Breaking News:

Andaikan Buku Sepotong Sembako

Kondisi perpustakaan sekarang persis gudang: berantakan dan berdebu. Kian minim dikunjungi. Perpustakaan itu lebih tepat dijuluki ‘museum buku'.

hasim arfah/tribun-timur.com
Bachtiar Adnan Kusuma, Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Pusat 

Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma
Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Pusat

Andaikan buku sepotong sembako (sembilan bahan pokok), maka tak lengkaplah sebuah kehidupan baru bagi masyarakat jika belum menempatkan membaca sebagai bagian penting dalam hidupnya. Karena itu, buku, ibarat makanan, jika manusia haus dan lapar, maka ia mencari minuman dan makanan.

Nah, jika otak manusia haus dan lapar, maka makanan dan minumannya adalah membaca buku. Benarlah jika saat ini warga Kota Makassar masih saja menunggu hadirnya sembako bantuan sosial dari Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Sosial Kota Makassar.

Kalau saja sembako menjadi kebutuhan pokok warga masyarakat, maka warga berlomba-lomba mencari jalan bagaimana agar mereka memeroleh sembako.

Demikian pula, buku ibarat sembako bagi kehidupan masyarakat demi memenuhi kebutuhan nutrisi otaknya agar bisa menjadi warga Kota Makassar sebagai sebuah kota dunia.

Jika saja Proklamator Bung Hatta masih saja hidup, ia akan sedih dan prihatin melihat wajah pendidikan kita yang masih tinggal dari negara-negara lain di dunia. Bung Hatta adalah bapak pendiri bangsa Indonesia bersama Bung Karno yang dikenal memiliki kepedulian besar bagi tumbuhnya minat baca Indonesia.

Kecintaan Bung Hatta terhadap buku, membuatnya memboyong puluhan buku-bukunya ikut menyertai saat dibuang di Boven Digul. Apa perbedaan Bung Hatta dan Tan Malaka dalam menempatkan buku sebagai benda yang amat dihargainya? Kalau Bung Hatta berhasil membawa puluhan, bahkan ratusan buku-bukunya ke penjara. Sementara Tan Malaka ratusan buku-bukunya tenggelam di laut saat ia membawanya ke penjara.

Indonesia tak bisa dipungkiri bangsa yang belum gemar membaca, dan masih saja tetap di nomor urut sepatu jika kita sandingkan minat baca negara-negara Asean lainnya. Padahal membaca adalah kunci pembuka ilmu pengetahuan. Kalau malas membaca, apalagi tak bisa membaca, ini sebuah pertanda kedangkalan wawasan.

Wawasan dangkal, maka pendidikan rendah. Kalau pendidikan rendah, kemiskinan mengancam. Yang terjadi adalah semacam lingkaran setan keterpurukan bangsa ini. Kalau minat baca rendah, maka pasti ada efek domino setelahnya.

Padahal, buku itu gudangnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan gudangnya buku. Artinya perpustakaan itu ‘maha gudangnya’ ilmu. Tapi coba kita seksamai kondisi perpustakaan sekarang betul-betul menjadi gudang ilmu. Kondisinya memang persis gudang, berantakan dan berdebu. Ironisnya, minim pengunjung dan lebih tepat dijuluki ‘museum buku”.

Halaman
12
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved