Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kolom Hayyun Zsavana

Masjid Nabawi, Suatu Malam; Nukilan Sejarah Perintah Salat Tarwih

Masih disebut Qiyam Ramadhan. Nama Tarawih untuk shalat itu baru muncul kemudian. Lebih dari 10 tahun sesudahnya. Di masa Khalifah Umar bin Khattab.

Tayang:
Editor: Thamzil Thahir
dok_pribadi
Hayyun N Zsavana 

 Di malam berikutnya Nabi melaksanakan shalat yang sama. 

 Masih Di Masjid Nabawi.  Jumlah sahabat yang ikut berjamaahpun semakin banyak.  

 Keesokan harinya.  Shalat yang tak biasa itu,  tak pelak lagi menjadi pembicaraan di antara para sahabat.  

Menjadi topik yang dibicarakan dari mulut ke mulut.  

 Hingga pada malam ketiga atau keempat.  Para sahabat kembali berkumpul. 

Dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Tapi mereka kecele.  

Malam itu rupanya Nabi tidak datang ke mesjid.  

Merekapun terpaksa melaksanakan shalat tanpa kehadiran Nabi.  

Di pagi harinya barulah Nabi menemui mereka.  

Menjawab rasa penasaran segenap sahabatnya,   Nabi lalu berkata: 

"Saya mengetahui apa yang telah kalian lakukan semalam. Tapi saya sengaja tidak datang shalat jamaah  bersama kalian.  Tak satupun  yang menghalangi saya.  Kecuali suatu kekhawatiran.  Jangan sampai shalat itu ditetapkan menjadi shalat wajib.  Itu pasti akan memberatkan kalian". 

Demikian dinukilkan dari Syaikh Wahbah al-Zuhaili,  al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikri,  1985), h.  72.

Peristiwa itu terjadi  pada tahun ke-2 Hijriah. 624 Masehi. 

Di usia Nabi yang ke-53. Di hari ke-23 Ramadhan. 

Inilah peristiwa yang menandai pelaksanaan shalat Tarawih. Untuk pertama kalinya. Saat itu shalat Tarawih belum lagi bernama.  

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved