Perempuan dan Patologi Sosial

Salah satu cara untuk membebaskan perempuan dari belenggu diskriminasi adalah lewat pendidikan. Itulah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia

Perempuan dan Patologi Sosial
DOK
Khalil Nurul Islam, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Oleh: Khalil Nurul Islam
Alumni UIN Alauddin Makassar

“Akulah Padmini, perempuan perkasa yang berjalan di atas bumi sambil tertawa dan bertanya pada setiap lelaki mengapa mereka tak jua memahami bahwa perempuan juga punya harga mati?” (Trie Utami, Dunia Padmini, halaman v)

Hampir setiap hari beranda kita diisi oleh pemberitaaan kasus kekerasan terhadap perempuan, apakah itu berupa pelecehan, pembunuhan, pemerkosaan, dan jenis kekerasan lainnya. Pertanyaannya kemudian mengapa hal ini bisa terjadi? Saat berita kekerasan terhadap perempuan hanya dianggap sebagai fenomena biasa, maka di situlah masalah seriusnya.

Berdasarkan data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tahun 2019 sebesar 406.178, jumlahnya meningkat dari tahun sebelumnya 348.466 lasis. Sebagian besarnya bersumber dari kasus perkara yang ditangani oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Agama. Jenis kekerasan yang paling menonjol adalah KDRT/RP (Ranah Personal) sebesar 71% (9.637), kekerasan terhadap perempuan di ranah komunitas atau publik sebesar 28 % (3.915), dan kekerasan terhadap perempuan di ranah negara sebesar 0.1% (16). (Sumber: Komnas Perempuan, Korban Bersuara, Data Bicara, Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai Wujud Komitmen Negara, 2019. Halaman 1).

Ada beberapa faktor sehingga hal itu dapat terjadi. Di antaranya yang menjadi faktor kekerasan terhadap perempuan, bukan saja di Indonesia akan tetapi di seluruh dunia adalah budaya patriarki yang telah mengakar. dimana budaya ini lebih pro terhadap laki-laki dan memperlakukan perempuan secara tidak adil.

Stigma yang telah dibangun dari awal juga menjadi faktor kekerasan terhadap perempuan, yaitu perempuan dijadikan sebagai objek. Perempuan juga tidak banyak yang menyadari akan hal ini.

Mindset atau pola pikir yang telah dipolarisasi juga menjadi penyebabnya, di mana sifat perempuan selalu diidentikkan dengan sifat lembut, halus, dan lemah.

Mindset yang telah dibangun sejak mereka lahir, kemudian membawa mereka tumbuh sesuai dengan mindset yang ditanamkan kepada mereka. Sehingga di ranah publik seringkali perempuan didiskriminasi. Misalnya dalam pembagian job, dengan asumsi bahwa perempuan tidak bisa bekerja secara profesional disebabkan terlalu menggunakan perasaan dibandingkan rasio.

Tidak mudah untuk mengubah paradigma suatu kelompok masyarakat yang telah terpengaruh oleh budaya patriarki. Namun, secara perlahan suatu kelompok masyarakat yang terpengaruh budaya patriarki dapat diatasi dengan melakukan perubahan-perubahan, baik budaya yang kontra terhadap perempuan sampai kepada perubahan paradigma pikir, sehingga terjadi kemajuan.

Di Indonesia, budaya patriarki dulunya sangat kental hingga muncul sosok RA Kartini yang gigih memperjuangkan hak kaum perempuan telah menghasilkan kemajuan yang positif terhadap kaum perempuan di Indonesia sampai saat ini. Namun, tetap saja budaya itu masih ada.

Halaman
12
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved