Citizen Reporter
Menunggu La Galigo Kembali ke Indonesia
Bagaimana membawa Sureq Galigo ini balik ke Indonesia? Epik terpanjang di daerah bugis ini saat ini tersimpan rapi di bawah keamanan ketat di Eropa.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ina Maharani
Laporan: Dian Aditya Ning Lestari, warga Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - La Galigo merupakan naskah tradisional yang ada di Sulawesi Selatan. Ia berada di dunia sejak 18 atau 20 abad lalu. Tahun 2004, 2006, 2011, La Galigo pernah dipentaskan di New York, Jakarta, dan Makassar. Namun, saat ini La Galigo berada di mana? Jawabannya berada di Universitas Leiden.
Museum Universitas Leiden memiliki cara tersendiri menyimpan naskah ini yakni di bawah suhu tetentu agar naskah tidak rusak. Ia juga memiliki cara tersendiri memegang naskah yakni peralatan khusus. Bagaimana membawa Sureq Galigo ini balik ke Indonesia? Epik terpanjang di daerah bugis ini saat ini tersimpan rapi di bawah keamanan ketat di Eropa.
La Galigo merupakan sastra klasik terpanjang di dunia. Ia bercerita tentang petualangan Sawerigading, We Cudai, dan tokoh-tokoh lainnya. Saat ini ia tersimpan di KITLV Leiden dan terdiri dari 6000 halaman dan 300.000 baris. Selain naskah asli, naskah tersebut direkam dalam bentuk digital oleh Universitas Leiden.
Hal ini karena Leiden telah memiliki teknologi digitalisasi naskah tersebut. Ia menceritakan Petualangan Sawerigading mengarugi dunia. Ada berbagai hal yang terjadi di petualangan tersebut. La Galigo telah di pentaskan di lebih dari 20 negara di dunia.
Bissu yang mengikuti pementasan tersebut adalah Puang Matoa Saidi. Sutradara dari pementasan tersebut adalah Robert Wilson.
Museum/Perpustakaan Koninklijk Instituut voor taal, land, en volkunde (KITLV) di Leiden Belanda memiliki teknologi yang sangat tinggi untuk menyimpan naskah tersebut.
Jika anda memiliki akses untuk memegang naskah asli, anda harus menggunakan pinset khusus sehingga naskah terjaga kualitasnya. Naskah disimpan di suhu dingin tertentu agar tidak merusak naskah. Yang bisa mengaksesnya adalah peneliti khusus dengan izin, misalnya dari Universitas Leiden.
Bagaimana membawa Sureq Galigo ini ke Indonesia? Hal ini cukup sulit karena Indonesia tidak memiliki teknologi tinggi seperti Universitas Leiden.
Jangan sampai kita terjebak romantisasi ingin membawa naskah tersebut, tanpa menyadari bahwa sebenarnya kita belum memiliki teknologinya. Naskah tersebut bisa dibawa kesini, namun nanti 10-20 tahun kedepan jika kita sudah memiliki teknologi yang sama dengan Universitas Leiden.
Pada tahun 2004 La Galigo di pentaskan di Amerika, Asia, dan Eropa oleh sutradara Robert Wilson diadaptasi oleh Rhoda Gauer. Ini cukup untuk menyuarakan La Galigo ke publik internasional lebih luas. Namun ini belum akan membawa Sureq Galigo tersebut ke tempat asalnya.
Pentas ini dilakukan setelah riset mendalam di Sulawesi Selatan dengan Puang Matoa Saidi membawakan sebagian cerita. Dengan lighting yang baik dan kerjasama dengan berbagai composer di Indonesia, pentas berlangsung sukses. Namun pertanyaannya sudahkah kita lakukan yang baik buat Sureq Galigo?
Sureq Galigo merupakan surat yang suci dan di anggap keramat oleh masyarakat Bugis kuno. Bagaimana menghormati naskah tersebut?
Apakah sudah sesuai keinginan Puang Matoa Saidi? Banyak masyarakat Indonesia dan Sulawesi Selatan yang menginginkan naskah tersebut pulang. Namun apakah kita sudah siap menyambut naskah tersebut dengan teknologi tinggi dan masyarakat yang siap menghargai budaya?
Beberapa referensi mengenai La Galigo adalah Lontara Project dan La Galigo Music Project oleh Louie Buana. Louie Buana, mahasiswa S2 Universitas Leiden yang memang meneliti La Galigo mengatakan “jika teknologi kita tidak siap menerimanya, maka naskah tersebut akan rusak di sini.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/malam-ramah-tamah-penutupan-psbm-ke-19-2.jpg)