Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tau Manusia Bugis

Buku 'Tau, Manusia Bugis': Jenis Penyakit dan Penyebab Sakit (Lasa atau Doko) Orang Bugis

Di samping konsep tentang sehat, orang Bugis mengenal konsep tentang sakit yang dicandera dengan berbagai istilah, antara lain seperti: malasa, madoko

Editor: Edi Sumardi
SHUTTERSTOCK VIA KOMPAS.COM
Ilustrasi sakit. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Di samping konsep tentang sehat, orang Bugis mengenal konsep tentang sakit yang dicandera dengan berbagai istilah, antara lain seperti: malasa, madoko, malulokkong, makelo-kelo, dan malok (terluka).

Istilah tersebut mengacu pada konsep sakit yang berarti kondisi atau keadaan fisik maupun rohani seseorang yang sedang mengalami ketidak seimbangan.

Baca tulisan sebelumnya: Buku 'Tau, Manusia Bugis': Istilah dan Konsep Sehat Orang Bugis

Faktor intern penyebab ketidakseimbangan dalam diri manusia ialah karena adanya kondisi organ-organ tubuh manusia itu sendiri yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, di samping adanya pengaruh faktor keturunan.

Sebaliknya, faktor ekstern terdiri atas beberapa unsur masing-masing adalah berupa: serangan wabah penyakit; perubahan cuaca; gangguan makhluk halus; keracunan; praktek magis; kutukan dewata; dan berbagai unsur lingkungan termasuk buatan sesama manusia.

Berdasar kedua faktor penyebab tersebut, maka orang Bugis mengenal aneka ragam jenis penyakit.

Kendati pun demikian, setiap jenis penyakit dapat dimasukkan dalam salah satu di antara dua kategori, yaitu penyakit dalam dan penyakit luar.

Menurut pengistilahan orang Bugis, penyakit dalam disebut lasa ri laleng dan penyakit luar disebut lasa ri saliweng.

Kedua jenis penyakit tersebut biasa pula disebut lasa massobbu (penyakit tersembunyi; penyakit dalam) dan lasa talle (penyakit yang nyata; sakit luar).

Selain dari istilah-istilah tersebut, orang Bugis mengenal pula pengelompokkan jenis penyakit menjadi dua kategori, masing-masing: lasa ati (penyakit hati; kejiwaan; rohaniah) dan lasa tubuh atau lasa watakkale (penyakit jasmani; gangguan kese-hatan pada bagian tuhuh).

Kategori lasa ati, di samping lasa watakkale itu bersumber dari pemahaman atau pengetahuan orang Bugis tentang diri makhluk manusia yang terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, raga dan jiwa, lahiriah dan batiniah.

Perpaduan antara kedua unsur itulah yang menjelmakan sosok tubuh manusia sebagai  suatu  kesatuan  organisme, bersama dengan potensi yang di bawa sejak lahir ke dunia.

Tubuh manusia yang berbentuk ragawi (ale) menurut konsepsi budaya orang Bugis, merupakan hasil perpaduan dari empat zat alamiah, yaitu: tanah, air, angin, dan api, sedangkan aspek rohaniah dikenal sebagai sumangek (sukma).

Dalam hal ini tubuh manusia dipandang tidak lebih hanya sehagai tempat berdiam bagi sukma, untuk suatu jangka waktu tertentu.

Sumangek dan ale harus selalu dijaga agar tidak meninggalkan atau jauh dari wadah kasar (watang) yang berupa tubuh manusia.

Bila sungek meninggalkan watang, maka manusia akan menjadi lemah, sakit, tidak berdaya yang pada akhirnya sumangek juga dapat pergi membuat pemiliknya meninggal (mallinrung).

Setelah manusia mati, ale berpisah dari badan.

Ale ini pergi ke pammasareng, alam arwah tempat tinggal orang mati.

Ale kedua baru menjadi aktif pada saat kematian, dan berubah nama menjadi banapati atau alusuna.

Ale orang mati baru meninggalkan jasadnya setelah upacara kematian yang layak dilakukan.

Sebelumnya, ale itu masih menempati badan asalnya.

Bila tidak ada pemakaman atau upacara attomateng (upacara kematian) yang wajar, ale kembali menjadi anu tenrita (mahluk halus) berupa hantu atau lainnya.

Jika dia jadi hantu disebut bombo, jika dia menduduki kemuliaan di alam arwah maka dia disebut TorioloE.

Mengacu pada konsep ini, leluhur masyarakat Bugis sejak beberapa abad lampau telah memahami manusia sebagai alam kecil dan alam sekitar disebutnya alam besar.

Hakikat keberadaan alam dalam konteks ini, ditentukan coraknya oleh suhu udara.

Suhu udara itu sendiri ditandai oleh sifat panas dan dingin, dengan sumber yang berbeda pula.

Udara panas bersumber dari matahari, sedangkan udara dingin bersumber dari bulan.

Sejalan dengan itu kelangsungan hidup manusia ditentukan oleh tingkat kemampuan masing-masing individu atau kesatuan organisme untuk menyerap atau pun mengantisipasi pengaruh panas dan dingin menurut kepentingan pembinaan daya tahan dan stabilitas zat-zat alamiah yang ada di dalam diri setiap sosok tubuh.

Dalam hal ini masyarakat Bugis mengonsepsikan unsur nafas sebagai alat stabilisator yang berfungsi mengatur keseimbangan suhu badan, sekaligus menetralisir suhu udara yang terserap dari lingkungan alam sekitar.

Nafas, dengan demikian merupakan alat vital yang menghubungkan manusia sebagai mikrokosmos dan alam sekitar sebagai makrokosmos.

Hal ini berarti pula bahwa nafas adalah unsur utama yang menentukan kondisi sehat maupun kondisi sakit bagi seseorang makhluk manusia.

Potensi nafas sebagai alat stabilisator terhadap organ - organ tubuh maupun sentuhan lingkungan sekitar dapat ditelusuri antara lain melalui informasi di bawah ini:

Nassiturusiwi to panritae
Masengngengngi nappasek atauwe matannai essoe
nappasek abeowe inatannai ulengnge
Rekko dek ritu duae
Tessakke
engkana alang rnaraja e ertrengrtge alang baicu e
koto sarekko dek
matanna essoe enrengnge ulengnge
tessokku i paddisengeng syariak e
atau-i nappasekna

napotula
Tenna - poleiwi lasa cekke
Ten-naseddi-toi anu mamoso
Ten-nauttamai toi urang paragiagi
malolo pulana toi
na-raing pulama-to assek na tubunna.

Terjemahannya:

Disepakati oleh para orang bijaksana, menamakan nafas kanan itu sebagai matahari. Nafas kiri adalah bulan.

Jikalau keduanya tidak ada maka tidak akan sempurna keberadaan macrokosmos dan microkosmos.

Demikian pula kalau matahari dan bulan itu tidak ada, maka tidak bakal sempurnalah pengetahuan tentang hukum-hukum alam. Jikalau nafas itu berada di sisi sebelah kanan, niscaya akan menjadi penangkal penyakit dingin.

Juga tidak akan mempan oleh segala sesuatu yang berbisa.

Tidak akan terserang penyakit magik.

la pun awet muda, demikian pula organ tubuhnya senantiasa berdaya tahan tinggi.

Sesuai dengan konsepsi hubungan fungsional antara makrokosmos dan microkosmos tersebut, maka berbagai gejala penyakit seringkali dapat diantisipasi melalui pengendalian nafas yang disebut nappasek.

Malahan nappasek itu sendiri dapat digunakan sebagai alat untuk menimbulkan kekebalan maupun daya tahan tubuh dari serangan segala jenis bisa.

Pengendalian nafas itu sekaligus dapat bermanfaat sebagai penangkal terhadap pengaruh udara yang berkadar dingin, disamping memungkinkan seseorang tetap awet muda.

Sejalan dengan itu, terjadinya ketidakseimbangan nafas (nappase) antara nafas kanan dan nafas kiri mengakibatkan timbulnya suhu badan yang didominasi dan dipengaruhi oleh hawa panas, sehingga mendorong pula timbulnya gejala kurang sehat atau gejala sakit yang dikenal sebagai lasa pella (sakit karena panas).

Sebaliknya, apabila jaringan organisme didominasi oleh nafas kiri maka sosok tubuh tersebut akan mengalami kondisi kurang sehat atau pun sakit yang disebut lasa cekkek (sakit karena dingin).

Menyadari adanya pengaruh panas dan dingin yang dapat mendorong timbulnya penyakit, masyarakat Bugis sampai sekarang tetap mengenal sistem pengendalian nappasek (nafas), sebagai suatu cara pembinaan daya tahan tubuh manusia terhadap rangsangan dan pengaruh unsur alam, terutama suhu-panas dan dingin.

Sistem pengendalian nappasek yang pada hakikatnya merupakan sebagian pengetahuan tentang kosmogoni antara lain dasar-dasarnya adalah sebagai berikut :

Naiya rekko napolei-o lasa cekkek Tapari atau-i nappasek-ta

Kuammengngi nalisu mapella macekkek-e Naiya rekko napoleiyo lasa pella Tapariabeo-i napasetta

Kuammengngi nalisu macekkek mapella

Artinya:

Jikalau engkau terserang penyakit dingin maka tempatkanlah posisi nafasmu pada sisi sebelah kanan, supaya dingin itu kembali menjadi panas (hangat).

Jikalau engkau terserang penyakit panas maka alihkan posisi nafasmu ke sisi sebelah kiri supaya panas itu berubah menjadi dingin (sejuk).

Prinsip di atas menjelaskan pandangan orang Bugis terhadap suhu panas dan dingin sebagai sumber segala penyakit.

Sejalan dengan pandangan itu, mereka pun mengembangkan dasar-dasar pengobatan tradisional yang bertumpu pada sistem pengendalian nafas atau tepatnya disebut gaukenna nappasek-e (metode pengendalian nafas).(bersambung)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved