Sulsel Masih Butuh Pemimpin

Opini Hasrullah: Kontemplasi Bedah Buku Madjid Sallatu, Hadirnya Marwah Prof Ahmad Amirudddin

Kegelisahan Pemikiran Pak Madjid Sallatu sangat mendasar karena beliau adalah anak didik dan pernah diberi amanah Wakil Bappeda pada saat itu

Opini Hasrullah: Kontemplasi Bedah Buku Madjid Sallatu, Hadirnya Marwah Prof Ahmad Amirudddin
Desy Triana Aswan
Akdemisi Universitas Hasanuddin Dr Hasrullah saat menyambangi Tribun Timur, Jl Cendrawasih No 430 Makassar Jumat (5/4/2019) petang. 

Oleh
Hasrullah
Staf Pengajar Fisip Unhas

TRIBUN-TIMU.COM, MAKASSAR - Ada pemikiran Brilian yang dikemukakan Prof Ahmad Amiruddin soal kepemimpinan, “Berilah kepercayaan kepada setiap orang, sampai orang itu sendiri membuktian dirinyatidak bisa dipercaya”(Madjid, hal. 338, 2019).

Diskusi dan bedah buku “Sulawesi Selatan Dalam Lintasan Perspektif” yang dilaksanakan Baruga Angin Mammiri Rumah Jabatan Walikota Makassar (Sabtu/1/2/2020).

Diskusi makin berkualitas penuh dengan narasi kritis dan cerdas karena dihadiri para tokoh dan aktivis sehingga dapat disimpulkan bahwa buku yang ditawarkan AM Sallatu menimbulkan diaspora, mulia dari:leadership, konsep kewilayahan, peta kekisruaan praktik KKN, otak cerdas, hingga hak angket.

Yang menarik dari diskusi buku, ketika munculnya penaggap diantaranya Prof Basri Hasanuddin, Prof Husni Tanra, Taslim Arifin, Tadjuddin Parenta, dan penanggap para aktivis yang meruah bahwa Sulawesi Selatan membutuhkan pemimpin sekaliber Prof Ahmad Amiruddin.

Ciri Strong Leadrship (meminjan pemikiran AM Sallatu, hal. 66) Pak Amir (Prof Ahmad Amiruddin) sangat paham dan menguasai, apa yang akan dicapainya.

Kegelisahan Pemikiran Pak Madjid Sallatu sangat mendasar karena beliau adalah anak didik dan pernah diberi amanah Wakil Bappeda pada saat itu, dan pemimpin adalah Prof Ahmad Amiruddin. Maka konsepsi dan karakteristik pemimpin sangat paham baik kapasitas dan konsep pembangunan yang ditawarkan.

Kuatnya persoalan leadership ini, Kak Taslim Taslim secara lantang mengungkap mengamini pemikiran Prof Basri Hasanuddin dan Pak Madjid bahwa Sulsel sejatinya “dinakhodai” pemimpin. Marwah seorang pemimpin itu mempunyai ; (1) Komunikasi yang baik dengan rakyatnya, dan (2) Mengetehui keinginan rakyatnya. Apa yang dilakonkan Pak Amir sebagai akademi yang diberi amanah sebagai gubernur Sulsel, mampu melahir konsep yang besar yaitu Tri Konsep : (1) Perubahan pola pikir, (2) Perwilayahan komoditas, (3) Petik olah jual.

Dari strong leadership Pak Amir, masyarakat kita adalah merubah min set untuk membangun, dan berpikirnya ke depan diawali dengan kreatufitas dan inovasi. Jangan sampai terjadi pemerntahan di Sulsel dikelola dengan mental “pemborong dan kontraktor”. Pendekanan pembangunan seperti bukan pemimpin daerah karena ada kekuasaan ada uang maka pekerjaan pembengunan infrastruktur cukup dikelola oleh kepala dinas, pemborong, dan kontraktor.

Essai Pak Madjid bagian Perwilayahan secara kritis menawarkan kepada kita bahwa konsistensi dan perubahan pola piker bahwa Sulsel itu berbasis pertanian dan benar-benar dioptimalkan pemenfaat sumber daya alam. Inilah para pemimpin kita, ada konsep perwilayahan yang sangat strategis berdasarkan potensi alam, pemikiran Pak Amir tidak melanjutkan program unggulan yang sudah terpetakan dengan baik. Sementara itu, penguasa yang ada di depan mata kita “merasa dirinya the next leader Amiruddin”.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved