Urgensi Social Media Distancing

Media sosial membuat kita latah dengan apa yang dilakukan oleh teman kita di media sosial

Urgensi Social Media Distancing
DOK
Excelsia Ramadhany Hasrullah, Alumni Fakultas Pertanian Unhas dan Alumni Program Six University Initiative Japan Indonesia-Service Learning Program

Oleh: Excelsia Ramadhany Hasrullah
Alumni Fakultas Pertanian Unhas dan Alumni Program Six University Initiative Japan Indonesia-Service Learning Program.

Pandemik virus corona (Covid-19) merupakan pemberitaan yang sedang ‘panas’ dibicarakan oleh semua media maupun masyarakat dunia. Data itu dikutip dari www.worldometers.info/coronavirus, pada Minggu (28/3/2020) hingga pukul 10.17 WITA, tercatat ada 199 negara dan 596.779 kasus positif virus corona (Covid-19) di seluruh dunia. Hal ini membuat kita cemas karena semakin hari tingkat penyebaran virus corona.

Sejumlah cara dalam upaya menekan penyebaran virus pun terus digalakkan, termasuk system Lockdown yang telah diterapkan beberapa negara yang membuat semua orang harus berdiam diri di rumah yang membuat negara tersebut bak ‘kota mati’. Selain itu social distancing juga upaya dari WHO untuk menekan penyebaran virus corona di dunia. Social distancing diterapkan untuk tetap berjaga jarak dengan orang lain yang ditemui.

Hal ini membuat negara Indonesia lebih prefer untuk memilih upaya social distancing ketimbang penerapan sistem lockdown. Hal ini yang menjadi pertimbangan pemerintah agar roda perekonomian Indonesia tetap berjalan.

Akan tetapi beberapa hari yang lalu, WHO mengumumkan untuk menggantikan frasa dari social distancing menjadi physical distancing. Physical distancing itu sendiri merupakan tindakan menjaga jarak aman antarindividu. Diubahnya istilah tersebut, agar orang-orang tetap saling berkomunikasi meskipun terdapat jarak fisik di antara mereka.

Sejumlah orang ada yang pro dan kontra dengan ditetapkan system ini. Contoh kecilnya adalah semua pegawai baik negeri maupun swasta diliburkan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Selain pegawai, semua siswa sekolah diliburkan dan juga telah dihapuskan UN untuk siswa yang akan mengakhiri masa studinya.

Hal ini membuat semua orang tetap berdiam di rumah saja hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Selama berdiam di rumah, pasti setiap orang hanya melakukan aktivitas seperti tidur, menonton tivi dan bermain media social. Pernah tidak terpikirkan oleh kita bahwa sebenarnya yang membuat kita menjadi worry dan panik seperti ini adalah efek dari media social?

Pemberitaan tentang virus corona yang terlalu ‘hiperbola’ yang membuat kita sebagai penonton dan netizen social media takut akan virus corona ini. Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh Wali Kota Bogor Bima Arya yang positif terinfeksi virus corona. “Virus ini menyerang hati dan jiwa sebelum pernapasan dan paru-paru. Gua merasa baikan setelah social media distancing. Hari kedua di RS. Social media itu ICU Raksasa. Runtuh mental semua orang kalau digempur berita Covid-19. Drop imunitas” kata Bima Arya seperti dalam pesan yang beredar.

Dari pernyataan Bima, dia merasa lebih nyaman dan baikan setelah melakukan ‘social media distancing’ yang dia terapkan dalam proses penyembuhannya.
Saat ini, social media memang sangat memberikan impact yang besar bagi kehidupan kita. Apalagi kaum milenial yang lebih berfokus ke social medianya dibandingkan dengan real life-nya. Social media memberikan kita banyak info terupdate dari semua penjuru dunia. Malah terkadang kita lebih awal mengetahui berita terupdate dibandingkan berita-berita yang disiarkan di televisi atau media mainstream. Ini merupakan positive impact dari penggunaan social media.

Akan tetapi di sisi lain, social media bisa membuat mental diri kita menjadi runtuh karena melihat informasi di social media. Mulai dari kasus virus corona ini yang sudah tersebar di mana-mana. Bahkan di pelosok kabupaten pun sudah ada yang terinfeksi ini membuat kita sebagai pengguna sosial media menjadi ‘takut’ dan membuat diri kita terpacu untuk terhindar dari virus ini.

Selain itu juga, social media membuat kita ‘latah’ dengan apa yang dilakukan oleh teman kita di media sosial. Contohnya banyak teman saya membeli banyak perlengkapan medis seperti sarung tangan lateks, masker, anti septic hingga membeli vitamin yang berlebihan. Ini bisa dikatakan dengan istilah panic buying.

Hal ini membuat kita menjadi ikut-ikutan untuk melakukan hal yang sama dilakukan oleh orang-orang disekitar kita. Untuk itu, social media distancing juga sangatlah penting untuk kita agar kita bisa tetap berpikir positif dan tetap menjaga mental kita tetap sehat agar tidak terpacu dengan pemberitaan yang membuat kita panik.

Jadi, meskipun bekerja dan belajar #dirumahaja seharusnya kita sebagai masyarakat agar bijaksana dalam memilih dan memilah informasi sehingga tidak panik dan tetap optimistis. Please, make sure berita virus corona yang kita dapatkan itu tidak hoaks. Saring before sharing!

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved