Golkar Makassar

Ketua Golkar Makassar: Pak Nurdin Halid Masih Dibutuhkan di Sulsel

"Sosok Pak NH (Nurdin Halid) kita butuhkan. Kita kembalikan ke beliau untuk memilih," kata Aru sapaannya

Ketua Golkar Makassar: Pak Nurdin Halid Masih Dibutuhkan di Sulsel
abd azis/tribun-timur.com
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kota Makassar Farouk M Beta (Aru) bersama Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel HAM Nurdin Halid 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kota Makassar Farouk M Beta (Aru) mengakui sosok Nurdin Halid dibutuhkan di Sulsel.

"Sosok Pak NH (Nurdin Halid) kita butuhkan. Kita kembalikan ke beliau untuk memilih," kata Aru sapaannya terkait sikap Nurdin Halid memilih jabatan ketua Golkar Sulsel atau Wakil Ketua Umum DPP Golkar, Minggu (9/2/2020).

Sebelumnya, Pelaksana tugas (Plt) DPD I Partai Golkar Sulsel AM Nurdin Halid (NH) menyatakan akan mencari waktu untuk bertemu Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebelum mengambil keputusan. Apakah tetap di Sulsel sebagai ketua Golkar atau kembali ke DPP sebagai wakil ketua.

"Saya akan berdialog dengan beliau termasuk minta saran dan pendapat beliau. Apapun keputusan ketum pasti kita jalankan," kata Nurdin Halid.

"Kalau pak ketum mengatakan Nurdin Halid dibutuhkan ditingkat nasional berarti kita lakukan musyawarah luar biasa (musdalub) untuk memilih pengganti saya," NH menambahkan.

Ia menjelaskan bahwa politik itu idealisme, politik itu seni, politik itu kepentingan, tidak terbalik.

"Ada orang mengatakan politik kepentingan, tapi kalau saya itu tidak benar. Saya bukan sombong, tapi saya orang dinamis, orang dinamis itu punya inisiatif, kreatif, dan selalu berinovasi," jelasnya. (*)

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

(*)

"Saya tidak mungkin menerima jabatan jika tidak terpenuhi dua poin ini. Apa itu, idealisme dan seni, kepentingan itu terakhir bagi saya," katanya menambahkan lagi.

Ia menjelaskan, mengapa mengedepankan seni dalam berpolitik.

"Untuk apa kita berpolitik atau mengambil sesuatu misalnya jabatan kalau tidak ada seninya, jiwa terganggu, tidur kurang, pikiran bisa stres. Untuk apa coba," ungkap NH

Penulis: Aditya Mulyawan
Editor: Ansar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved