitab Ketentraman (2001),
  44. Trilogi Kumpulan Puisi (2001),
  45. Tahajjud Cinta (2003),
  46. Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003),
  47. Folklore Madura (Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  48. Puasa Itu Puasa (Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  49. Syair-Syair Asmaul Husna (Agustus 2005, Yogyakarta; Penerbit Progress)
  50. Kafir Liberal (Cet. II, April 2006, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  51. Kerajaan Indonesia (Agustus 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress),
  52. Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006; Penerbit Kompas),
  53. Istriku Seribu (Desember 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress),
  54. Orang Maiyah (Januari 2007, Yogyakarta; Penerbit Progress,),
  55. Tidak. Jibril Tidak Pensiun (Juli 2007, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  56. Kagum Pada Orang Indonesia (Januari 2008, Yogyakarta; Penerbit Progress),
  57. Dari Pojok Sejarah; Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Mei 2008, Yogyakarta: Penerbit Progress)
  58. DEMOKRASI La Raiba Fih(cet ketiga, Mei 2010, Jakarta: Kompas)
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved